Pemandangan Samosir nan elok. Ilustrasi Awan
Pemandangan Samosir nan elok. Shutterstock / Mahani Mukhtar

Menjelajahi eloknya Pulau Samosir

Belajar sejarah, kebudayaan, juga menikmati pemandangan adalah agenda satu hari menjelajah pulau vulkanik di tengah danau ini.

Usai menempuh perjalanan udara dua jam dari Jakarta, ditambah dua jam lewat darat menuju Pelabuhan Tigaraja di Parapat, dilanjutkan naik kapal selama 30 menit, akhirnya saya menapakkan kaki di Pulau Samosir.

Perjalanan yang cukup panjang. Lelah pun kalah atas rasa penasaran.

Saat merencanakan perjalanan ke Danau Toba, Pulau Samosir adalah salah satu tempat yang wajib saya kunjungi. Ada rasa penasaran untuk melihat langsung pulau vulkanik di tengah danau ini.

Misi saya di pulau ini adalah menjelajahi setiap sudutnya. Maka, sesampainya di penginapan daerah Tuktuk Siadong, saya pun tak ingin menyia-nyiakan waktu.

Sambil menikmati pemandangan Danau Toba, saya berjalan menyusuri Tuktuk Siadong. Banyak anjing di jalanan. Jika takut, maka berjalan kaki tidak disarankan.

Tuktuk Siadong merupakan daerah populer bagi turis untuk menginap. Sepanjang jalan, penginapan memang mendominasi, ditambah dengan beberapa tempat makan, warung, dan toko suvenir.

Jika ingin melihat-lihat suvenir yang lebih beragam, Anda bisa pergi ke Desa Tomok, desa kecil yang terletak di pesisir timur Pulau Samosir, sekitar 15 menit dari Tuktuk Siadong.

Cendera mata yang bisa dibeli di Tomok antara lain replika rumah adat Batak, kalendar khas Batak dari kayu, kaus bertuliskan Danau Toba, ikat kepala, dan ulos.

Perjalanan saya di Samosir masih panjang, tetapi karena hari sudah gelap, kegiatan jelajah pulau saya lanjutkan keesokan harinya.

Museum Batak Simanindo.
Museum Batak Simanindo. | Lana Priatna /Beritagar.id

Museum Huta Bolon Simanindo

Rasanya kurang lengkap berada di Samosir bila tidak belajar sejarah Batak. Maka, tujuan berikutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo, rumah adat warisan Raja Sidauruk.

Bentuk museum ini memang rumah adat. Hanya terdiri dari satu ruangan. Namun isinya beragam. Setiap koleksi disimpan apik dalam lemari kaca yang mengelilingi ruangan.

Koleksi yang ada di museum ini antara lain aneka jenis ulos, patung, topeng, senjata, alat musik, dan peralatan rumah tangga yang digunakan pada zaman dahulu.

Selain itu, ada juga barang-barang unik seperti bulu ruji-ruji. Mirip stik es krim, benda ini digunakan untuk meramalkan rezeki. Ada juga sitang, bambu untuk menyimpan tuak.

Tepat di sebelah museum ada area lain berbentuk rumah adat Batak juga, tetapi difungsikan untuk menonton pertunjukan Sigale-Gale, boneka kayu yang biasa digunakan dalam pertunjukan tari pemakaman orang Batak.

Dengan membayar Rp50ribu, pengunjung sudah bisa menyaksikan sekaligus diajak menari dengan Sigale-Gale, boneka dengan balutan busana adat Batak lengkap dengan ulos. Sedangkan biaya masuk museum adalah Rp10 ribu.

Pengrajin ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan.
Pengrajin ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan. | Dian Afrillia /Beritagar.id

Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan

Dari Museum Huta Bolon Simanindo, perjalanan saya lanjutkan ke Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan di Kecamatan Pangururan.

Desa ini dikenal sebagai pengrajin ulos rumahan. Dari Tuktuk Siadong, waktu tempuh ke desa ini kurang lebih satu jam naik mobil.

Biasanya, warga desa membuat ulos di kolong rumah panggung. Namun, hari itu sedang sepi. Rumah-rumah tampak kosong dari luar.

Untungnya, di ujung desa masih ada seorang ibu yang tengah membuat ulos di halaman rumahnya. Tiurma Sinurat namanya, puluhan tahun ia membuat sendiri kain tradisional Batak ini.

Tak hanya untuk melestarikan kebudayaan, bagi Tiurma membuat ulos juga jadi mata pencaharian. “Kalau nggak begini, nggak bisa sekolahkan anak,” ujarnya.

Tempat pembuatan ulos Tiurma sangatlah sederhana. Lokasinya berada di depan rumah. Bangunannya hanya terdiri dari tiang-tiang kayu yang menyangga atap. Semuanya terbuka.

Pada bagian depan disampirkan tali, mirip tali jemuran, untuk menggantung ulos yang telah selesai dibuat. Pengunjung yang datang bisa melihat ulos-ulos yang sudah jadi dan bisa langsung membelinya di sana.

Selain bisa membeli langsung di rumahnya, ulos hasil karya Tiurma juga dijual di Kabanjahe, Kabupaten Karo, sebelah selatan Berastagi, Sumatra Utara.

Saya melihat-lihat ulos yang digantung, ada yang berwarna biru, merah, hitam, dan merah muda. Di antara ulos tersebut, ada yang berbentuk selendang, sarung, taplak meja. "Kain-kain ini nantinya bisa dijahit, dibuat rok atau baju," kata Tiurma sambil memperlihatkan ulos buatannya.

Untuk membuat selembar ulos, Tiurma butuh waktu hingga sebulan. Mengingat waktu pengerjaan yang tidak sebentar ditambah dengan keterampilan sang pengrajin, wajar jika selembar kain dijual mahal.

Kata Tiurma, harga ulos yang ia buat dijual dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga jutaan rupiah tergantung kerumitan dalam pembuatannya.

"Ulos ini kain yang awet, bisa tahan sampai 50 tahun. Perawatannya juga mudah, tinggal dicuci seperti biasa lalu diangin-anginkan saja. Jangan terlalu kena panas, kita saja orang kan enggak mau kepanasan," tuturnya.

Usai berbincang dengan Tiurma dan membawa pulang selembar ulos, saya pun melanjutkan perjalanan ke daerah Turpuk Limbong.

Pemandangan dari Menara Pandang Tele
Pemandangan dari Menara Pandang Tele | Dian Afrillia /Beritagar.id

Menara Pandang Tele

Kurang lebih satu jam berkendara dari Lumban Suhi-Suhi Toruan, tibalah saya di Menara Pandang Tele untuk menikmati pemandangan Danau Toba dari ketinggian. Untuk naik ke menara, cukup membeli tiket seharga Rp7 ribu saja.

Tak menunggu lama, saya pun naik ke menara setinggi tiga lantai ini. Sayangnya, tingkat tertinggi di menara ini justru terhalang kaca, kotor pula. Sehingga saya memutuskan untuk langsung turun dan berjalan ke depan menara.

Dari bawah, pemandangannya justru lebih jelas. Saya bisa melihat panorama Danau Toba yang dikelilingi gunung, daratan Samosir, dan Gunung Pusuk Buhit. Ditemani angin kencang, saya pun memilih untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan bak lukisan.