Susasana sentra kerajinan gerabah di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Konon kisahnya, tradisi turun temurun membuat gerabah ini terukir di salah satu relief di Candi Borobudur. Ilustrasi Awan
Susasana sentra kerajinan gerabah di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Konon kisahnya, tradisi turun temurun membuat gerabah ini terukir di salah satu relief di Candi Borobudur. Beritagar.id / Reza Fitriyanto

Riwayat dusun gerabah masa pra-Borobudur

Kekhasan Klipoh sebagai dusun penghasil gerabah perabot dapur sudah dikenal hingga ke luar dusun. Bahkan sejak ada media sosial, dikenal hingga mancanegara.

Tangan kiri Kani, 67 tahun, memutar tepian alat pemutar gerabah yang berbentuk lingkaran pipih. Selama alat berputar, kedua tangannya terampil bermain-main dengan tanah liat di atasnya.

Bak pesulap, segepok tanah liat itu telah berubah menjadi tutup periuk. Saat putaran melambat, tangan kanannya menghaluskan bagian atas tutup dengan kertas.

Sedangkan tangan kirinya mengatur ritme putaran mesin manual itu. Tutup periuk pun jadilah. Lengkap dengan bagian tengahnya yang menyembul untuk pegangan. Ukurannya pun telah dia perkirakan sesuai dengan lubang periuk pasangannya sehingga klop.

"Kalau kami sudah enggak ada, enggak ada lagi yang bikin (periuk) seperti ini," kata Lamno, 72 tahun, sambil memandang Kani, istrinya.

Sepasang suami istri yang sudah sepuh dan hidup sederhana itu saya temui di rumahnya di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Senin, 28 Mei 2018.

Mereka termasuk generasi kesekian dari nenek moyangnya yang memang pembuat gerabah secara turun-temurun di dusun itu. Dusun berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur yang dikenal sebagai penghasil gerabah.

Kekhasannya, gerabah yang dibuat sedari awal dusun itu ada berbentuk aneka perkakas dapur. Sebut saja periuk, penggorengan, anglo, tempayan, kendi, cobek dengan ukuran dari kecil, sedang, hingga besar.

Benda-benda berwarna cokelat muda itu sebagian masih dijemur di pelataran rumahnya. Sebagian lagi disimpan di rak dari bambu di rumah berdinding bata merah tanpa dipoles semen yang sederhana itu.

Semula mayoritas penduduk di sana mengais rezeki sebagai pengrajin gerabah perkakas rumah tangga, tapi kini menurun tinggal 25 persen. Dari persentase itu, pengrajin gerabah yang masih bertahan sebagai pembuat perkakas rumah tangga bisa dihitung dengan jari.

Termasuk suami istri Lamno. Itupun pengrajinnya membuat perkakas satu macam saja. Semisal pembuat periuk saja, atau penggorengan saja.

“Yang bikin komplit ya kami. Kalau ada yang pesan bentuk baru, asalkan ada gambarnya, bisa,” kata Lamno.

Sementara sisanya lebih suka membuat gerabah untuk aneka suvenir. Seperti miniatur candi, gantungan kunci bermacam bentuk.

Suvenir itu dijual di seputaran candi sebagai buah tangan yang menunjukkan kekhasan Borobudur. Pergeseran itu, menurut Lamno tak lepas dari benturan kemajuan zaman.

Suasana Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Proses pembuatan Gerabah.
Suasana Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Proses pembuatan Gerabah. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Generasi sekarang lebih menyukai pekerjaan yang simpel, tetapi lekas mendatangkan uang. Ibaratnya pagi menanam, sore memanen. Ketimbang harus berpayah-payah membuat gerabah yang setidaknya harus melalui enam tahapan.

Membuat badan periuk, membuat tepian mulut periuk, membentuk bagian alasnya, menghaluskan, menjemur, lalu membakarnya. Untuk menjemur membutuhkan waktu sehari agar menghasilkan periuk yang kuat dan tidak mudah retak atau pecah.

“Sekarang sudah enggak mau telaten bikin kayak gini. Mending ke taman candi. Pulang sore bawa duit berapa pun,” kata Lamno mengomentari nyaris pupusnya generasi penerus kerajinan gerabah perabot dapur ini.

Adiknya, Supoyo, adalah salah satu pengrajin gerabah yang memilih untuk membuat suvenir. Lambo mengaku enggan mengikuti. “Kalau saya ikut-ikutan, nanti tengkulak enggak mau meladeni,” kata Lamno.

Bagaimana pun, kekhasan Klipoh sebagai dusun penghasil gerabah perabot dapur itu sudah dikenal hingga ke luar dusun. Bahkan sejak ada media sosial, menurut Lamno, nama Klipoh sudah dikenal hingga mancanegara.

Tak heran, selalu ada pemesan perkakas dapur dari tanah liat itu kepada Lamno. Bentuk dan fungsinya beragam. Semisal, periuk besar buat memasak, periuk kecil untuk menyimpan ari-ari atau plasenta bayi yang baru lahir untuk dipendam dalam tanah.

Biasanya tengkulak atau pengepul datang dengan mobil bak terbuka untuk mengusung pesanan. “Sekali angkut dua ribu pesanan,” kata Kani yang barusan kedatangan tengkulak beberapa saat sebelum saya datang.

Pesanan akan didrop di gudang di Muntilan. Lalu dibagikan ke bakul-bakul untuk dijual. Harganya beragam mulai dari Rp3.500 sampai Rp15 ribu. Bergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

Kondisi saat ini jauh lebih baik ketika zaman 1965-1967 lalu. Masa itu, Lamno menjajakan gerabah-gerabahnya dengan dipanggul dan berjalan kaki. Jika malam tiba, Lamno pun terpaksa tidur di pinggir jalan.

"Enggak berani numpang tidur di rumah orang,” tutur Lamno mengingat masa-masa sulit pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 itu.

Kini, Lamno dan Kani tinggal menunggu pesanan. Jumlah pesanan yang banyak pun tak semua bisa dipenuhi dengan membuat sendiri.

Sering kali mereka meminta bantuan pengrajin lain untuk membuatkan yang kemudian mereka beli. Dari hasil usaha kecilnya bertahun-tahun itu, Lamno bisa menabung dan bersiap menunaikan ibadah umrah bersama anak-anaknya pada November mendatang.

Patung ibu perajin gerabah (kiri) dan Lamno (kanan), salah seorang perajin gerabah di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Konon kisahnya, tradisi turun temurun membuat gerabah ini terukir di salah satu relief di Candi Borobudur.
Patung ibu perajin gerabah (kiri) dan Lamno (kanan), salah seorang perajin gerabah di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Konon kisahnya, tradisi turun temurun membuat gerabah ini terukir di salah satu relief di Candi Borobudur. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Dongeng Lamno pun tak berhenti. Keberadaan Klipoh yang kemudian ditetapkan menjadi desa wisata penghasil gerabah itu ada riwayatnya.

Konon berdasar cerita dari mulut ke mulut kakek neneknya, Klipoh dulunya belantara pohon jati. Lalu datanglah seorang perempuan yang tak diketahui asal usulnya dan menetap di sana.

Namanya Nyai Kalipah. Dia menikah dengan lelaki yang juga seorang pendatang. Mereka menetap di barat dusun di tepi sungai. Suami istri itu mempunyai hobi berbeda.

Suaminya suka memelihara perkutut putih. Nyai Kalipah suka membuat kundi. Istilah “kundi” itu sama dengan gerabah, yaitu perkakas dari tanah liat.

Selanjutnya setiap anak perempuan di sana sudah belajar membuat kundi sedari kecil. Begitu pun Kani yang mulai mengenal kundi sejak umur 10 tahun. Sedangkan anak laki-laki bertugas mencari kayu bakar.

Nyai Kalipah dan suaminya pun beranak keturunan di sana. Suatu ketika Nyai Kalipah berkata, apabila ada kemajuan zaman yang membuat tempat itu menjadi lebih baik akan dibuat dusun dengan nama Dusun Kalipah.

“Tapi lidah orang dusun lebih luwes menyebutnya klipoh. Jadinya Dusun Klipoh,” kata Lamno. Sebagai penanda, sebuah patung berwarna merah yang menggambarkan sosok perempuan berkebaya dan bersanggul membawa periuk dibuat di tepi jalan.

Selain kisah Nyai Kalipah, keberadaan dusun penghasil gerabah perkakas dapur itu pun diduga tak lepas dari sejarah Candi Borobudur. Mengingat salah satu relief candi yang seingat Lamno terletak di sisi barat menggambarkan keberadaan dusun itu.

Pada relief digambarkan sosok perempuan menggendong periuk diikuti rombongan anak kecil di belakangnya. Kisah pada relief itu disebut Baratayuda.

Namun, masyarakat dusunnya menyebut dengan “Brayut” yang berarti makan sedikit, tetapi anaknya banyak. Kisah itu tak jauh beda dari gambaran penduduk di sana yang dari penghasilannya sebagai pengrajin gerabah tak cukup membuat perut kenyang.

“Jadi tidak heran kalau wisatawan dari candi ke sini. Karena Klipoh ada kaitannya dengan candi,” kata Lamno yang menengarai Dusun Klipoh ada sebelum candi dibangun pada sekitar abad 7-8 Masehi.

Klipoh pun menjadi bagian dari paket wisata Borobudur agen-agen perjalanan wisata. Mengingat keunikan Klipoh yang dinilai masih mempertahankan sejarahnya sebagai penghasil gerabah secara tradisional.

Supoyo pun mendirikan Galeri Komunitas di samping rumahnya untuk tempat workshop. Wisatawan yang datang, baik turis asing maupun domestik yang ingin belajar membuat gerabah bisa berkunjung ke sana dengan tarif Rp15 ribu per orang.

Hanya saja, untuk mencapai ke sana baru bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau pun melalui agen perjalanan wisata.