KULINER NUSANTARA

Sego lemeng, bekal para gerilyawan

Ilustrasi: Nasi ketan yang dibungkus daun pisang
Ilustrasi: Nasi ketan yang dibungkus daun pisang | Adamlee01 /Shutterstock

Pada zaman penjajahan, gerilyawan yang sedang berjuang menjadikan masakan ini sebagai salah satu tumpuan hidup. Mari mengenal sego lemeng khas Banyuwangi.

Ya, nasi Lemeng adalah salah satu kuliner khas Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ciri khas sego lemeng adalah proses memasaknya, yakni dimasukkan ke batang bambu dan dibakar di tungku dengan menggunakan kayu bakar.

Nasi yang digulung dengan daun pisang dan diisi dengan cacahan daging ayam atau ikan asin ini lalu dimasukkan ke dalam bilah bambu dan dibakar sebelum disantap. Gurih dan sedap tercipta dari aroma daun pisang dan bau asap dari pembakaran bambu.

Nasi lemang atau disebut juga sego lemeng ini kini hampir punah. Sajian ini tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas daerah, tapi juga memiliki sejarah.

Dari cerita turun menurun warga desa Banjar, sego lemeng adalah makanan bekal para gerilyawan yang sedang melakukan perlawanan terhadap penjajah Kolonial Belanda.

Ketika itu para pejuang berusaha memenuhi kebutuhan makanan di tengah kondisi sulit. Mereka kemudian membuat sego lemeng untuk bertahan hidup ketika bersembunyi dan berjuang di hutan.

Seperti diceritakan Lukman Hakim, Ketua Adat Desa Banjar. "Jadi saat melakukan gerilya di hutan melawan Kolonial Belanda, pendahulu kami bertahan di dalam dengan mengonsumsi Sego Lemeng."

"Lemeng itu artinya agar perut menjadi tenang. Kenyang, dan tetap lemang," katanya ditulis Merdeka.com.

Senada dengan Lukman, salah satu warga Banjarsari, Murti dinukil Kompas.com, mengatakan nasi Lemeng tidak lepas dari sejarah terbentuknya Kabupaten Banyuwangi. Nasi lemeng adalah bekal pada pejuang Kerajaan Blambangan saat melawan penjajah.

Bentuknya seperti lontong atau lemper tapi karena ditanak dalam waktu lama, nasi lemeng lebih tahan lama dan tidak mudah basi.

Nasi lemeng memang lebih awet dan masih bisa dikonsumsi paling tidak tiga hari setelah dibuat. Ini karena proses memasak dengan metode slow-cook, asap yang dihasilkan dari proses pembakaran ini juga berfungsi sebagai pengawet alami.

View this post on Instagram

[EVENT] . Kemarin sore berkunjung ke Festival Sego Lemeng & Kopi Uthek di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi Event tahunan ini mengangkat Sego Lemeng menjadi daya tarik kuliner setempat. Nasi bercampur santan dan di dalamnya terdapat isian macam ikan, ayam, atau daging sapi. Dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar Setelah matang, Sego Lemeng disajikan dengan sambel goreng teri, irisan telur dadar, dan sambel kecombrang yang orang lokal menyebutnya dg sebutan Sambel Lucu (Lucu, bahasa lokal dari kecombrang) . Rasa gurih dari sego lemeng berpadu dengan pedas asem dan segarnya sambel lucu menjadi perpaduan kuliner yang unik @menpar.ariefyahya @azwaranas.a3 @banyuwangi_kab #hobimakanbanyuwangi #banyuwangi #desabanjar #segolemeng #kulinerbanyuwangi #banyuwangikuliner #foodiesbanyuwangi #banyuwangifoodies #instafood #foodgramers #indofoodgram

A post shared by Referensi Kuliner Banyuwangi (@hobimakan.banyuwangi) on

Membuat nasi lemeng bisa Anda praktikkan sendiri. Prosesnya mirip dengan pembuatan nasi uduk atau nasi jaha khas Minahasa.

Bahan dasar nasi lemeng adalah beras ketan. Nasi khas Banjar, Banyuwangi yang kaya rempah ini membutuhkan bilah-bilah bambu sebagai wadah nasi. Kemudian bilah bambu berisi nasi dimasak di atas tungku perapian kayu yang sederhana.

Tahap awal adalah dengan mencuci beras yang sudah dicuci bersih dibumbui dengan paduan rempah. Rempah yang dipakai adalah daun salam, daun jeruk purut dan serai. Bahan-bahan rempah direndam lalu dimasak bersama nasi.

Untuk menciptakan cita rasa gurih pada nasi lemeng tambahkan santan segar. Semua bahan tersebut dimasak menjadi satu hingga matang.

Kemudian sebagai pelengkap, nasi lemeng diisi dengan cacahan daging ayam atau cincangan ikan tuna. Lalu semua dibungkus menjadi satu dalam daun pisang.

Ramuan nasi lemeng yang telah dibungkus seperti lontong tersebut dimasukkan dalam bambu khusus, kemudian dibakar dalam perapian hingga empat jam.

Resep nasi Lemeng yang asli hanya menggunakan garam untuk memberi rasa pada nasi," ujar Kepala Desa Banjiar Nur Hariri.

Biasanya menikmati sego lemeng ditemani dengan menyeruput kopi yang populer dengan sebutan kopi uthek.

Nama unik ini diberikan masyarakat Desa Banjar yang terbiasa menyajikan secangkir kopi pahit dengan gula aren terpisah.

Untuk menikmati kopi, warga desa terlebih dahulu menggigit gula aren. Kemudian, kopi diseruput. Bunyi thek saat mengggigit gula aren ini yang membuat kopi disebut dengan nama kopi uthek.

Perpaduan gula aren dan kopi akan menghasilkan citarasa kopi yang unik dan nikmat.

Sego lemeng dan kopi uthek pun menjadi kuliner khas Desa Banjar. Khususnya sego lemeng yang sudah turun menurun dari nenek moyang.

Bahkan hingga saat ini warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Desa Banjar masih bisa mengonsumsi kuliner gerilya ini.

Dikatakan oleh Kepala Desa Banjar Nur Hariri, dulu sego lemeng jadi bekal para pejuang. Kini, nasi yang dibungkus daun pisang ini dijadikan bekal warga saat bekerja di kebun.

Pemerintah setempat pun gencar memperkenalkan sego lemeng untuk menjaga budaya lokal. Serta menjadikan sego lemeng sebagai kuliner khas Desa Banjar untuk menarik para pelancong datang.

Berbagai festival diadakan, mulai dari Festival 4444 Sego Lemeng hingga kegiatan tahunan yaitu Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek. Festival ini sudah berjalan tiga tahun.

Di festival ini, pengunjung bisa berwisata kuliner sambil menikmati hijaunya alam Banjar. Apalagi lokasi desa ini berada dekat Gunung Ijen. Udara yang dingin, cocok untuk menikmati hangatnya nasi lemeng dan kopi uthek.

Untuk menikmati satu porsi sego lemeng, dibanderol mulai harga Rp15 ribu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR