Ilustrasi Borobudur dan kawasan di sekitarnya. Ilustrasi Awan
Ilustrasi Borobudur dan kawasan di sekitarnya. Beritagar.id / Sandy Nurdiansyah

Sensasi Borobudur dulu dan kini

Lain dulu dengan kini. Bicara Borobudur tak lagi sekadar candi. Ada berbagai lokasi wisata lain di sekitar, jumlahnya tak sedikit.

Bicara pelesiran ke Candi Borobudur acap kali dihubungkan dengan Yogyakarta. Bahkan, masih ada yang mengira candi itu berada di wilayah Yogyakarta.

Padahal, lokasi candi yang dibangun pada abad ke-8 Masehi semasa Dinasti Syailendra oleh umat Budha Mahayana itu berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Bicara Borobudur bukan sekadar candi. Ada berbagai lokasi wisata lain di sekitar, jumlahnya tak sedikit. Sebut saja Candi Mendut, Punthuk Setumbu, Keteb Pass, dan sederet lokasi lain.

Pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada tahun 1991 menjadikan Borobudur sebagai ikon di Kabupaten Magelang untuk menarik wisatawan. Tak terkecuali daerah tetangganya, Yogyakarta.

Borobudur sering kali diselipkan dalam paket wisata untuk destinasi Yogyakarta, khususnya bagi wisatawan mancanegara. Mengingat jarak Bandara Adisucipto di Yogyakarta ke Magelang hanya berkisar 40 kilometer.

Jarak tersebut lebih dekat ketimbang dari Bandara Ahmad Yani di Semarang yang menempuh jarak sekitar 100 kilometer ke Magelang atau pun dari Bandara Adisumarmo Surakarta-Magelang sejauh 86 kilometer.

Kontribusi pendapatan terbesar objek wisata di Magelang memang paling besar berasal dari kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur.

Pada 2015, sebanyak Rp96,49 miliar dari total pendapatan dari objek wisata Magelang Rp100,57 miliar dari Borobudur. Jumlah pengunjung mencapai 3,58 juta, mayoritas dari wisatawan domestik sebanyak 3,39 juta atau lebih dari 90 persen. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang berkunjung hanya 185.394 orang atau turun dari 224.287 orang pada 2013.

Data Taman Wisata Candi Borobudur pada 2017, jumlah wisatawan mancanegara meningkat 100 persen pada Juli-Oktober karena bertepatan dengan liburan sekolah di Eropa. Jumlah yang semula 700-800 per hari menjadi 1.400 per hari. Lalu, total wisatawan domestik mencapai 5.000-7.000 pada Senin-Jumat, 12.000-15.000 pada Sabtu-Ahad.

Peluang untuk menguatkan destinasi di sekitar Candi Borobudur pun terbaca potensial. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencanangkan pengembangan 50 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) hingga 2025. Borobudur adalah salah satunya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomer 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional, DPN adalah destinasi pariwisata yang berskala nasional. Wilayah pembangunannya meliputi DPN dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Sebanyak 50 DPN itu tersebar di 33 provinsi dan di 88 KSPN.

Untuk mewujudkannya, Februari 2018 lalu, Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, meluncurkan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Borubudur sebagai lembaga yang mengelola pembangunan kawasan pariwisata yang berada di sekitar Borobudur, meliputi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Kunjungan wisatawan asing ke wilayah BOP Borobudur ditargetkan mencapai 2 juta dengan penerimaan Rp2 miliar Dolar AS pada 2019. Caranya, dengan mengintegrasikan wisata Borobudur dengan daerah wisata sekitarnya.

Pembangunan bandara baru di Kulon Progo sebagai New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang masih menuai konflik dengan warga terdampak ditargetkan rampung pada 2019.

Kapasitas bandara baru yang dibuat lebih besar itu akan menjadi pintu masuk integrasi wisata Yogyakarta-Borobudur dengan membuka perjalanan darat untuk melintasi sejumlah objek wisata dari Kulon Progo-Bukit Menoreh-Borobudur. Ada juga rencana membuat jalan penghubung dengan kereta api dari bandara di Kulon Progo–Borobudur.

Alhasil, Borobudur pun terus berbenah. Taman Wisata Candi melakukan renovasi dua museum yang ada di dalamnya, yaitu Museum Karmawibhangga dan Museum Kapal Samudraraksa.

Kemudian, menempatkan sejumlah moda transportasi baru untuk mengantarkan wisatawan jalan-jalan di area candi yang luas tanpa harus kecapekan, seperti lima ekor gajah dengan tarif Rp50 ribu dan mobil antik VW cabrio warna-warni yang mengantarkan wisatawan keliling candi serta desa wisata sekitar candi dengan tarif mulai Rp250 ribu.

Baru-baru ini, Chattra atau bagian paling atas stupa Candi Borobudur yang sempat terpasang usai renovasi pertama masa Van Erp pada 1911 akan dipasang kembali. Rencana pemasangan atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Namun, pemasangan ditunda karena memunculkan penolakan sebagian besar arkeolog mengingat masih diperlukan kajian lebih mendalam. Kini, Chattra pun kembali disimpan di halaman Museum Karmawibhangga.

Sejumlah event digelar di Borobudur untuk menggenjot kedatangan wisatawan, seperti acara tahunan Perayaan Waisak, Borobudur Festival & Cultural Festival sejak 2011, dan Borobudur Marathon sejak 2017. Selain itu, ada pula event yang berbasis tradisi dengan melibatkan seniman di desa-desa sekitar Borobudur, yaitu Festival Ruwat Rawat Borobudur sejak 2003.

Kedatangan sejumlah tokoh dunia maupun sosok populer ke Borobudur juga menunjukkan bangunan cagar budaya dunia tersebut masih menjadi magnet wisatawan.

Sebut saja kedatangan pesepakbola asal Inggris David Beckam, pada 2007, mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada 2017, juga pelataran candi menjadi lokasi pre-wedding anak Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan calon suaminya saat itu, Bobby Afif Nasution.

Sayangnya, sejauh ini pengembangan destinasi dinilai belum ke arah bagaimana memberdayakan masyarakat lewat kebudayaan. “Bagaimana membesarkan Borobudur tanpa berbasis kebudayaan?” kritik penggagar Rawat Ruwat Borobudur, Sucoro.

Pemerintah Kabupaten Magelang pun mulai membuka alternatif wisata dengan menyulap 23 desa di sekitar candi menjadi desa wisata. Masing-masing mempunyai potensi yang berbeda seperti dijelaskan dalam infografik.