TUJUAN WISATA

Piknik bebas visa ke Rwanda

Pemandangan Danau Kivu di Rwanda bagian utara, berbatasan dengan Republik Demokrasi Kongo dan Uganda.
Pemandangan Danau Kivu di Rwanda bagian utara, berbatasan dengan Republik Demokrasi Kongo dan Uganda. | Petr Klabal /shutterstock

Bosan berlibur ke Eropa atau Amerika? Ingin mencoba berpetualang safari di Benua Afrika namun malas mengurus visa? Kini ada pilihan destinasi yang mungkin bisa Anda coba, yaitu Republik Rwanda.

Pemerintah negara di kawasan Afrika Timur itu pada awal November mengumumkan peraturan visa yang baru. Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara yang warganya dibebaskan dari visa oleh pemerintah Rwanda untuk masa kunjungan hingga maksimal 90 hari.

Selain itu, pemerintah yang dipimpin Presiden Paul Kagame itu juga memberikan fasilitas visa saat kedatangan (visa upon arrival) kepada warga seluruh negara di dunia untuk masa kunjungan hingga 30 hari. Kebijakan ini mulai berlaku 1 Januari 2018.

Pemerintah Indonesia, sejak tahun lalu telah memasukkan Rwanda sebagai salah satu dari 169 negara yang warganya bisa masuk ke Indonesia tanpa visa untuk kunjungan selama 30 hari.

Sebelumnya, mengutip Lonely Planet, hanya warga dari beberapa negara yang bisa masuk ke Rwanda tanpa visa. Kebanyakan adalah negara dari Benua Afrika.

Warga negara lain, sejak tahun 2011 mesti membayar US $30 (Rp405.000) untuk mendapatkan visa dengan masa berlaku 30 hari. Biaya itu turun dari sebelumnya US $60 untuk kunjungan selama 15 hari.

"Aturan baru visa membuka Rwanda kepada dunia dan hal itu bagus untuk bisnis. Rwanda yakin pergerakan orang yang bebas akan menumbuhkan perdagangan dan turisme, serta baik untuk kebijagan integrasi benua ini," kata Menteri Luar Negeri Rwanda, Louise Mushikiwabo, kepada Morocco World News.

"Kami sadar akan tantangan yang datang saat perbatasan dibuka, tetapi, sebagai sebuah negara, kami juga yakin keuntungan yang bakal datang akan lebih besar daripada potensi kerugiannya."

Rwanda adalah negara yang dikelilingi daratan. Negara yang merdeka dari pendudukan Belgia pada 1 juli 1962 itu berbatasan dengan Republik Demokratik Kongo di barat, Uganda di utara, Tanzania di timur, dan Burundi di selatan.

Konflik antara Suku Hutu yang menguasai pemerintahan dan Suku Tutsi sempat membawa negara itu dalam sejarah kelam. Peperangan besar-besaran antara kedua suku terjadi pada periode April-Juni 1994. Korban tewas diperkirakan mencapai 800.000 orang dengan korban terbanyak berasal dari Suku Tutsi. Demikian dipaparkan BBC.

Saat ini Rwanda tengah mencoba bangkit dari sejarah kelam tersebut, dipimpin Presiden Paul Kagame, yang saat konflik terjadi adalah pemimpin Suku Tutsi. Salah satu cara untuk mempercepat perkembangan negara tersebut adalah meningkatkan perekonomian melalui wisata.

Kigali Convention Center yang unik merupakan salah satu upaya pemerintah Rwanda untuk menarik pengunjung ke negara tersebut.
Kigali Convention Center yang unik merupakan salah satu upaya pemerintah Rwanda untuk menarik pengunjung ke negara tersebut. | Stephanie Braconnier /Shutterstock

Menurut Bloomberg (28/9), pada periode 2014-2016 pendapatan Rwanda dari turisme naik 30 persen menjadi US $400 juta (Rp5,4 triliun) dan untuk pertama kalinya melebihi pendapatan dari ekspor kopi.

Oleh karena itu, Kigali--ibu kota negara berpenduduk 12 juta jiwa itu--terus dibenahi untuk menarik perhatian para turis dan mempermudah mereka yang berkunjung ke Rwanda.

Saat ini, menurut CTVNews, sekitar 1,2 juta orang datang berkunjung ke negara itu setiap tahunnya, baik untuk bisnis maupun wisata.

Apa yang menarik untuk disaksikan di Rwanda?

Seperti sebagian besar negara di Afrika lainnya, pesona alam masih menjadi jualan utama pada mereka yang melancong ke Rwanda. Ragam ekosistem, satwa liar, dan taman nasional menjadi daya tarik bagi para turis.

Bagi yang gemar mendaki, bisa mencoba jelajah gunung berapi di Rwanda. Beberapa puncak gunung berapi yang tidak aktif adalah Bisoke, Sabinyo, Gahinga, Muhabura, dan Karisimbi.

Melacak gorila menjadi salah satu jualan wisata di Rwanda.
Melacak gorila menjadi salah satu jualan wisata di Rwanda. | Marian Galovic /Shutterstock

Anda juga bisa mengikuti kegiatan melacak gorila (gorilla tracking). Dengan total kurang dari 900 gorila gunung yang tersisa di dunia, lebih dari setengahnya tinggal di Pegunungan Virunga, yang terletak di antara Rwanda, Uganda, dan Republik Demokratik Kongo.

Meskipun kegiatan ini terbilang mahal, tetapi akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Pada awal tahun ini Rwanda menggandakan tarif izin melacak gorila menjadi US $1.500 per orang; lebih mahal dari tarif US $600 yang ditetapkan pemerintah Uganda untuk kegiatan yang serupa.

Untuk menikmati matahari terbit dan terbenam, Anda bisa pergi ke tepi Danau Kivu. Di danau ini, pengunjung juga bisa melihat kegiatan nelayan. Kingfisher Journeys menawarkan perjalanan kayak di sepanjang Pantai Kivu, mulai dari kunjungan sore hingga petualangan beberapa hari.

Bila berminat menginap di tenda, Anda bisa melakukannya di Danau Burera. Danau ini terletak di kaki gunung berapi Muhabura. Danau yang kembar dengan Danau Ruhondo ini memiliki warna biru muda dengan pemandangan perbukitan.

Selain menjelajah alam Rwanda, jangan lewatkan salah satu pertunjukkan budaya yaitu tari intore, tradisi artistik yang dibawakan oleh penari profesional.

Repost from @linnywangwang #rwanda #dance #intore #africa #kids #dance

A post shared by Embroidery Workshop in Rwanda (@ibaba_rwanda) on

Salah satu provinsi di Rwanda yang cocok untuk wisatawan adalah Kigali yang menawarkan objek wisata berupa pusat perbelanjaan terbesar di Pasar Kimironko. Pasar ini menjual pakaian bekas, buah dan sayuran, ikan, kain, dan keranjang agaseke yang unik.

Di Rwanda, sapi sangat penting dalam budaya mereka. Hewan ini melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan identitas. Sapi juga masih digunakan untuk membayar mas kawin.

Sebagai salah satu hasil dari sapi, susu juga dinilai penting secara kultural. Banyak toko-toko kecil di Kigali yang khusus hanya menjual susu.

Jika Anda tertarik pada seni, bisa menyaksikan seni kontemporer Rwanda di Inema Arts Centre. Galeri seni ini menjadi tuan rumah bagi 14 seniman Rwanda yang berbeda.

Setelah puas bertualang, pastikan Anda mencoba kopi khas Rwanda. Sebab, negara ini merupakan penghasil berbagai kopi terbaik di dunia.

Untuk makanan, jangan lupa coba makan ikan besar di Nyamirambo, daerah dengan banyak bar, restoran, dan hiburan. Ikan besar atau dikenal sebagai nila besar dipanggang dengan bumbu dan rempah-rempah, adalah salah satu makanan khas Nyamirambo.

Saat ini tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Bandara Internasional Kigali di Rwanda. Namun beberapa maskapai menawarkan penerbangan dengan sekali hingga tiga kali transit.

Biaya penerbangan satu arah dari Bandara Soekarno-Hatta ke Kigali, menurut situs Skyscanner, mulai dari Rp8,25 juta hingga Rp38,6 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR