Ilustrasi Danau Toba Ilustrasi Awan
Ilustrasi Danau Toba Beritagar.id / Sandy Nurdiansyah

Merancang perjalanan ke Danau Toba

Panduan ini dapat ditengok bagi yang sedang merencanakan vakansi ke Danau Toba.

Bunyi sirene telah dinyalakan, pertanda kapal dari Pelabuhan Tigaraja, Simalungun, Sumatra Utara, akan segera berangkat. Saya dan penumpang lain pun siap mengarungi Danau Toba menuju Pulau Samosir, tepatnya ke daerah Tuktuk Siadong.

Selama kapal berlayar, ada dua hal yang jadi fokus utama saya. Pertama, pemandangan Danau Toba yang begitu memukau. Danau yang terbentuk saat ledakan sekitar 69.000-77.000 tahun yang lalu ini dikelilingi oleh perbukitan dan gunung.

Panorama alam di sekitar danau membuat perjalanan begitu memanjakan mata. Namun, di sisi lain, ada rasa takut selama berada di dalam kapal. Meski menikmati pemandangan yang ada di depan mata, tangan saya tak hentinya berpegangan pada tepian kapal.

Wajar, mengingat beberapa bulan lalu baru saja terjadi peristiwa tenggelamnya kapal motor Sinar Bangun di danau yang tengah saya lewati. Ketakutan saya juga bertambah saat melihat jumlah pelampung yang jauh dari cukup untuk dipakai seluruh penumpang. Bahkan, tak ada setengahnya.

Lalu, selang 30 menit kemudian, kapal mulai menepi di pinggiran hotel untuk mengantarkan penumpang satu per satu.

Rata-rata penginapan di Tuktuk Siadong berada di tepi danau sehingga penumpang bisa langsung turun di hotel masing-masing. Namun, jika memilih penginapan yang tidak berlokasi di tepi danau, bisa turun di salah satu hotel terdekat.

Tuktuk Siadong merupakan kawasan populer bagi wisatawan untuk menginap. Bisa jadi karena lokasinya berada di tepi danau yang lebih mudah dijangkau dari pelabuhan, pun daya tariknya adalah setiap hotel menawarkan pemandangan langsung ke Danau Toba.

Menuju Danau Toba

Saya mengawali perjalanan menuju Danau Toba dari Jakarta. Saya memilih menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Silangit di Siborong-Borong, Tapanuli Utara selama dua jam. Untuk tarif pesawat dari Jakarta, rata-rata dimulai dari harga Rp1 juta.

Sesampainya di Bandara Silangit, ada rental mobil yang siap mengantarkan penumpang sampai tujuan. Oleh karena tujuan pertama saya adalah Pulau Samosir, saya harus menuju ke Parapat, tempat di mana pelabuhan berada.

Tarif sampai ke Parapat yaitu Rp450 ribu per satu mobil. Namun, jika ada penumpang yang searah, biayanya bisa dibagi. Saya hanya membayar Rp300 ribu karena berangkat bersama dua penumpang lain yang hendak ke Balige, kecamatan yang jaraknya hanya 30 menit dari Bandara Silangit.

Jalanan menuju Parapat terbilang mulus, pun bebas macet karena tak banyak kendaraan yang melintas. Namun, jalurnya berkelok-kelok sampai membuat saya mual.

Sepanjang jalan, mata saya disuguhi pemandangan hutan, sawah, rumah warga, sesekali melewati pertokoan, dan banyak sekali kuburan besar di pinggir jalan.

Setelah dua jam berlalu, sampailah saya di Parapat. Saya minta diturunkan di Pelabuhan Tigaraja karena tujuan akhir saya adalah Tuktuk Siadong di Pulau Samosir.

Nah, apabila tujuan Anda adalah Tomok, Anda bisa melalui Pelabuhan Ajibata. Lokasi kedua pelabuhan ini pun sebenarnya berdekatan tapi berbeda tujuan.

Waktu tempuh dari Pelabuhan Tigaraja ke Tuktuk Siadong adalah 30 menit. Untuk menyeberangi Danau Toba, Anda bisa naik kapal dengan biaya Rp15 ribu.

Nah, untuk berkeliling Samosir maupun bagian lain dari Danau Toba, Anda bisa menyewa mobi dengan sopir, rata-rata Rp700 ribu per hari.

Untuk penginapan, harganya cukup bervariasi, mulai dari Rp200 ribuan. Namun, untuk hotel di Tuktuk Siadong yang menawarkan pemandangan langsung ke Danau Toba, harganya mulai dari Rp400 ribuan.

Tuktuk Siadong juga merupakan tempat yang pas bila Anda ingin staycation. Sebab, dengan berada di hotel saja, Anda sudah bisa menikmati pemandangan Danau Toba. Apalagi setiap hotel memiliki halaman yang luas lengkap dengan kursi-kursi untuk bersantai sambil menikmati keindahan danau.

Cukup memesan camilan dan minuman dingin dari restoran hotel, Anda sudah dapat menikmati staycation di Pulau Samosir.