Rendang talua yang khas dari Payakumbuh

Ilustrasi
Ilustrasi
© Ariyani Tedjo /Shutterstock

Sekitar satu jam perjalanan dari Bukittinggi, Sumatera Barat terdapatlah kota Payakumbuh. Kota di atas Bukit Barisan ini punya berbagai jenis rendang dan sajian khas yang layak cicip.

Penggemar rendang, sebaiknya menjajal rendang yang satu ini. Namanya rendang talua alias rendang telur. Makanan khas Payakumbuh ini bukan telur bulat yang disajikan berbumbu rendang. Wujudnya malah berupa potongan tipis dan renyah dengan rasa gurih pedas khas rendang.

Di Payakumbuh, Anda dapat menemukan penjual rendang talua di banyak tempat, satu yang populer adalah Dapoer Rendang Riry. Di sini, rendang talua dijual dalam kemasan dengan harga belasan ribu Rupiah untuk kemasan paling kecil 200 gram. Anda juga bisa membelinya secara kiloan dengan harga sekitar Rp80 ribu per kilogram.

Sesuai namanya, rendang talua memang terbuat dari telur, namun proses pembuatannya yang cukup pelik membuat rendang ini tak lagi tampak layaknya olahan telur. Ada dua cara yang umumnya digunakan masyarakat Payakumbuh dalam mengolah rendang talua.

Pertama, telur dikocok dengan tepung tapioka dan garam hingga berwujud adonan. Bumbu jahe, laos, bawang putih dan cabai merah juga dimasukkan ke dalamnya. Setelah itu adonan didadar tipis dan dipotong kecil kecil.

Bumbu rendang dan santan dimasak di atas kayu bakar, ini membuat aromanya semakin sedap. Setelah santan berkurang dan minyak mulai keluar, baru potongan telur dimasukkan lalu diaduk di atas api kecil kira-kira tiga jam lamanya hingga semua mengering.

Cara kedua, bisa juga putih telur dikukus hingga matang lalu diiris tipis. Setelah dingin, telur digoreng hingga kering, baru dimasukkan ke dalam bumbu rendang. Telur dan bumbu dimasak di atas api kecil hingga mengering.

Karena sudah matang dan kering macam keripik, rendang talua dapat tahan hingga enam bulan lamanya. Biasanya rendang talua dijadikan lauk layaknya rendang biasa, atau bisa juga dijadikan kudapan.

A post shared by SurgaMakan (@surgamakan) on

Di Lampasi, pinggir Kota Payakumbuh berdirilah Kampung Rendang. Di sini ada belasan pengusaha rendang rumahan yang punya berbagai produk kreatif, antara lain rendang belut, rendang paru, rendang ubi dan kalio jengkol.

Selain rendang talua, jangan lupa untuk mencoba batiah dan galamai di Payakumbuh. Batiah adalah ketan goreng yang dikeringkan, sedangkan galamai adalah semacam dodol yang terbuat dari ketan namun alot dan lengket.

Payakumbuh juga terkenal akan wisata kuliner malam. Beberapa yang populer di kalangan masyarakat lokal adalah bubur cido dan martabak mesir.

Bubur cido dapat Anda temui di depan kantor lama Bupati Limapuluh Kota, persis di pinggir jalan utama Kota Payakumbuh. Bubur ini terdiri dari beragam pisang, disajikan bersama segelas minuman yang terbuat dari beragam tumbuhan herbal seperti sambiloto. Bubur yang lebih mirip minuman ini dipercaya masyarakat lokal dapat membantu membersihkan perut dari beragam sumber penyakit.

Untuk makanan, silakan coba Martabak Mesir H.Wan yang berada di pelataran parkir depan Tugu Adipura Payakumbuh. Buka sejak pukul 16.00 hingga dini hari, Anda tak hanya bisa mencicipi martabak mesir. Ada juga menu lain seperti cane dan aneka jenis minuman.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.