Pantai Ampenan, salah satu lokasi bersejarah di kota Mataram Ilustrasi Awan
Pantai Ampenan, salah satu lokasi bersejarah di kota Mataram Beritagar.id / Yoseph Edwin

Sejarah dan kuliner Kota Mataram

Mari menggali sejarah Lombok sekaligus mencoba kuliner khas NTB yang memiliki ciri khas pedas di Kota Mataram.

Panorama alam nan indah, tak dapat dimungkiri, adalah hal utama yang ditawarkan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Timur. Mulai dari hamparan pantai hingga dataran tinggi yang berpuncak di Gunung Rinjani menjadi magnet bagi para pelancong untuk datang ke sana.

Namun sebenarnya, banyak hal lain yang menarik untuk diperhatikan di pulau dengan luas 4.725 km persegi itu.

Budaya, misalnya. Di kawasan itu terdapat Desa Sade dan Ende yang menjadi representasi kecil dari kehidupan masyarakat Suku Sasak pada masa lalu. Mereka masih mempertahankan tradisi peninggalan nenek moyang dengan kuat.

Kalau Anda datang untuk melihat sejarah perkembangan pulau tersebut, Kota Lombok adalah tempatnya.

Ibu Kota Provinsi NTB tersebut berbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat pada bagian utara, timur, dan selatan, serta Selat Lombok di bagian barat. Luasnya mencapai 61,3 km persegi, yang terbagi dalam enam kecamatan. Jumlah penduduknya, menurut data 2016, mencapai 459.314 jiwa.

Mataram sempat menjadi pintu masuk utama pulau ini, terutama ketika Bandara Selaparang dan Pelabuhan Ampenan masih beroperasi penuh.

Setelah Bandara Internasional Lombok di Kabupaten Lombok Tengah beroperasi pada 2011, Selaparang kini hanya menjadi tempat latihan pesawat TNI-AU, walau sempat diwacanakan bakal diaktifkan kembali sebagai bandara untuk penerbangan jarak dekat.

Pada Desember 2017, TNI-AU memajang dua jenis pesawat latih AS-202 Bravo di Selaparang sebagai monumen kedirgantaraan untuk menginspirasi masyarakat yang mengunjunginya.

Sementara, sejak 1975, pintu masuk jalur laut ke Mataram dipindahkan dari Ampenan ke Teluk Lembar di Lombok Barat. Arus laut yang ganas di jalur menuju Ampenan--pelabuhan yang didirikan Belanda pada 1924--menjadi penyebabnya.

Kapan tepatnya manusia mulai tinggal di Mataram tidak diketahui dengan pasti. Namun Suku Sasak diperkirakan sudah menduduki daerah pesisir pantai Pulau Lombok sejak 4.000 tahun lalu. Ada yang berteori bahwa mereka adalah keturunan orang Jawa.

Laiknya sebuah daerah pesisir, asimilasi penduduk karena banyaknya pendatang dari daerah lain pun terjadi di Mataram. Suku sasak menjadi suku bangsa mayoritas penghuni Mataram, diikuti oleh Suku Bali. Kemudian sisanya adalah Tionghoa, Melayu, dan Arab.

Keanekaragaman tersebut tampak jelas pada peninggalan-peninggalan masa lalu yang tersebar di Mataram.

Oleh karena mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam dan Hindu, budaya dan arsitektur yang dipengaruhi kedua agama tersebut tampak jelas di kota ini, mulai dari Masjid Islamic Center, hingga Pura Pura Meru dan Pura Taman Air Mayura.

Beberapa waktu lalu, Beritagar.id sempat berkunjung ke Ibu Kota NTB tersebut. Inilah beberapa tempat yang menurut kami layak dikunjungi untuk mengetahui sejarah perkembangan Kota Mataram, juga tak lupa makanan yang mesti Anda coba jika berada di sana.

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Alat tenun, salah satu koleksi di Museum Negeri NTB.
Alat tenun, salah satu koleksi di Museum Negeri NTB. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Museum adalah tempat yang paling tepat untuk mendapatkan informasi sejarah sebuah kota. Tak banyak museum yang ada di Mataram, namun menurut kami, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dan koleksi di dalamnya sudah dapat mewakili sejarah budaya tidak hanya di Lombok tapi juga Pulau Sumbawa, dua pulau terbesar di NTB.

Museum yang diresmikan tahun 1982 ini menyimpan beragam benda-benda sejarah, sekitar 7.500 buah, dari benda seni hingga buaya muara sepanjang 4 meter yang diawetkan. Lokasinya berada di kecamatan Ampenan, di Jalan Panji Tilar Negara Tanjung Karang.

Pada bagian depan museum, disajikan kekayaan alam yang ada di NTB dari jenis bebatuan hingga koleksi alam seperti kupu-kupu. Turut dipajang buaya muara yang diawetkan.

Buaya itu berasal dari wilayah Dompu, Sumbawa. Panjang tubuhnya 4 meter dan lebar 1 meter--ukuran yang besar untuk buaya muara. Ia sempat menggegerkan warga Dompu karena pernah memakan warga setempat. Buaya tersebut akhirnya ditangkap, dibunuh, dan diawetkan, lalu diserahkan ke museum pada tahun 2010.

Ada juga sejumlah koleksi museum yang dipercaya oleh masyarakat memiliki kekuatan mistis. Di antaranya seperti benda penolak roh halus, pengusir roh jahat, serta penangkal petir.

Museum ini dibuka setiap hari Selasa sampai Kamis pada jam 08.00-14.00 WITA, Jumat 08.00-11.00 , Sabtu 08.00-12.30, dan Minggu 08.00-14.00 . Sedangkan pada hari Senin dan libur nasional, museum ini tutup.

