Tingkat hunian kamar hotel merangkak naik

Menara Gentala Arasy dan Jembatan Titian Arasy, merupakan tengara budaya dan sejarah Jambi
Menara Gentala Arasy dan Jembatan Titian Arasy, merupakan tengara budaya dan sejarah Jambi | Booklet Pariwisata Jambi

Menurut PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) pada akhir 2016, total kamar hotel di Indonesia mencapai 507 ribu kamar. Bila rata-rata kamar seharga Rp500 ribu, akan ada uang Rp1,3 triliun yang berputar. Industri perhotelan jadi sasaran empuk untuk menambah geliat perekonomian.

Lokadata Beritagar.id menelisik mikro data Susenas, BPS dan laporan Tingkat Penghunian Kamar Hotel 2016 untuk melihat pertumbuhan kunjungan tamu berdasarkan jumlah tingkat penghunian kamar hotel.

Jumlah tamu di hotel memang bukan indikator utama dalam melihat perkembangan pariwisata. Di lokasi tertentu, penghuni hotel bukanlah wisatawan, melainkan pebisnis. Namun, perhotelan menjadi salah satu penopang utama pariwisata.

Bila dilihat sepanjang 12 tahun terakhir (2004-2016), kenaikan secara konsisten terjadi pada Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPH) untuk hotel berbintang. Sedangkan, untuk hotel non-bintang mengalami fluktuasi.

Persentase hunian tertinggi, secara rata-rata nasional belum pernah mencapai 60 persen. Pada 2004 jumlah keterisian kamar hotel berbintang sebanyak 44,9 persen, dan pada 2016 menjadi 54,3 persen. Jumlah hunian kamar untuk jenis hotel non-bintang, pada 2004 mencapai 28,3 persen, dan pada 2016 naik menjadi 34,8 persen.

Kenaikan itu seiring dengan jumlah kamar yang tersedia dalam 12 tahun terakhir. Jumlah kamar untuk hotel berbintang naik dari 170 ribu pada 2004, menjadi 294 ribu pada 2016. Begitu pula dengan hotel non-bintang, naik dari 102 ribu menjadi 233 ribu kamar.

Kenaikan TPH di Indonesia itu juga bisa dilihat sepanjang dua tahun lalu. Kamar hotel di semua wilayah, mayoritas diisi tamu domestik. Dari 57,1 juta tamu yang menginap di hotel berbintang pada 2015, dominasinya adalah tamu domestik. Begitupun dari 23,75 juta tamu yang menginap di hotel non-bintang.

Proporsi angka itu masih berlaku pada 2016. Bahkan jumlah total tamu, baik untuk hotel berbintang maupun non-bintang, mengalami peningkatan. Kenaikan sangat drastis terjadi pada hotel non-bintang, lebih dari dua kali lipat dibanding 2015.

Wilayah dengan lonjakan tertinggi

Keterisian kamar hotel dalam dua tahun terakhir tampak pada sebagian data per provinsi. Misalnya untuk kamar hotel berbintang di 23 provinsi, seperti Jambi, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Papua, Bengkulu, NTB, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Sedangkan untuk jenis kamar hotel non-bintang lonjakan terjadi di 20 wilayah di Indonesia, di antaranya di Jawa Barat, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, NTT, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, dan Jambi.

Dalam dua tahun terakhir lonjakan tingkat keterisian kamar hotel bintang dan non-bintang terjadi di wilayah luar Jawa, yaitu Jambi, Sulawesi Utara, NTB, Papua, dan Bali.

Sedangkan penurunan hunian untuk jenis hotel bintang dan non-bintang terjadi di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kalimantan Utara.

Khusus di Jambi, hunian kamar hotel bintang pada 2016 dibanding dengan 2015, kenaikannya mencapai 26,12 persen. Sedangkan untuk kamar hotel non-bintang sebanyak 3,52 persen, atau tertinggi kedelapan.

Kenaikan jumlah hunian kamar hotel bintang di Jambi ini patut menjadi perhatian, karena capaiannya dalam dua tahun tersebut bisa mengalahkan wilayah wisata populer seperti Bali, NTB, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan Jakarta.

Di Bali, kenaikan tamu hotel berbintang hanya mencapai 0,6 persen, di DI Yogyakarta, justru mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. NTB mencatat kenaikan 7,2 persen, sedangkan di Jakarta justru turun 4,5 persen.

Dalam laporan Perkembangan Pariwisata Provinsi Jambi 2016 menyebutkan, pertumbuhan hotel meningkat dalam enam tahun terakhir. Untuk hotel bintang pada 2011 sebanyak 19 hotel dan 2016 menjadi 31 hotel. Sedangkan untuk hotel non-bintang pada 2011 sebanyak 125 hotel dan pada 2016 menjadi 168 hotel.

Peningkatan jumlah hotel di Jambi ini juga diikuti pertumbuhan kamar yang terisi atau tersewa. Rata-rata, jumlah kamar yang tersewa setiap tahunnya setengah dari jumlah kamar yang tersedia. Pada 2011 terisi 207.914 kamar, lalu pada 2016 laku sebanyak 264.281 kamar--baik untuk hotel bintang maupun non-bintang.

Peningkatan tingkat hunian kamar di Jambi, terkonfrmasi dengan peningkatan jumlah kedatangan dan keberangkatan penumpang pesawat sepanjang enam tahun (2011-2016). Ada tiga bandara yang melayani penerbangan, yaitu Bandara Sultan Thaha di Kota Jambi, Bandara Bungo, di Kabupaten Bungo, dan Bandara Depati Parbo di Kabupaten Kerinci.

Jumlah penumpang di tiga bandara itu, yang datang pada 2011 sebanyak 501.241, sedangkan yang meninggalkan Jambi mencapai 513.109. Pada 2015, penumpang yang datang naik menjadi 573.949, dan yang berangkat meningkat jadi 593.806 penumpang.

Adapun jumlah obyek wisata di Jambi sebanyak 42, tersebar di sebelas wilayah, yaitu Kerinci, Merangin, Sarolangun, Batang Hari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Tebo, Bungo, Kota Jambi, dan Kota Sungai Penuh.

Salah satu obyek wisata unggulan adalah Danau Ugo, di Desa Aur Gading, Kecamatan Bhatin XXIV, Kabupaten Batanghari. Obyek wisata ini tengah mengincar Anugerah Pesona Indonesia II/2017 untuk kategori obyek wisata baru terpopuler di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR