TUJUAN WISATA

Perjalanan mengamati erupsi Gunung Agung

Mengamati erupsi Gunung Agung, Bali.
Mengamati erupsi Gunung Agung, Bali. | Luh De Suriyani /Beritagar.id

Kawasan gunung berapi, walau berbahaya, bisa menjadi tempat yang menarik untuk diamati. Erupsi bisa menjadi momen di mana manusia meyakini kemahakuasaan alam, juga belajar untuk ikhlas. Mengingatkan kembali akan kelemahan antroposentrisme--keyakinan bahwa manusia adalah pusat alam semesta.

Namun, tentunya, pengamatan tersebut mesti dilakukan dengan mempertimbangkan masalah keamanan.

Gunung Agung di Pulau Bali, misalnya. Radius kawasan rawan bencana yang telah diperpendek menjadi radius 6 km dari puncak kawah--sebelumnya minimal 9 km--itu bisa dijadikan sebagai tujuan perjalanan untuk melihat langsung fenomena alam yang hebat.

Mari mulai menentukan latar apa yang ingin dicari bersama megahnya gunung berapi yang erupsi terakhir pada 1963 ini. Laut, sawah, atau pasar? Ketiganya bisa menjadi teman satu bingkai Sang Tohlangkir, demikian gunung ini disebut dan dihormati.

Dari Bandara Ngurah Rai jika menuju ke arah timur, puncak Gunung kadang terlihat jika cuaca cerah. Titik terdekat dari bandara untuk mengamati erupsi dengan aman adalah Pantai Sanur. Ditempuh sekitar 20 menit berkendara jika tak macet.

Para pemancing yang berendam di tengah laut saat surut, perahu nelayan, warga mandi, dan anak-anak bermain bola adalah bagian dari pemandangan Sanur tiap hari.

Sanur terkenal dengan keindahan Matahari saat terbit, cahayanya membantu menerangi Gunung Agung. Saat asap menyembur hingga ketinggian lebih dari 1.000 meter, bayangan gunung ini terasa dekat dari Sanur, walau berjarak sekitar 65 km.

Jika menginap di Sanur, kita akan lebih leluasa merekam aktivitas vulkanik yang selalu berubah. Kadang sangat kalem tanpa asap, meski saat ini masih level tertinggi, awas. Lalu tak terduga asap putih atau hitam membumbung, lalu bergerak sesuai arah angin.

Saat erupsi pertama akhir November 2017, debu vulkanik tertiup hingga Denpasar karena arah angin ke barat, membuat bandara ditutup selama tiga hari.

Bila ingin mengamati lebih dekat, mari kita lanjutkan perjalanan ke ujung timur Pulau Bali, berkendara sekitar 3 jam untuk menuju Amed, sebuah daerah wisata berupa kampung nelayan dengan alam bawah laut yang indah. Amed menjadi salah satu tempat nongkrong favorit para fotografer di Bali.

Berdasarkan jejak letusan 1963, daerah ini bukan merupakan jalur aliran lahar, sehingga tak termasuk kawasan rawan bencana. Perbukitan Desa Purwakerthi dan Bunutan di wilayah Amed, Jemeluk, dan sekitarnya juga memungkinkan kita melihat puncak gunung lebih dekat.

Sangat mudah menemukan akomodasi di sini dan harganya cukup terjangkau; mulai dari Rp 200 ribu per malam.

Gunung Agung terletak di sebelah barat kawasan ini sehingga bisa diamati dengan baik saat Mentari terbit di cakrawala.

Di kawasan Amed juga kita bisa memanjakan mata menyaksikan deretan perahu nelayan, serta pesisir yang dipenuhi bebatuan halus berwarna hitam yang merupakan sisa muntahan Gunung Agung pada masa lalu.

Jika terus melanjutkan perjalanan dari Amed ke arah utara, sekitar 10 menit kemudian kita akan berjumpa kawasan wisata penyelaman Tulamben.

Ketika radius rawan bencana masih mencapai 12 km, warga Tulamben harus mengungsi. Walau ada petani yang masih mencoba memanen hasil pertanian lahan keringnya seperti kacang tanah dan jagung.

Obyek wisata ini sempat mati. Hotel-hotel tutup karena pekerjanya mengungsi dan daerah ini tak boleh didekati.

Namun kini, saat Beritagar.id menyambanginya, keramaian sudah terlihat di pantai. Puluhan turis sudah tampak menyelam menjelajahi titik-titik penyelaman, termasuk di daerah tergoleknya bangkai kapal USAT Liberty.

Para penduduk setempat, terutama perempuan, kembali bekerja menjunjung tabung oksigen di kepalanya menuju pantai, untuk disewakan kepada yang hendak menyelam.

Sarana akomodasi dan operator selam di sini cukup lengkap, termasuk jika baru belajar menyelam dan snorkeling.

Seorang nelayan tampak tengah bersantai di kapalnya di Amed, Bali.
Seorang nelayan tampak tengah bersantai di kapalnya di Amed, Bali. | Luh De Suriyani /Beritagar.id

Kesiapsiagaan

Hal penting saat mengunjungi daerah bencana adalah kesiapsiagaan. Inilah beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan jika ingin melihat Gunung Agung dari lokasi terdekat.

Sebelum memulai perjalanan, pastikan ponsel terkoneksi internet agar Anda bisa memastikan apakah tanah yang dipijak berada dalam radius kawasan rawan bencana atau tidak.

Google Maps review bisa membantu dengan pencarian "cek posisi anda". Ketika fungsi GPS dihidupkan, otomatis terlihat di lingkaran radius manakah posisi saat ini. Pastikan tidak berada di lingkaran merah terdekat dengan Gunung Agung.

Kedua, masker adalah benda yang wajib dibawa karena bisa jadi Anda memasuki wilayah yang masih penuh asap atau abu erupsi.

Berikutnya, hindari perjalanan malam hari karena sulit mendokumentasikan Gunung Agung dengan cahaya minim. Saat ini gunung kerap diselimuti kabut atau awan sehingga perlu kesabaran menunggu terkuaknya awan jika ingin memantau kepulan asap di puncaknya.

Untuk meningkatkan sensitivitas kewaspadaan, perjalanan menikmati Gunung Agung makin lengkap jika berkunjung ke Pusat Pemantauan Gunung Agung di Rendang, Karangasem. Satu arah sebelum atau sesudah dari Amed dan Tulamben.

Salah satu area kerja para ahli vulkanologi ini terbuka untuk umum. Saat ini makin banyak dikunjungi turis yang ingin menapak tilas apa yang terjadi saat letusan 1963 dan kondisi saat ini.

Jika para peneliti sedang santai, mereka terbuka untuk diajak berbincang mengenai Gunung Agung dan vulkanologi. Suasana daerah itu juga teduh, dekat aliran air sungai yang bening.

Jadi, kita bisa menambah ilmu soal gunung berapi sekaligus menikmati keindahan alam ciptaan Sang Maha Kuasa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR