KULINER NUSANTARA

Mengenal sejarah cendol

Cendol
Cendol | Abu Thoha /Shutterstock

Cendol masuk daftar 50 pencuci mulut versi CNN. Namun, sajian hijau ini disebut berasal dari Singapura. Dari mana sebenarnya Cendol berasal?

Cendol terbuat dari tepung hunkwe atau tepung beras, pembuatannya dicampur dengan daun pandan dan suji memberikan warna hijau dan wangi.

Adonan cendol dicetak panjang-panjang, bisa sudah matang siap disajikan bersama es serut, santan, dan gula merah cair.

Cendol adalah hidangan penutup yang familier bagi masyarakat Indonesia. Namun, dalam daftar 50 makanan penutup (dessert) terbaik di dunia versi CNN, yang terpilih adalah cendol khas Singapura.

Ditulis CNN, cendol yang manis, lembut, dan dingin biasa diminum warga Singapura pada sore yang panas. Cendol dengan santan dan gula aren ini menjadi menu favorit di restoran tepi pantai.

"Berbagai versi pencuci mulut ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, tetapi dengan tambahan satu sendok kacang merah manis, cendol versi Singapura sangat klasik dan menggoda," tulis CNN.

Perdebatan soal asal-muasal cendol kemudian menjadi perbincangan di media sosial.

Masyarakat Indonesia, percaya cendol berasal dari Indonesia. Namun, Singapura juga memang punya cendol. Tak sampai di situ, cendol juga konon berasal Malaysia, karena gula yang digunakan adalah gula Malaka.

Cendol banyak ditemukan di Indonesia. Sebut saja Cendol Elizabeth yang kesohor dari Bandung dan dawet ayu khas Jawa Tengah.

Tetapi cendol juga diyakini merupakan minuman dari negara lain. Sebenarnya dari manakah cendol berasal?

Murdijati Gardjito, peneliti dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada mengatakan, cendol sebenarnya sudah ada sejak tahun 1323 pada masa Kerajaan Majapahit. Sebagai kerajaan terbesar di Indonesia, Majapahit pun melakukan ekspansi besar-besaran hingga Singapura.

"Saya menduga dawet (cendol) ini dibawa pasukan Majapahit yang ekspansi ke sana, bersama juga dengan leksa. Cuma karena adanya akulturasi, orang menyebutnya laksa," tutur Murdijati.

Menurut penjelasan Murdijati, dawet menjadi salah satu minuman yang selalu hadir dalam berbagai acara di Jawa. Pada momen pernikahan, dawet dianggap sebagai simbol agar rezekinya lancar. Sedangkan saat melahirkan, dawet biasa disuguhkan dengan harapan bayi bisa keluar dengan mudah layaknya dawet yang dicetak.

Penyebutan dawet lebih umum di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan di Jawa Barat, biasa disebut cendol. Kata Murdijati, nama cendol berasal dari bentuknya saat keluar dari alat cetak. "Ndol-ndol gitu," katanya.

Selain penyebutan, jenis cendol juga banyak. Perbedaan bisa berasal dari bahan, misalnya tepung beras, sagu, dan hunkwe. Belum lagi tambahannya, bisa nangka, durian, ketan hitam, dan tapai.

"Cendol itu banyak ditemukan di Asia Tenggara, banyak versinya, komposisinya beda. Cendol ada di Indonesia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam," ujar pakar kuliner terkenal Indonesia, William Wongso, saat dihubungi Beritagar.id , Selasa (04/12/2018).

"Di Singapura, cendol hanya menjadi kondimen dari es campur, disajikan dengan kacang merah, sedangkan di Indonesia, cendol berdiri sendiri, pakai nangka sebagai pewangi," jelas ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia ini.

Hingga kini belum diketahui secara pasti dari mana asal cendol. Kata William, hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu diributkan, apalagi memang tak ada bukti bahwa cendol merupakan makanan asli Indonesia.

"Enggak usah heboh-heboh, tunjukin aja ke dunia kita punya banyak varian cendol. Indonesia tiap daerah punya cendol dengan kekhasan masing-masing," saran William.

Salah satu varian cendol unik dari Indonesia ialah dawet ireng khas Purworejo, Jawa Tengah. Rata-rata cendol berwarna hijau, dari daun pandan dan suji, sedangkan dawet ireng berwarna hitam pekat.

Warna hitam pada cendol ini berasal dari abu bakar jerami atau abu merang dicampur dengan air. Sedangkan untuk penyajiannya sama seperti cendol biasa, yaitu dengan santan dan gula merah.

BACA JUGA