Area Pantai Kuta menjadi pusat pembangunan KEK Mandalika Ilustrasi Awan
Area Pantai Kuta menjadi pusat pembangunan KEK Mandalika Beritagar.id / Yoseph Edwin

Mewujudkan mimpi wisata berkelas di KEK Mandalika

Saat ini pembangunan di kawasan selatan Kabupaten Lombok Tengah ini terus dikejar, nantinya KEK Mandalika akan menjadi area wisata terpadu yang berkelas internasional

Kombinasi kemolekan alam, keramahan warga, dan kentalnya budaya Bali sudah kesohor hingga ke seluruh dunia. Bukan rahasia jika nama Bali lebih populer ketimbang nama Indonesia.

Fakta ini dimanfaatkan pemerintah untuk menciptakan destinasi "Bali" lain di beberapa kawasan Tanah Air. Dengan proyek berjuluk "Bali Baru", Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mencanangkan empat--yang tadinya ada 10--lokasi wisata yang menyandang label Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

KEK dihadirkan dalam rangka memicu pembangunan ekonomi nasional. Kawasan ini akan memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain.

Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah satu dari empat KEK pariwisata yang ada di Indonesia. Tiga lainnya berada di Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), dan Morotai (Maluku Utara). KEK di Lombok dinamakan Mandalika, dipilih atas cerita rakyat Suku Sasak.

Terletak di bagian selatan Pulau Lombok, KEK Mandalika ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 untuk menjadi KEK Pariwisata. KEK Mandalika digarap oleh PT Indonesia Tourism Development Corporate (ITDC), BUMN yang terlebih dahulu membangun kawasan pariwisata Nusa Dua di Bali.

Dengan luas area 1.175 hektare dan menghadap Samudera Hindia, KEK Mandalika menawarkan wisata bahari dengan pesona pantai dan bawah laut sebagai barang jualan utama.

Sebagai informasi, KEK Mandalika jauh lebih luas ketimbang kawasan Nusa Dua di Bali yang memiliki luas area sekitar 350 hektare.

KEK Mandalika dapat disebut juga dengan nama julukan The Mandalika
KEK Mandalika dapat disebut juga dengan nama julukan The Mandalika | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Posisi KEK Mandalika mudah dijangkau. Jaraknya hanya sekitar 17km, atau 30 menit perjalanan dari Bandara Internasional Lombok, Lombok Tengah.

Di dalam KEK ini terdapat wisata alam yang sudah lebih dulu populer. Sebut saja Pantai Kuta, Pantai Seger, hingga Pantai Tanjung Aan.

Pantai Seger adalah lokasi pusat perayaan festival tahunan Bau Nyale. Ritual mencari cacing atau nyale, yang digelar antara bulan Februari dan Maret. Cacing yang muncul hanya setahun sekali ini dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika, tokoh cerita rakyat dari Lombok.

Pembangunan KEK Mandalika atau The Mandalika secara masif baru dimulai tahun lalu. Bahkan baru diresmikan Oktober 2017 oleh Presiden Joko Widodo.

Meski saat ini pembangunan masih jauh dari kata selesai, sudah ada gambaran akan seperti apa KEK Mandalika nantinya.

KEK Mandalika dibangun dengan konsep infrastruktur hijau. Nantinya suplai air bersih dan air minum bagi resor Mandalika berasal dari proses desalinasi air laut SWRO (Sea Water Reverse Osmosis). Demikian pula dengan suplai tenaga listrik, yang dirancang melalui pembangkit energi surya.

Jalanan dengan blok paving dan lampu jalan menjadi salah satu poin pembangunan di kawasan Pantai Kuta, area pembangunan pertama dari KEK Mandalika
Jalanan dengan blok paving dan lampu jalan menjadi salah satu poin pembangunan di kawasan Pantai Kuta, area pembangunan pertama dari KEK Mandalika | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Tahun ini proses pembangunan dipusatkan di bidang infrastruktur. Masuk akal karena akses ke area terbilang masih mengandalkan akses yang sudah ada sebelumnya.

Belum tersedia pilihan transportasi umum untuk ke sini. Dari bandara tercatat hanya ada armada taksi, sedangkan layanan Bus Damri belum ada rute yang ke arah selatan.

Tarif taksi pun masih terasa cukup mahal untuk jarak yang tidak terlalu jauh ini. Layanan taksi resmi bandara mematok harga yang tak bisa dinego, Rp100 ribu.

Sesampainya di kawasan, Anda juga tidak akan menemukan transportasi umum. Jadi cara terbaik untuk menikmati wisata yang ada adalah dengan menyewa motor dengan kisaran Rp70 ribu per hari atau mobil sekitar Rp400 ribu per hari.

Untuk penginapan, terdapat beragam penginapan lokal dari jenis homestay hingga hotel berbintang tiga. Saat ini hotel berbintang 4 jenama internasional baru ada satu yang telah berdiri, yaitu Novotel.

Target beroperasi akhir 2018 atau awal 2019, akan hadir sejumlah hotel berkelas lain seperti Hotel Royal Tulip yang mampu menampung 250 kamar, Hotel Pullman dengan 251 kamar, Hotel Paramount dengan 400 kamar, dan Hotel X2 yang akan punya 200 kamar.

Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Abdulbar M. Mansoer mengatakan, sampai 10 tahun ke depan ditargetkan ada 10.000 kamar hotel di KEK Mandalika.

Tidak ketinggalan sedang dibangun juga sirkuit balap kelas dunia yang ditargetkan rampung pada 2019. Vinci Construction Grand Projects (VCGP) asal Prancis dipilih untuk membangun sirkuit MotoGP di Mandalika. Arena balap motor kelas dunia ini dijanjikan lebih menantang dan penuh suguhan pemandangan gunung dan pantai.

Menurut Abdulbar, sirkuit sepanjang 4,8 km akan membentang di tengah-tengah lahan seluas 30 hektare.

Konstruksi bangunan di bibir Pantai Kuta yang akan menjadi pusat fasilitas area wisata
Konstruksi bangunan di bibir Pantai Kuta yang akan menjadi pusat fasilitas area wisata | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Penduduk Lombok mayoritas beragama Islam. Hal ini ikut tercermin dari jenis tempat hiburan dan kuliner di sini. Tidak seperti Legian atau Kuta di Bali yang memiliki banyak pilihan kelab malam yang menyetel musik keras, di Kuta Lombok--area yang paling hidup di KEK Mandalika--tidak ditemui tempat hiburan seperti itu.

Tapi restoran-restoran masih menjual minuman keras untuk memenuhi permintaan wisatawan yang mayoritas dari mancanegara. Kuliner juga Anda hanya akan menemukan menu-menu halal yang terbuat dari daging sapi, ayam, atau makanan laut.

Poin ini juga yang ingin ditonjolkan di Lombok, khususnya KEK Mandalika, yang ingin hadir sebagai lokasi wisata halal. Sebagai salah satu penandanya adalah keberadaan Masjid Nurul Bilad. Masjid Mandalika ini merupakan yang kedua terbesar di Lombok, setelah Islamic Centre di Kota Mataram.

Dengan kapasitas dalam ruangan hingga 1.500 jemaah, Masjid Mandalika diharapkan dapat membantu wisatawan untuk melaksanakan ibadah. Desainnya juga menggunakan kearifan lokal yang terinspirasi dari Masjid Kuno Bayan. Arti Nurul Bilad sendiri adalah "Cahaya Bangsa-Bangsa" yang menggambarkan lokasi tempat masjid dibangun, yang didatangi oleh wisatawan dari berbagai negara.