TUJUAN WISATA

Menilik Api Abadi Mrapen di Grobogan

Api Abadi Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah.
Api Abadi Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah. | Rosidi /Beritagar.id

Api Abadi Mrapen, mungkin tidak setenar destinasi wisata lain di Jawa Tengah. Sebut saja Kota Lama, Lawang Sewu dan Sam Po Kong (Semarang), Tugu dan Malioboro (Yogyakarta).

Pun demikian, tempat wisata yang berada di Jalan Raya Semarang – Purwodadi KM 26 ini menyimpan sebuah kisah dan jejak historis yang sangat menarik. Termasuk menjadi ‘’saksi’’ dari penyelenggaraan berbagai event olahraga akbar yang digelar di negeri ini.

Rubiatno, salah satu juru kunci Api Abadi Mrapen dalam buku sederhana karyanya, Menyingkap Peninggalan Sunan Kalijaga di Mrapen, menulis, bahwa pada masa Prabu Brawijaya V, Kerajaan Majapahit runtuh sekitar tahun 1478 M. Salah satu penyebabnya karena serangan Prabu Girindrawardhana dari Keling, Kediri.

‘’Kerajaan Majapahit pada giliran selanjutnya dapat dikuasai oleh Kerajaan Demak Bintoro. Benda-benda Kerajaan Majapahit pun dibawa ke Kerajaan Demak, dipimpin oleh Sunan Kalijaga,’’ terangnya saat ditemui Selasa (11/12/2018).

Saat Sunan Kalijaga dan rombongan menempuh perjalanan jauh dari Majapahit ke Demak itu, sampai di suatu tempat Sunan Kalijaga memutuskan untuk beristirahat sejenak, demi melepas lelah, lapar dan haus.

Namun karena bekal yang dibawa masih berupa bahan mentah, sehingga dibutuhkan air dan api untuk memasak. Dan yang menjadi masalah, tempat untuk melepas lelah itu, sangat jauh dari permukiman warga.

‘’Sunan Kalijaga dan beberapa anggota rombongan pun berdoa kepada Allah supaya mendapatkan api dan air untuk keperluan memasak. Sembari berdiri, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah. Ketika dicabut, atas izin Allah Swt., keluarlah api dari tanah tersebut. Dan sedikit ke timur, Sunan Kalijaga kembali menancapkan tongkatnya, setelah dicabut, keluarlah air yang sangat jernih,’’ terangnya.

Itulah sedikit ihwal mengenai adanya Api Abadi Mrapen berdasarkan kisah dalam buku yang ditulis Rubiatno. Di kompleks destinasi wisata yang dikelola oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah ini, ada peninggalan lain yang menarik, yakni Batu Bobot. Batu Bobot itu tak lain adalah ‘’umpak’’ (landasan tiang) Kerajaan Majapahit.

Tempat Batu Bobot disimpan.
Tempat Batu Bobot disimpan. | Rosidi /Beritagar.id

Selain itu, Api Abadi Mrapen juga menjadi saksi dari penyelenggaraan berbagai event olahraga akbar di negeri ini, mulai dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), Pekan Olahraga Nasional (PON), dan yang teranyar adalah ASIAN Games 2018.

‘’Pada ASIAN Games 2018 lalu, rombongan untuk mengambil api yang diarak sebelum penyelenggaraan event tersebut, dipimpin oleh Bu Puan Maharani. Hadir pula Gubernur Ganjar Pranowo, para pejabat provinsi, pejabat kabupaten, hingga pejabat tingkat desa,’’ ujar Muttaqiyah (49) diamini Agustina (50), warga setempat.

Pengambilan api di Api Abadi Mrapen ini, juga tidak asal ambil. ‘’Pengambilan api dimulai terlebih dahulu dengan selametan. Doa dipimpin oleh kiai atau tokoh agama,’’ ungkap Annas Rofiqi (26), petugas Disporapar kepada Beritagar.id.

Jejak historis demikianlah, setidaknya yang menarik masyarakat berkunjung ke tempat wisata ini. Sehingga tak heran, jika kini semakin banyak masyarakat yang ingin datang berkunjung. ‘’Pengunjung paling ramai pada Kamis Wage atau Malam Jum’at Kliwon,’’ Agustina menambahkan.

Sedang Annas Rofiqi menyebut, tak kurang dari 3000 pengunjung datang di Api Abadi Mrapen ini setiap bulan. Dan untuk masuk tempat wisata ini, pengunjung tak perlu merogoh kocek besar, karena tiket masuk dipatok hanya Rp2.500. ‘’Sesekali juga ada turis asing yang datang. Antara lain dari China, Jepang dan Korea,’’ lanjutnya.

Selain itu, untuk datang berkunjung di Api Abadi Mrapen, tidaklah sulit. Dari Semarang ke Mrapen jaraknya sekitar 36 kilometer, dari Demak + 18 kilometer, dari Kudus sekitar 38 kilometer, dan dari ibukota Kabupaten Grobogan (Purwodadi) jaraknya + 26 kilometer.

‘’Jika naik bus dari Terminal Penggaron (Semarang) ke Mrapen, ongkosnya sekitar antara Rp10.000 hingga Rp12.000. Ongkosnya sangat murah. Para sopir dan kondektur bus juga sudah hafal tempat ini. Tinggal bilang saja, turun Mrapen,’’ tutur Annas Rofiqi.

Saat Beritagar.id berkunjung, tak kurang dari 30 murid salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah berlarian sambil bermain. Beberapa di antaranya, berpose untuk foto di tempat wisata yang masuk wilayah Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan ini.

Ada beberapa tempat yang biasanya dijadikan latar untuk berfoto. Antara lain patung maskot ASIAN Games 2018, Monumen GANEFO 1963, Monumen Pengambilan Api Pekan Olahraga Nasional (PON) X 1981 yang ditandatangani Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan tentu saja Api Abadi Mrapen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR