Pemandangan di Pantai Mawun, Lombok, NTB. Ilustrasi Awan
Pemandangan di Pantai Mawun, Lombok, NTB. Beritagar.id / Yoseph Edwin

Pantai-pantai tersembunyi di selatan Lombok

Selain Pantai Kuta, Seger, dan Tanjung Aan, daerah Lombok Tengah juga memiliki sejumlah pantai yang masih tergolong perawan.

Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki sejumlah Gili atau pulau-pulau kecil. Masing-masing kabupaten memiliki Gili andalan yang menawarkan pesona alam unik.

Sebut saja kabupaten Lombok Utara yang terkenal dengan Gili Trawangan, Gili Meno dan, yang paling populer, Gili Air.

Kabupaten lain juga memiliki Gili yang tidak kalah elok. Seperti Lombok Barat dengan Gili Nanggu, Gili Kedis, Gili Sudak. Lalu Lombok Timur dengan Gili Lawang, Gili Sulat, Gili Kapal, dan Gili Kondo.

Bagian selatan yang masuk kawasan Lombok Tengah tidak memiliki Gili andalan sepopuler Gili-Gili di kabupaten lain. Meski demikian, Lombok Tengah dianugerahi pantai dengan keindahan tersendiri, seperti Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Pantai Tanjung Aan.

Tidak hanya itu, wilayah ini masih memiliki banyak pantai yang tidak kalah cantik. Di antaranya Pantai Semeti, Pantai Mawi, Pantai Mawun, dan Pantai Selong Belanak yang lokasinya bersebelahan.

Pantai Semeti

Pantai Semeti yang relatif sepi pengunjung dan memiliki ombak besar.
Pantai Semeti yang relatif sepi pengunjung dan memiliki ombak besar. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Dari empat pantai yang disebutkan di atas, Pantai Semeti paling sepi pengunjung. Anda harus menempuh perjalanan sekitar 50km dari pusat Kota Mataram, atau 1,5 jam dengan bermobil.

Mendekati lokasi kontur jalan naik turun berbukit-bukit. Sebab Pantai Semeti berada di balik perbukitan.

Sebelum masuk, Anda akan ditagih retribusi oleh kelompok pemuda lokal. Nilainya Rp20 ribu untuk mobil atau Rp10 ribu bagi yang bermotor.

Setelah itu, masih diperlukan perjalanan sekitar 15 menit untuk mencapai bibir pantai. Jalanan di sini juga tidak mulus. Sebagian jalan terlihat sempat diaspal namun kondisinya telah rusak parah.

Sebagian lagi juga masih berupa tanah kering akan akan sangat menantang jika hari sedang hujan. Sebelah kiri dan kanan dipenuhi ladang jagung atau semak belukar.

Sampai di bibir pantai Anda akan dihadapkan pada pantai yang tidak terlalu landai namun berpanorama indah dengan bulir pasir sebesar merica. Pantai Semeti memiliki bukit-bukit kecil dengan bebatuan unik yang dapat didaki dengan mudah.

Untuk memaksimalkan pandangan, Anda dapat naik ke bukit di sebelah kiri setelah masuk ke area pantai. Bebatuan di bukit ini memiliki rupa layaknya gabungan banyak "balok". Sedikit mengingatkan kita akan bentuk batu kripton dalam film Superman.

Pantai sepi ini tidak punya banyak fasilitas. Hanya terlihat beberapa pedagang asongan yang tidak memiliki lapak tetap. Meskipun begitu ada pondok-pondok yang bisa digunakan untuk bersantai dan berteduh di siang hari.

Pantai Mawi

Pemandangan dari bibir Pantai Mawi, bersebelahan dengan Semeti.
Pemandangan dari bibir Pantai Mawi, bersebelahan dengan Semeti. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Pantai Mawi bersebelahan dengan Pantai Semeti. Jika Pantai Semeti ada di sebelah kiri jalan masuk, maka Mawi ada di sebelah kanan dengan jarak sekitar dua kilometer. Keduanya berada dalam satu area, jadi tidak perlu membayar retribusi lagi.

Meski tak seluas Semeti, ketika sampai di sini akan terlihat suasana yang lebih hidup. Hal ini karena terdapat beberapa fasilitas umum seperti toilet, warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman, hingga musala. Pengunjungnya mayoritas wisatawan mancanegara.

