TUJUAN WISATA

Singapura di puncak daftar 100 kota paling ramah turis

Ikon Singapura Patung Merlion dan Marina Bay Sands yang tampak di kejauhan menjadi daya tarik yang memikat turis datang ke negara tersebut.
Ikon Singapura Patung Merlion dan Marina Bay Sands yang tampak di kejauhan menjadi daya tarik yang memikat turis datang ke negara tersebut. | Richie Chan /shutterstock

Saat akan melancong ke kota lain, Anda mungkin berpikir seperti apa lokasinya atau bagaimana penduduknya demi merasa aman dan nyaman selama berada di daerah tersebut.

Sebagai panduan sebelum berkunjung kota lain, Anda bisa mengecek kota mana yang paling ramah bagi turis.

Baru-baru ini, agen perjalanan yang bermarkas di Belanda, Travelbird, menyusun daftar 100 kota paling ramah turis. Seratus kota tersebut dipilih dari daftar 500 kota paling sering dikunjungi di dunia, yang dirilis pada September.

Berikut ini kota-kota yang masuk dalam urutan 10 besar kota ramah turis:

1. Singapura - skor 8,22

2. Stockholm, Swedia - 8,01

3. Helsinki, Finlandia - 8,01

4. San Francisco, Amerika Serikat - 8

5. Rotterdam, Belanda - 7,98

6. Lisbon, Portugal - 7,9

7. Tokyo, Jepang - 7,89

8. Oslo, Norwegia - 7,88

9. Zurich, Swiss - 7,84

10. Orlando, Amerika Serikat - 7,81

Singapura mendapatkan nilai yang sangat baik. Negara ini memang dikenal dengan kebersihannya, pesona multibudaya, dan penggunaan tanda-tanda bahasa Inggris sehingga mudah dimengerti turis.

Ditulis Cntraveler, Singapura memiliki Bandara Internasional Changi dengan taman kupu-kupu, kolam renang, serta bioskop. Kota ini juga dinilai memiliki pusat jajanan terbaik dan, pastinya, ramah untuk turis.

Ada dua kota di Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut, yaitu Jakarta dan Denpasar.

Jakarta menempati peringkat ke-56 dengan 6,06 poin. Soal keamanan dan kebahagiaan warga lokal Ibu Kota Indonesia itu mendapat penilaian paling rendah--masing-masing dengan poin sama 2,57.

Sementara itu, walau dikenal sebagai daerah wisata, Denpasar hanya duduk di peringkat 82 dengan 4,93 poin. Nilai terendah untuk ibu kota Provinsi Bali ini--1,26--ada pada soal "keterbukaan rumah warga untuk menampung turis".

Bagaimana penilaian dilakukan?

Untuk menyusun daftar tersebut, ada 7 faktor yang dijadikan Travelbird sebagai dasar penilaian, yaitu pendapat ahli, jalan masuk ke kota tersebut (port of entry), keamanan, kebahagiaan penduduk lokal, kefasihan berbahasa Inggris, keterbukaan untuk menerima turis di kediaman pribadi, dan tingkat kepadatan turis (overtourism).

Faktor terakhir menjadi penting karena, menurut Travelbird, kalau sebuah kota menampung turis melebihi kapasitas yang dimilikinya maka berbagai hal negatif berisiko terjadi, seperti terlalu ramai, antrean panjang, dan biaya hidup meningkat.

Hal-hal negatif tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi penduduk lokal terutama soal penerimaan mereka terhadap para turis.

Setelah menentukan 7 faktor penilaian tersebut, langkah pertama yang dilakukan perusahaan travel itu adalah meminta lebih dari 15.000 jurnalis wisata untuk memberikan penilaian pada kota-kota yang pernah mereka kunjungi.

Lalu mereka memeriksa penilaian para turis, melalui ulasan daring, terhadap bandara, serta terminal kereta dan bus, untuk menentukan apakah para wisatawan merasa disambut dengan baik sejak menjejakkan kaki di kota itu untuk pertama kali.

Kemudian, Travelbird menggunakan data dari The Economist Intelligence Unit untuk memberi penilaian terhadap keamanan di kota tersebut.

Soal kebahagiaan warga setempat, mereka menjadikan Indeks Kebahagiaan Dunia yang dirilis PBB sebagai acuan penilaian.

Travelbird lalu membuat peringkat keterbukaan warga untuk mengakomodasi turis di rumah mereka dengan menggunakan data dari Coachsurfing.com, sebuah situs yang mempertemukan antara turis dan tuan rumah yang mau menampung di negara yang mereka tuju.

Bahasa Inggris ditetapkan sebagai salah satu faktor penilaian karena mereka menganggap bahasa tersebut yang paling banyak dan mudah digunakan di seluruh dunia.

Terakhir, untuk menentukan overtourism, Travelbird membandingkan rasio jumlah turis dengan jumlah penduduk di kota tersebut saat musim liburan, jumlah kamar hotel yang tersedia, dan persepsi penduduk kota itu terhadap para wisatawan.

"Kami melakukan studi ini sebagai langkah pertama menuju masa depan yang lebih berkelanjutan," kata CEO Travelbird, Steven Klooster.

Studi tersebut, lanjutnya, bisa menjadi peringatan awal bagi seluruh operator wisata, penduduk lokal, dan pemerintah setempat, terutama pada daerah yang mengalami overtourism, untuk menemukan solusi dari segala masalah yang mereka hadapi.

"Kami yakin turisme bisa memberi dampak positif pada tujuan wisata lokal. Dengan memahami isu yang dihadapi, pemikiran inovatif, dan peraturan yang masuk akal, kami bisa mempertahankan dan melindungi tujuan wisata itu hingga masa depan," pungkas Klooster.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR