TUJUAN WISATA

Tawaran keindahan dari jembatan gantung baru di Sukabumi

Ilustrasi jembatan gantung pejalan kaki di sebuah hutan.
Ilustrasi jembatan gantung pejalan kaki di sebuah hutan. | Avikingsadventure /Shutterstock.com

Sebuah tujuan wisata baru bagi para pencinta alam pegunungan dan ketinggian dikabarkan bakal segera hadir di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yang terletak di Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat.

Objek tersebut adalah sebuah jembatan gantung untuk pejalan kaki yang, mengutip Pikiran Rakyat, membentang 250 meter--walau Sukabumiupdate menulis panjangnya 240 meter--dan lebar 1,8 meter, serta pada ketinggian 150 meter di atas permukaan Bumi.

Ketinggian itu tampaknya akan cukup untuk memacu adrenalin dan menguji nyali para pelintas. Titik tertinggi jembatan gantung pejalan kaki terpanjang di dunia saat ini, Jembatan Suspensi Charles Kuonen di pegunungan Alpen, Swiss, yang panjangnya 494 meter, hanya berada pada ketinggian 86 meter dari tanah.

Jembatan baru tersebut dibangun untuk menghubungkan dua objek wisata, yaitu Situ Gunung dan kawasan Curug Sawer. Keberadaannya akan memangkas jarak antara kedua objek wisata itu sekitar 1 kilometer, mempercepat perjalanan wisatawan yang ingin mengunjungi dua objek itu sekaligus.

Akan tetapi, walau landasannya sudah tampak terhubung dari ujung ke ujung, namun jembatan yang menghabiskan dana Rp4 miliar tersebut belum bisa dipakai pejalan kaki karena pembangunannya masih belum selesai.

Mengutip Liputan6, jembatan yang berlokasi sekitar 700 meter dari pintu masuk utama TNGGP Resort Situ Gunung tersebut mulai dikerjakan pada Mei 2017 dan diharapkan selesai pada akhir Januari 2018.

Secara fisik, jembatan itu baru tuntas 80 persen. Ada beberapa elemen yang belum terpasang, seperti bagian pengaman dan masih perlu disempurnakannya baja pegangan samping jembatan.

Pada bagian tengah jembatan, akan dipasang pijakan dari kaca sepanjang 10 meter--pijakan lainnya dari kayu ulin--yang bisa membuat Anda menikmati pemandangan hutan di bagian bawah, atau malah berlari ketakutan.

Jembatan gantung ini diklaim mampu menahan berat hingga 55 ton, atau sekitar 150 orang. Namun, untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, kabarnya pihak pengelola hanya akan mengizinkan paling banyak 60 orang berada di jembatan pada waktu bersamaan.

Meski jembatan tersebut terlihat dapat dilalui kendaraan roda dua, namun hanya pejalan kaki yang diizinkan untuk melintasinya.

Jembatan gantung tersebut merupakan hasil kerja sama antara pihak swasta dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Balai Besar Cibodas, serta pengelola TNGGP seksi IV Situ Gunung.

Walau belum diresmikan, namun banyak pelancong yang penasaran dan nekat untuk melintasi jembatan yang saat ini dijaga oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Makodim 0607, dan Mapolres Sukabumi Kota.

Tim penjaga keamanan itu menjaga agar para pelancong tersebut tidak melintasi jembatan, namun masih mengizinkan mereka untuk sekadar mencoba berdiri pada beberapa meter dari ujung jembatan.

"Karena itu, kami menempatkan sejumlah petugas diperlintasan jembatan tersebut. Jembatan gantung msih ditutup untuk umum," kata Mahmud, Komandan Rayon Militer (Danramil) Cisaat.

Calon tujuan favorit

Jika sudah rampung, tentunya jembatan itu akan menjadi posisi paling ideal untuk melihat pemandangan TN Gunung Gede-Pangrango.

Karena keindahan alamnya, berfoto dari jembatan pastinya akan menjadi kegiatan yang bakal meramaikan jembatan tersebut.

Bagi mereka yang takut ketinggian, pihak pengelola akan menyiapkan alat pengaman body harness guna mengurangi kekhawatiran jatuh ke hutan damar di bawahnya.

Jika berjalan menyusuri jembatan mulai dari arah Situ Gunung, sekitar 300 meter setelah mencapai ujung satunya, Anda akan tiba di Curug Sawer.

Camat Kadudampit, Zaenal Abidin, berharap kehadiran jembatan ini bisa meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Situ Gunung TNGGP dan Cinumpang.

"Sudah pasti makin indah, karena jembatan itu adanya diantara hamparan pepohonan dan bukit. Tempatnya rimbun, asri dan sejuk. Sangat cocoklah untuk berselfie ria," ujar Zaenal dikutip pojokjabar.com.

Hingga kini pengelola kawasan pun belum menamakan jembatan tersebut. Ada tiga usulan yang tengah dipertimbangkan, yaitu Damar Cinta, Mbah Jalun, dan Situ Gunung.

Damar Cinta merujuk pada hutan pohon damar yang mengelilinginya dan Mbah Jalun adalah tokoh terkemuka dari Kudadampit. Usulan nama ketiga, tentu saja, karena titian itu terletak di kawasan Situ Gunung.

BACA JUGA