Baik Semeti dan Mawi memiliki pantai dengan ombak cukup besar dan banyak karang. Jadi berenang tidak disarankan. Berselancar pun sebaiknya dilakukan oleh mereka yang sudah profesional. Untuk awam, sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan lebih tepat dilakukan di sini.

Pantai Mawun

Pantai Mawun yang berbentuk seperti laguna karena diapit dua tanjung.
Pantai Mawun yang berbentuk seperti laguna karena diapit dua tanjung. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Pantai Mawun suasananya lebih ramai dari Mawi. Pantai ini tak jauh dari Pantai Kuta. Bentuknya seperti laguna karena ada dua bukit yang memeluknya.

Pantai ini memiliki bentangan yang lebih luas juga akses jalan yang lebih baik ketimbang dua pantai di atas. Tidak seperti di Semeti dan Mawi, di Mawun Anda akan diberikan karcis setelah membayar retribusi senilai Rp10 ribu.

Deburan ombak di Mawun lebih kalem ketimbang di Semeti dan Mawi, selain itu karangnya juga tidak sebanyak di dua pantai tersebut. Oleh karena itu, Mawun cocok untuk para peselancar pemula.

Jangan takut haus dan lapar karena ada lebih banyak warung yang berjualan di sini. Bagi yang ingin sekaligus berbelanja kain atau gelang khas Lombok juga ada sejumlah penjaja yang mayoritas anak kecil.

Pantai Selong Belanak

Pantai Selong Belanak memiliki kontur landai dan ombak yang tidak besar, cocok untuk belajar berselancar.
Pantai Selong Belanak memiliki kontur landai dan ombak yang tidak besar, cocok untuk belajar berselancar. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Pantai ini merupakan pantai yang paling ramai ketimbang pantai-pantai di atas. Selong Belanak terkenal akan lokasi yang sangat baik untuk belajar berselancar. Sebab karakteristik pantainya yang lebar, sangat landai dengan deburan ombak kecil hingga sedang.

Anda akan dipungut Rp10 ribu untuk memasuki area. Terdapat lokasi parkir yang cukup memadai disini. Terlebih jika membawa motor, tempat parkirnya sudah dilengkapi dengan penutup sehingga motor tak panas terjemur.

Berjalan sedikit, Anda akan disuguhkan keramaian. Wisatawan mancanegara, pondok-pondok penjaja makanan dan buah tangan, juga pondok-pondok yang menawarkan layanan belajar berselancar.

Untuk mengambil kelas berselancar dikenakan tarif sekitar Rp200 ribu untuk durasi sekitar dua hingga tiga jam.

Bagi yang hanya ingin bersantai terdapat banyak kursi pantai lengkap dengan payung di atasnya. Namun Anda baru bisa duduk-duduk di situ jika sudah memesan makanan atau minuman dari warung pemilik kursi tersebut.

Masih dikelola oleh warga sekitar

Dari empat pantai di atas, semuanya belum dilengkapi infrastruktur yang memadai. Jalanan rusak, harga retribusi pun berbeda-beda.

Ini karena tidak dikelola langsung oleh pemerintah. Dinas Pariwisata NTB mengaku belum menemukan formula tepat untuk mengelolanya.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata NTB Lalu Kusuma Wijaya mengakui masih memberdayakan warga sekitar guna merawat beberapa penataan tersebut dan bahkan melengkapinya, sehingga penataan belum dilepas ke pihak ketiga. Retribusi yang didapatkan, kata Lalu, mengalir untuk kemajuan desa-desa sekitar.

"Hal itu (warga yang bertugas di tempat wisata) muncul secara alami, sealami guide-guide anak kecil yang mendatangi wisatawan untuk memandu, yang bahkan di antaranya fasih berbahasa inggris," kata Lalu saat ditemui di kantornya di Kota Mataram, Kamis (8/3/2018).

Menyoal retribusi yang beragam, pemerintah setempat hingga kini juga belum menatanya. Namun dengan diadakannya sistem Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) oleh pemerintah pusat kini nilainya bisa lebih tertib.

"Sistem ini membuat mereka (warga yang menjaga) tidak semaunya menentukan angka berapa, biasanya sudah ada angka hasil konsultasi dengan aparat desa. Jadi semuanya terukur dan jelas uang yang didapat untuk apa," pungkas Lalu Wijaya.