Halaman depan Museum Borobodur, Magelang, Jawa Tengah Ilustrasi Awan
Halaman depan Museum Borobodur, Magelang, Jawa Tengah Beritagar / Reza Fitriyanto

Misteri Candi Borobudur yang tersimpan dalam museum

Museum Karmawibhangga mulai berdiri sejak 1991 di bawah pengelolaan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur. Namun, semenjak tahun 2012 namanya berubah menjadi Museum Borobudur. Alasannya, agar lebih mudah dikenal dan diingat.

Museum Karmawibhangga merupakan tujuan terakhir bagi wisatawan yang menjelajahi area Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Tempat yang menyimpan segala kenangan tentang candi Buddha terbesar itu, sekaligus menyediakan buku-buku yang mengungkap misteri candi.

“Pengunjung bisa membaca sekaligus istirahat,” kata Sukar, penanggung jawab museum, saat saya temui di sana, Senin, 28 Mei 2018.

Museum Karmawibhangga mulai berdiri sejak 1991 di bawah pengelolaan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur. Namun, semenjak tahun 2012 namanya berubah menjadi Museum Borobudur. Alasannya, agar lebih mudah dikenal dan diingat.

Pada pintu gerbang museum telah tampak dua deretan pendapa. Pendapa pertama, berisi papan-papan yang diberi pajangan foto tentang relief Karmawibhangga yang terletak di kaki candi. Pendapa kedua, menjadi tempat meletakkan seperangkat gamelan. Sejumlah bangku panjang disediakan bagi pengunjung untuk melepas penat usai mendaki candi.

Museum Karmawibhangga, Magelang, Jawa Tengah.
Museum Karmawibhangga, Magelang, Jawa Tengah. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Salah satu hal yang menarik adalah halaman depan di sisi kiri kanan dan halaman belakang museum dipenuhi dengan bebatuan candi.

Batu-batu yang mayoritas berbentuk balok itu diidentifikasi sebagai penyusun struktur pagar langkan candi. Batu tetap dibiarkan bertebaran sehingga terlihat seperti taman bebatuan.

Awalnya, sebanyak 15 ribu blok batu yang ditemukan di sana. Kini, tinggal sekitar 10 ribu blok batu karena sisanya sudah digunakan untuk penyusunan struktur candi.

“Kalau melihat batu candi yang ada titik putih dari timah, artinya itu batu baru,” kata Sukar.

Kenangan apa saja yang tersimpan dalam museum ini? Mari menyimak hasil penelusuran saya berikut ini.

Kunjungan pertama adalah Ruang Arkeologi yang berada di sayap kiri. Sesuai namanya, bangunan itu menyimpan aneka arca berbagai bentuk, foto, hingga macam-macam jamur yang suka melekat di bebatuan candi. Lengkap bukan?

Pada ruang itu, saya juga mengetahui cara kerja sistem penguncian dalam penyusunan batu-batu candi. Jangan dibayangkan bentu kuncinya seperti kunci rumah masa kini, tetapi berupa batu. Bentuknya seperti dasi kupu-kupu dan diletakkan di bagian dasar stupa candi. Jika kunci itu diambil, batu-batu lainnya bisa digeser.

“Jadi pakai interlocking system, karena enggak ada lem zaman itu,” kata Lisa, mahasiswa magang yang menjadi pemandu museum.

Saat Candi Borobudur direstorasi tahap I pada 1907-1911 oleh Pemerintah Kolonial Belanda di bawah arsitek Van Erp, model pengunciannya diubah, yaitu diberi tambahan batang besi di tengah batu untuk memperkuat. Model itu berubah lagi dengan diberi tambahan lem saat restorasi tahap II oleh Unesco pada 1973-1981.

Pada ruang yang sama, saya bisa melihat dengan jelas foto yang menggambarkan kondisi Candi Borobudur saat awal ditemukan. Foto itu berangka tahun 1854, sedangkan penemuan candi pada 1814.

“Karena saat pertama kali ditemukan belum ada kamera. Jadi, baru bisa difoto pada 1854,” kata Lisa.

Ada pula foto usai restorasi tahap I pada 1911 yang menampakkan adanya chattra atau bagian paling atas candi dipasang di atas stupa. Namun, pada tahun yang sama, ada pula foto yang menampakkan chattra itu sudah tak lagi terpasang. Tak ada penjelasan pada foto mengapa chattra terlepas kembali.

Namun, pengunjung bisa melihat keberadaannya di halaman museum. Pada Maret lalu, sejumlah arkeolog dikumpulkan untuk membahas kemungkinan chattra kembali dipasangkan atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Menurut Sukar, yang hingga kini belum ada kelanjutannya.

“Beberapa batu bagian chattra itu batu baru. Banyak yang sudak enggak ditemukan dalam rekonstruksi I itu,” kata Sukar.

Sementara di depan batu chattra juga dipajang arca Buddha yang belum selesai atau unfinished Buddha statue. Ada sejumlah detil pahatan arca yang belum selesai dibuat sebagaimana arca-arca Buddha yang ditemukan di sana. Bagian inilah yang merupakan sisi misterius candi tersebut.

Salah satu ruang pamer di Museum Karmawibhangga, Magelang, Jawa Tengah.
Salah satu ruang pamer di Museum Karmawibhangga, Magelang, Jawa Tengah. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Di ruangan yang penuh dengan benda-benda usang itu, tersimpan juga patung kepala Buddha dalam ukuran raksasa. Patung berwarna kuning itu ditemukan di Selomerto, Wonosobo dan dibawa ke museum itu pada 1985, sedangkan badan patung masih disimpan di tempat penemuannya.

“Tapi patung itu tak berhubungan dengan candi,” kata Lisa.

Sejumlah arca Hindu juga disimpan di sana. Arca-arca seperti Bethari Durga yang berdiri di atas arca Nandi juga arca Dewa Wisnu ditemukan di seputaran Candi Borobudur.

Lisa menjelaskan, pada masa itu terjalin hubungan baik antara Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddha dengan Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindhu.

“Keberadaan arcar Hindu di sekitar candi Buddha adalah bentuk penghormatan,” kata Lisa.

Melewati Ruang Arkeologi, saya menuju ke Ruang Karmawibhangga yang berbeda dengan Ruang Arkeolog yang dipenuhi kenangan masa lalu Candi Borobudur.

Ruang Karmawibhangga lebih banyak memajang foto yang dilengkapi dengan narasi sejarah dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

Pengunjung yang ingin mengetahui sejarah singkat candi akan lebih mudah memahami melalui narasi singkat di ruangan tersebut.

Saat saya membuka pintu ruangan yang berukir itu. Mata saya langsung disambut gambar salah satu sudut candi di bagian dasar atau Kamadhatu. Tak seperti sudut lain dari candi lainnya, melainkan tampak ada tambahan susunan batu pondasi yang dipasang di sana yang ternyata untuk menutupi sejumlah relief.

Itulah relief Karmawibhangga yang disembunyikan. Relief yang menggambarkan kepercayaan Budhis tentang hokum sebab akibat. Dari total 160 panel relief hanya disisakan empat panel yang bisa dilihat.

Menurut penjelasan Sukar, penutupan relief dilakukan semasa candi tengah dibangun. Ada dua dugaan alasan yang melatarbelakangi penutupan 156 panel relief. Pertama, karena ada kesalahan teknis dalam penyusunan batu mengakibatkan tanah mudah longsor. Solusinya adalah menutup bagian bangunan itu dengan pondasi agar lebih kuat. Kedua, ada unsur pornografi yang digambarkan dalam relief itu sehingga tak layak ditampilkan untuk publik.

Selain itu, pihak pengurus juga mengkhawatirkan hal itu menjadi gangguan untuk umat Buddha yang tengah bermeditasi di sana.

Relief tersebut sebenarnya berisi informasi mengenai kisah sejarah manusia, perilaku keagamaan, struktur sosial, busana, alat yang digunakan, juga flora dan fauna.

“Relief Karmawibhangga sempat dibuka untuk diteliti pada 1935. Lalu, ditutup lagi,” kata Sukar.

Bagi yang penasaran untuk mengetahui relief seperti apa saja yang disembunyikan itu, tetapi semua koleksi di Museum Borobudur akan memberikan informasi yang menguak misteri salah candi Buddha nan megah di Indonesia tersebut.