Kota Tua Ampenan

Salah satu sudut di Kota Tua Ampenan
Salah satu sudut di Kota Tua Ampenan | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Ampenan merupakan area yang berada di bagian barat Lombok yang berbatasan dengan selat Lombok, selat yang memisahkan dengan Pulau Bali. Dahulu kota ini merupakan kota yang sibuk dengan daerah dermaga yang menjadi jalur distribusi dengan pulau lain.

Namun sejak tahun 1975 dermaga di Ampenan sudah tidak lagi digunakan karena alasan ombak yang besar sehingga kurang aman bagi kapal-kapal untuk bersauh.

Seperti kota tua di Jakarta, para pelancong bisa menemukan jajaran gedung-gedung tua dengan gaya khas masa kolonial Belanda. Beberapa gedung terlihat teronggok kosong, seperti menunggu alam merobohkan mereka ke bentuk awal. Namun sebagian lagi masih aktif digunakan sebagai toko, gudang, dan tempat makan.

Di sini Anda dapat berfoto dengan latar bangunan kuno yang dicat warna-warna cerah. Kemudian menikmati tenggelamnya Matahari dengan mengunjungi Pantai Ampenan. Menikmati suasana pantai di Mataram sembari mencicipi ragam makanan yang disajikan oleh para pedagang di dalam area.

Ayam Taliwang

Rumah Makan Taliwang Udin, salah satu restoran populer penjual menu khas ini di Kota Mataram
Rumah Makan Taliwang Udin, salah satu restoran populer penjual menu khas ini di Kota Mataram | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Kota Mataram merupakan lokasi yang tepat jika Anda ingin mencoba kuliner khas Lombok tanpa harus bepergian jauh. Salah satu yang wajib dicoba, tentu saja, Ayam Taliwang.

Makanan yang terkenal ini berasal dari sebuah kampung bernama Taliwang di Sumbawa. Banyak warga kampung tersebut yang kemudian pindah dan menetap di Mataram, sehingga berdirilah kampung Taliwang Mataram. Ragam kuliner mereka, tentu saja, ikut dibawa.

Hal istimewa dari Ayam Taliwang adalah penggunaan ayam kampung muda yang baru berusia 3--5 bulan. Itu sebabnya Ayam Taliwang ukurannya kecil, satu ekor untuk satu orang. Ayam Taliwang dapat disajikan dengan cara digoreng atau dibakar yang sama-sama menghasilkan daging empuk dengan rasa khas.

Uang Rp30 ribu cukup untuk menyantap seekor ayam dengan nasi dan sambal.

Sate Rembiga dan plecing kangkung

Warung Sate Rembiga Utama, salah satu rumah makan yang menjual menu sate dengan rasa manis dan gurih ini
Warung Sate Rembiga Utama, salah satu rumah makan yang menjual menu sate dengan rasa manis dan gurih ini | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Tak jauh dari kawasan bekas bandara Selaparang ada Kelurahan Rembiga. Nah, dari daerah ini ada kuliner sate daging sapi yang populer. Namanya, tentu saja, Sate Rembiga, sate daging sapi yang memiliki rasa manis gurih dan sedikit pedas.

Bumbu yang digunakan untuk membuat sate Rembiga sebenarnya sederhana dan mudah untuk dicari yaitu cabe rawit, terasi, bawang putih, garam, dan gula. Daging sapi dipotong kecil-kecil, dan sebelum dibakar dagingnya terlebih dahulu direndam dengan bumbu hingga tiga jam supaya meresap.

Plecing Kangkung, cocok menjadi  panganan pendamping kala menyantap Ayam Taliwang maupun Sate Rembiga
Plecing Kangkung, cocok menjadi panganan pendamping kala menyantap Ayam Taliwang maupun Sate Rembiga | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Plecing Kangkung juga dapat dengan mudah ditemukan di berbagai rumah makan. Menu ini merupakan menu sayur pendamping lauk daging seperti Ayam Taliwang juga Sate Rembiga ini. Plecing Kangkung terdiri dari kangkung yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin dan segar dikombinasikan dengan sambal tomat.

Sambal tomatnya dibuat dari campuran cabai rawit, garam, terasi, dan tomat. Plecing Kangkung biasanya disajikan dengan tambahan sayuran seperti tauge, kacang panjang, kacang tanah goreng atau urap.

Menikmati satu porsi sate rembiga berisi 10 tusuk ditambah lontong dan plecing kangkung menghabiskan dana sekitar Rp40 ribu.

Nasi Balap Puyung

Nasi Balap buatan Inaq Esun menjadi awal munculnya panganan sederhana namun lezat dengan cita rasa pedas ini
Nasi Balap buatan Inaq Esun menjadi awal munculnya panganan sederhana namun lezat dengan cita rasa pedas ini | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Nasi Balap adalah salah satu ikon kuliner Mataram, seperti nasi jenggo di Denpasar Bali atau nasi kucing di Yogyakarta.

Mengapa dinamakan Nasi Balap? Ada yang mengatakan karena porsi makanan yang sedikit sehingga bisa disantap dengan cepat. Ada pula yang beranggapan karena nasi itu dibuat dalam jumlah besar untuk diecer di kaki lima.

Nasi Balap Puyung terkenal karena racikan bumbunya yang pedas dalam tampilan yang "kurang"menantang. Nasi Balap Puyung yang kini menyebar di berbagai tempat di Mataram awalnya dibuat oleh Inaq Esun di Puyung, Lombok Tengah. Inaq Esun mewariskan keterampilannya meracik bumbu pedas kepada keluarganya.

Satu porsi Nasi Balap Puyung terdiri dari nasi, kacang kedelai, ayam suwir goreng dan basah, dan biasanya dilengkapi dengan telur. Harganya ramah di kantong, satu porsi dibanderol Rp20 ribu saja.