TUJUAN WISATA

Mengenal pasar nomadic nan menarik

Ilustrasi pasar tradisional.
Ilustrasi pasar tradisional. | Edmund Lowe Photography /Shutterstock

Pernahkah membayangkan setiap minggu berbelanja sekaligus berwisata di tempat yang berbeda-beda?

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah mencoba mewujudkan hal itu lewat uji coba konsep baru Pasar Karetan, Semarang. Mereka mengadopsi konsep nomadic market sebagai bagian dari destinasi digital. Dengan begitu, lokasi Pasar Karetan dapat berpindah-pindah tempat.

Mei Kristianti, Juragan Pasar Karetan, dalam rilis media yang dimuat di situs Genpi, mengatakan, Minggu (12/8) Pasar Karetan akan pindah ke Sam Po Kong, di Simongan, kota Semarang. Pemindahan ini juga bertepatan dengan Festival Cheng Ho, yang berpusat di Sam Po Kong, Semarang.

Mengutip detikTravel, dipilihnya Festival Cheng Ho di Sam Poo Kong sebagai tempat uji coba destinasi digital Pasar Karetan ini adalah karena diperkirakan ribuan orang akan datang menghadiri festival tersebut.

Akan ada berbagai acara, termasuk panggung besar yang akan menampilkan beberapa atraksi budaya dan teatrikal. Festival Cheng Ho memang sudah menjadi wisata budaya yang terkenal, banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, juga didukung Wonderful Indonesia.

Di sana, beberapa pedagang yang diboyong dari Pasar Karetan akan membuka gerai dan berjualan. Menurut Mei, pihak GenPI akan mengumumkan pemindahan lokasi setiap minggu, sesuai dengan program yang dibuat GenPI.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi dan Media, Don Kardono dalam Liputan6.com menjelaskan pemindahan lokasi Pasar Karetan yang disesuaikan dengan program dari Generasi Pesona Indonesia ini disebabkan karena Pasar Karetan merupakan destinasi digital yang berbasis pelanggan.

Para pelanggannya adalah warganet yang berinteraksi dan aktif di media sosial, melalui berbagai platform, seperti Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Line, WhatsApp dan sebagainya.

“Dalam nomadic tourism, ada 3A, hal sesuai dengan pengembangan destinasi. Yakni nomadic amenity, seperti glamcamp dan homepod. Lalu nomadic access, seperti heli, seaplane dan caravan atau penginapan di mobil. Dan nomadic attraction, seperti pertunjukan yang bisa berpindah-pindah,” tambah Don Kardono.

Itulah sebabnya, Pasar Karetan akan dicoba menjadi Nomadic Attraction, bisa berpindah tempat, dan mengajak warganet menemukan banyak hal baru di lokasi yang berbeda. Kendati pusatnya tetap di Radja Pendapa Camp, Meteseh, Boja, Kendal, Jawa Tengah.

Destinasi Digital bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, karena para pesertanya juga sangat dinamis, bermukim di media digital dan digerakkan oleh media sosial. “Kami uji coba Pasar Karetan yang sudah memiliki brand di wilayah Semarang, Kendal dan Jawa Tengah,” lanjut Don.

Credit to @udinhoubahouba - "Kuliner pasar karetan" Kuliner unik tempatnya asik dan sederhana tapi tetep bagus karena menggunakan konsep tradisional ,jual beli kuno di dusun segrumung, boja deket taman mijen. Kalo mau beli makanan atau minuman harus pakai girik, uang tunai gak laku...apalagi atm hehe jadi jangan sok sok an bayar pakai gesek 😀 Dapet satu foto #humaninterest ibu-ibu yang lagi jualan di pasar karetan. Sebenernya banyak sih ibu-ibu yang jualan, tapi banyak pula yg malu kalo di foto padahal sudah minta izin. Buat yang suka makanan dan jajanan tradisional banyak pilihan menu yang di tawarkan dengan harga murah meriah, di jamin rasanya uwenak 👍 Dan yang suka berak habis sarapan/ makan tenang ada kamar mandi yang super bersih, pengalaman 😁 With #canon #eos #1300d F4.5 37mm 1/100s iso-400 _______________________________ #Boja #radjapendapa #pasarkaretan #genpijateng #destinasidigital #exploreboja #seputarboja #pasardigital #wisata boja #canon.id #canonindonesia

A post shared by pasar karetan (@pasarkaretan) on

Pasar Karetan merupakan pasar unik yang dikembangkan oleh masyarakat setempat bersama GenPI Jawa tengah menjadi wisata atraktif. Kompas.com menyebutkan, Pasar Karetan terletak di tepi hutan karet milik PT PTPN, Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Dan berjarak sekitar 15 kilometer dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

Dengan akses yang tidak sulit dijangkau karena sudah tersedia di dalam google maps, pasar yang dikelilingi hutan karet ini jadi satu wisata unik. Para wisatawan dan pengunjung dapat menikmati hutan karet, sambil menikmati aneka makanan, minuman serta jajanan tempo dulu atau khas daerah tersebut dengan harga terjangkau dan dilayani oleh para penjual yang mengenakan pakaian tradisional setempat.

Di sana juga terdapat arena permainan tradisional seperti egrang, ayunan dan sebagainya. Tidak lupa juga beberapa titik yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan swafoto.

Jika berhasil, konsep nomadic market ini akan membuat lebih banyak lagi tempat-tempat destinasi wisata di daerah, yang digaungkan melalui nomadic attraction. Hal ini dapat memperkuat promosi daerah wisata yang sudah lama ada.

“Sifatnya yang lincah, dinamis dan digital ini menjadi salah satu kekuatan baru destinasi digital dalam mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing,” tambah Don.

Selain Pasar Karetan, destinasi digital lain yang akan beroperasi adalah Pasar Maya Asih di Kuningan, Jawa Barat, Pasar Sago Payakumbuh, Pasar Lambung Aceh, Pasar Kakilangit Jogja, Pasar Baba Boen Tjit Palembang, Pasar Menes Bantet, Pasar Kampung Markissa Kota Tangerang, dan Pasar 1.000 Batoe Lampung

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR