Paledang, lamafa, dan perburuan paus di Lamalera

Paledang dan belulang Orca.
Paledang dan belulang Orca. | SergeUWPhoto /Shutterstock.com

Nyaris tengah malam, satu setengah tahun lalu, saya tiba di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Desa tersebut berjarak sekitar 65 km dari Lewoleba, ibu kota Lembata.

Kedatangan saya, disambut gapura desa yang terbuat dari belulang paus. Rasa penasaran terhadap mamalia laut terbesar itu juga yang membuat saya rela menempuh perjalanan panjang menuju Lamalera.

Ada dua kata yang tak bisa dipisahkan dari Desa Lamalera, yaitu paledang dan lamafa. Keduanya berkaitan erat dengan sang mamalia laut yang disebut baleo oleh warga setempat.

Paledang merupakan perahu tradisional yang hanya digunakan saat berburu ikan paus, sementara lamafa merupakan para juru tombak paus, orang-orang dengan keberanian luar biasa.

Suasana kampung Lamalera, Lembata, NTT.
Suasana kampung Lamalera, Lembata, NTT. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Lamalera memang dikenal sebagai kampung pemburu paus dan mereka sudah melakukannya sejak ratusan tahun lalu, dari zaman nenek moyang mereka.

Paus, bagi warga Lamalera merupakan berkah yang dikirim untuk menjaga kehidupan dan kelestarian budaya kampung tersebut.

Saat itu kebetulan saya menginap di Abel O Beding Guest House, yang dimiliki oleh Kepala Suku Bedonia, Abel Onekala Beding. Ia salah satu sesepuh di kampung tersebut.

Kepadanya saya bisa menggali informasi untuk memahami tradisi berburu baleo warga Lamalera.

Abel bercerita perburuan tersebut sempat ditentang oleh organisasi-organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang pelestarian alam seperti World Wide Fund for Nature (WWF) dan Greenpeace.

Namun, setelah dituturkan bahwa perburuan tersebut merupakan tradisi yang telah turun-temurun dilakukan dan bukan untuk keperluan komersial, kedua LSM itu merestui aktivitas tersebut.

"Kami berburu seperlunya, tak semua paus yang melintas kami tombak," tutur Abel. "Perburuan paus ini sangat berarti bagi warga kami, karena dari sanalah berkah kami."

Selain itu, mengutip Netralnews.com, paus yang ditangkap tak sampai 20 ekor setiap tahunnya. Mereka juga menyatakan tak menangkap paus yang masih bayi dan yang sedang hamil.

Paledang, bukan sembarang perahu

Paledang yang tengah di perbaiki di pantai dusun Lamalera.
Paledang yang tengah di perbaiki di pantai dusun Lamalera. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Minggu paginya saya langsung jalan ke pesisir pantai dan melihat pemandangan yang untuk pertama kalinya saya saksikan. Pada bibir pantai tampak tulang belulang raksasa serta sirip ikan selebar baling-baling pesawat terbang tengah dijemur

Menapak ke arah Barat, saya akhirnya bertemu laki-laki setempat yang tengah memperbaiki paledang. Petrus namanya.

Pria berusia 47 itu mengaku sebagai juru mudi paledang. Wahana laut tersebut telah sangat akrab dengannya karena hubungan mereka telah dimulai sejak Petrus masih berusia 20 tahun.

"Ini paledang sudah 14 tahun kami pakai dan hanya dipakai saat berburu baleo saja," katanya sambil naik ke kapal yang diberi nama Kelulus itu. Tampak sirip kirinya patah akibat dihantam sirip ekor paus.

A post shared by Dubbi (@_dubbi) on

Bulai Mei hingga November, terang Petrus, merupakan bulan berburu paus. Karena pada bulan-bulan tersebut hewan tersebut tengah melintas Laut Sawu, bermigrasi dari Laut Banda menuju Samudera Hindia.

Paledang, sambung Petrus, tentunya harus dipersiapkan dengan matang sebelum turun untuk berburu. Dengan mengandalkan layar yang terbuat dari anyaman daun pandan, juru kemudi harus mahir mengarahkan perahu itu menuju sasaran.

"Paledang tak menggunakan motor seperti perahu nelayan lainnya, dikarenakan takut nantinya baling-baling perahu melukai paus," terang bapak dua anak ini.

Satu paledang, dapat menampung 6 hingga 10 orang. Dan dalam satu perburuan, ada 3-4 Paledang yang terlibat untuk menangani hewan buruan dari paus sperma (Physeter macrocephalus). Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan koteklema.

Selain paus, masyarakat setempat juga berburu orca (paus pembunuh), lumba-lumba, hiu, hingga ikan pari.

Sang pendekar samudera

Apalah artinya paledang tanpa lamafa. Bersenjatakan tempuling, mereka lah yang bertugas untuk menombak paus yang tengah melintas.

Tempuling adalah tombak dari bambu yang panjangnya sekitar 4 meter, dilengkapi mata tombak dari besi sepanjang 30 cm.

Pada ujung gagang tombak diberi ikatan tali yang cukup kuat agar dapat digunakan untuk menarik badan paus yang berhasil ditangkap.

Tempurung kepala hewan tersebut adalah bagian yang menjadi sasaran utama para lamafa saat beraksi. Mereka loncat dari perahu dengan mata tombak terhunus menuju tempurung kepala paus.

Sebuah pekerjaan yang jelas berisiko amat tinggi, sehingga tak sembarang penduduk Lamalera yang bisa menjadi lamafa.

Selain butuh mesti melalui latihan yang berat untuk memilih paus yang pantas diburu lalu cara menombaknya, pekerjaan itu juga ditetapkan berdasarkan hasil upacara adat. Lamafa terpilih adalah lelaki yang santun, taat beribadah, berbudi, serta tak pernah melakukan hal tercela.

Mereka meyakini jika salah menombak, seperti pada paus yang hamil atau paus yang masih muda, maka seluruh kampung nantinya akan mendapat musibah.

Paus yang berhasil diburu, akan dibawa ke kampung dan dibagikan kepada seluruh masyarakat kampung. Setiap orang akan mendapat bagian sesuai dengan jasa mereka pada perburuan tersebut.

Sebagian organnya seperti tulang, sirip, minyak, dapat mereka manfaatkan sebagai barang kerajinan berupa cincin, bahkan bahan bakar lampu minyak.

Lalu, ketika saya bertanya kepada Petrus, kenapa Minggu pagi itu begitu sepi, tak ada aktivitas para lamafa.

Petrus menjelaskan mereka pantang berburu paus pada hari Minggu karena itu adalah hari beribadah di gereja.

Walau saya tak dapat menyaksikan bagaimana perburuan paus dilakukan, namun sedikit banyak gambaran tentang kampung Lamalera dapat saya dapatkan.

Usai membeli kenang-kenangan berupa kain tenun dan cincin Orca, sore itu saya kembali ke Lewoleba, untuk kemudian kembali ke Larantuka, Flores.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR