Deretan rumah adat Suku Sasak di Desa Ende Ilustrasi Awan
Deretan rumah adat Suku Sasak di Desa Ende Beritagar.id / Yoseph Edwin

Menilik tenun dan desa adat di Lombok

Lombok memiliki suku asli yang bernama Sasak yang masih menjadi bagian besar dalam penduduk pulau ini

Suku Sasak mahir menenun. Sejak zaman baheula hingga kini, tradisi sesek dipegang erat oleh suku Sasak.

Menenun dalam bahasa Sasak disebut sesek. Sesek dilakukan dengan menjalin benang satu demi satu (sak sak). Benang yang sudah terjalin kemudian dipadatkan hingga berwujud layaknya kain dengan cara memukul-mukul alat tenun.

Bagi suku Sasak, masyarakat asli yang tinggal di Lombok sejak ribuan tahun lalu, menenun adalah aktivitas wajib bagi perempuan. Keahlian menenun kain dianggap tanda seorang perempuan telah beranjak dewasa dan siap menikah.

Awalnya, laki-laki dilarang menenun. Mengingat alat tenun menjepit area perut bawah dan digunakan berjam-jam, aktivitas tersebut diyakini akan membuat mereka mandul.

Namun kini laki-laki juga ikut memproduksi kain. Tetap bukan tenun, melainkan kain Ikat. Alat yang digunakan juga berbeda dengan alat tenun kain.

Penenun kain songket di Desa Sukarara
Penenun kain songket di Desa Sukarara | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Desa Sukarara merupakan perkampungan yang menjadi ikon aktivitas ini. Di Sukarara, mayoritas penduduknya merupakan penenun aktif.

Kain yang diproduksi hadir dalam beragam bentuk, bisa berupa kain untuk pakaian tradisional, taplak meja, selendang, selimut, hingga kain untuk bahan pembuatan kemeja atau rupa busana lain.

Sukarara berada di Kabupaten Lombok Tengah. Karena lokasi yang cukup jauh dari Kota Mataram--sekitar 25km, agar lebih nyaman mengunjunginya lebih baik menggunakan mobil sewaan. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 40 menit.

Sesampainya di sana, Anda tidak harus berkeliling desa untuk bisa mengetahui proses dan belanja kain tenun. Ada koperasi yang menjadi pusat penjualan kain tenun produksi warga yang berada di bagian muka desa.

Di sini ada beberapa penenun perempuan dan laki-laki yang sedang bekerja, lengkap dengan alat tradisional masing-masing. Anda juga diperbolehkan mencoba langsung menenun sekaligus mencoba pakaian tradisional.

Penenun pria yang sedang membuat kain ikat
Penenun pria yang sedang membuat kain ikat | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Kain tenun atau songket dan ikat memiliki perbedaan di motif dan ukuran.

Kain tenun punya ukuran yang lebih besar karena biasanya digunakan untuk baju atau sarung. Kain ikat umum digunakan sebagai selendang.

Selain itu tenun hanya memiliki motif di satu sisi. Sedangkan kain ikat motifnya sama di kedua sisi sehingga dapat digunakan bolak-balik.

Untuk membuat kain tenun dibutuhkan waktu mingguan hingga bulanan. Tergantung dari kerumitan pola yang akan diaplikasikan.

Sedangkan untuk kain ikat prosesnya lebih cepat, karena umumnya ukurannya lebih kecil dan motifnya juga tidak terlalu rumit sehingga satu kain dapat diselesaikan dalam hitungan hari.

Karena proses yang rumit dan masih buatan tangan, jangan heran jika hasil tenunan pulau Lombok dibanderol dengan harga cukup tinggi, dari kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Balai terbuka yang berada di tengah Desa Ende
Balai terbuka yang berada di tengah Desa Ende | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Tidak hanya tenun, Pulau Lombok memiliki desa adat yang hingga kini masih mempertahankan budaya asli Sasak. Jika bertolak dari Kota Mataram menuju Pantai Kuta, Anda pasti akan melewati dua desa adat, Desa adat Sade dan Ende.

Keduanya berdekatan dan memiliki konsep perkampungan asli Suku Sasak. Sebagian warganya, terutama yang sudah lanjut usia tidak bisa berbahasa indonesia, hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa lokal.

Desa Sade lebih tua ketimbang Ende. Maka tidak mengherankan desa ini memiliki area yang lebih luas, penduduk yang lebih banyak, juga desain lebih terstruktur.

Ini juga yang menjadikan Sade lebih populer sebagai destinasi wisata.

Awalnya penduduk desa berprofesi sebagai petani, namun mengingat semakin banyaknya wisatawan yang datang, warga desa beralih jadi pelaku industri kerajinan tangan rumahan. Dari gelang manik-manik hingga kain tenun menjadi komoditi di sini.

Jika ingin melihat desa adat yang lebih orisinal, Anda bisa mengunjungi Ende. Jalan setapak yang mengiringi langkah masuk ke desa yang dihuni sekitar 35 kepala keluarga ini masih berbatu dan tanah. Belum semodern Sade yang sebagian sudah berupa bata blok.

Meski begitu bentuk bangunannya sama. Rumah beratapkan jerami atau alang-alang kering, dan dinding anyaman bambu tanpa jendela. Jerami atau alang-alang yang dijadikan atap hanya diikatkan ke palang penopang terbuat dari bambu tanpa menggunakan paku.

Proporsi atap curam, memakan bagian lebih besar ketimbang sisi bangunan jika dilihat dari depan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan temperatur yang lebih sejuk mengingat Lombok terpapar sinar matahari yang kuat pada siang hari.

Di samping itu lantai rumah adat ini diklaim juga lebih sejuk. Hal ini sejalan dengan ciri khas dari rumah adat di Lombok yang menggunakan campuran tanah liat dan kotoran sapi. Kotoran sapi berguna sebagai lem perekat dari material tanah liat yang mudah retak.

Ukuran rumah di sini kecil saja. Hanya digunakan untuk tempat tidur dan memasak. Penghuninya jarang menghabiskan waktu di dalam rumah.

Meski bersatus keluarga, namun laki-laki dewasa atau remaja tidur di bagian luar rumah. Sedangkan perempuan dan anak kecil tidur di dalam.

Di antara deretan rumah-rumah di bagian tengah desa dibangun balai terbuka atau beruga sebagai tempat pertemuan. Balai terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan sosial warga.

Lumbung padi khas adat Sasak dengan atap menjulang tinggi
Lumbung padi khas adat Sasak dengan atap menjulang tinggi | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Selain beruga, bangunan lain yang juga khas desa adat Sasak adalah lumbung padi. Bentuknya seperti pondok namun dengan atap yang menjulang ke atas.

Padi disimpan pada bagian atas lumbung yang berbentuk seperti atap, sedangkan pada bagian bawah biasanya dijadikan tempat untuk bersantai. Karena berada di atas, maka untuk memasukkan padi warga harus menaiki tangga. Posisinya di atas untuk mencegah hewan pengerat masuk.

Jika Anda datang dengan rombongan besar, maka Desa Ende bisa menampilkan tradisi Peresean. Sebuah tradisi pertarungan antara dua pemuda Suku Sasak sebagai persembahan untuk menyambut tamu.

Mereka bertarung menggunakan pecutan atau rotan dengan perisai terbuat dari kulit kerbau. Meski pada akhirnya ada yang menang dan yang kalah bahkan sampai luka-luka namun mereka tidak menaruh dendam karena tujuan tradisi ini sebagai tanda silaturahmi, persahabatan, dan sportivitas.

Hingga kini mayoritas penduduk di Pulau Lombok merupakan Suku Sasak yang nenek moyangnya berasal dari Jawa. Mereka juga pemeluk agama Islam, seperti yang tercitra dari dengan mudahnya menemukan mesjid di pulau ini baik dari kota hingga pedesaan.

Begitulah sekelumit tentang budaya Suku Sasak yang dapat menjadi pilihan wisata tersendiri, melengkapi wisata alam ketika berada di Lombok.