Foto area komplek Candi Borobudur. Ilustrasi Awan
Foto area komplek Candi Borobudur. Shutterstock / R.M Nunes

Tradisi meruwat dan merawat Borobudur

Ruwat rawat bukan dimaksudkan agar Borobudur terhindar dari bencana, melainkan agar manusia sebagai pengelola warisan budaya dapat mensucikan diri.

Candi Borobudur, Rabu, 18 April 2018 sore lembap usai diguyur hujan. Tanah di kaki candi becek dan lengket saat dipijak.

Namun, serombongan komunitas Brayat Panangkaran yang berjumlah tak lebih dari 100 orang itu tetap melakukan pradaksina, mengelilingi candi serah jarum jam diawali dari sisi timur.

Ritual itu dilakukan satu kali dengan berjalan kaki. Paling depan sebagai cucuk lampah adalah beberapa sesepuh dikawal para pembawa tombak.

Belakangnya ada pengusung satu gunungan berisi aneka sayur-mayur, seperti kol, loncang, sawi. Lalu sejumlah kelompok pekerja seni, seperti penari bertopeng barong, penari berdandan prajurit perempuan, juga pemain akrobat.

Warna-warni kostum tradisional mereka membuat suasana sekitar candi semarak. Kehadiran mereka menyita perhatian ratusan wisatawan yang lebih dahulu tiba.

Sejumlah kamera dan telepon seluler berkamera diacungkan untuk menangkap aktivitas mereka. Mengabadikan momen ritual kirab yang menjadi bagian dari agenda tahunan bertajuk Ruwat Rawat Borobudur yang tahun ini sudah berusia 15 tahun.

Wisatawan sore itu serasa mendapat berkah karena bisa melihat lelaku budaya di sela keindahan dan kemegahan Candi Borobudur.

Rombongan berhenti di depan batu besar prasasti. Di sana ada tanda tangan Presiden Soeharto yang ditorehkan dengan tinta emas menandai peresmian pemugaran tahap II Candi Borobudur pada 23 Februari 1983.

Pemugaran itu bekerja sama dengan Unesco dan didanai sejumlah pendonor swasta. Nama negara-negara yang bergabung dalam Unesco dan nama lembaga donor tercantum pada sisi lain batu prasasti.

Puncak ritual pun digelar oleh sejumlah seniman. Kain putih digelar bersama dua gepok sapu lidi.

Sejumlah pemain teater “Celoteh” dari Malang, seorang penyair Magelang, dan dua penari Brayat Panangkaran dari Bandung berkolaborasi. Mereka menggelar teatrikal tentang Karmawibhangga yang mengisahkan kehidupan duniawi manusia dari lahir hingga mati dengan tingkah laku yang langsung mendapatkan balasannya, baik karma baik maupun buruk.

Kisah Karmawibhangga itu ditorehkan dalam relief sisi bawah candi sebanyak 160 panel. Namun tinggal empat panel yang tersisa di sisi tenggara. Selebihnya ditutup batu tambahan dalam proses pembangunan candi yang alasannya masih diliputi misteri.

Kain penutup dipasang di Candi Borobudur saat terjadi erupsi Gunung Merapi.
Kain penutup dipasang di Candi Borobudur saat terjadi erupsi Gunung Merapi. | Bimo Seno /EPA

Ka ra ca na ha. La wa sa ta dha. Nya ya ja da pa. Nga tha ba ga ma,” seru penyair Bambang Eko yang mengucapkan geguritan atau puisi berbahasa Jawa yang dibuatnya pada 2012. Sementara dua penari mengapitnya sembari menari diiringi suara rinding, alat musik dari bilah bambu yang digetarkan di antara bibir.

Geguritan itu berupa membaca deretan aksara Jawa secara terbalik dari belakang ke depan yang disebut dengan istilah caraka walik. Makna yang dikandung pun terbalik.

Apabila deretan aksara Jawa itu dibaca sebagaimana lazimnya, yaitu ha na ca ra ka, dha ta sa wa la, pa da ja ya nya, ma ga bat ha nga bermakna ada utusan, saling bersitegang, mengadu kesaktian, akhirnya semua mati. Sebaliknya menjadi mari saling berhadapan tanpa duta, ada dialog, bersikap rendah hati, sehingga tidak ada korban.

“Manusia harus mulai memahami kalau jalannya sering terbalik. Lihat saja suasana sehari-hari, dialog di televisi. Nggugu karepe dhewe, merasa paling benar sendiri,” kata Bambang saat menjelaskan kepada saya.

Ada makna pertobatan, yaitu berputar 180 derajat dalam geguritan itu. Setidaknya ada lima unsur pertobatan yang mesti dipenuhi. Ada pengakuan merasa bersalah, membenci kesalahan, permohonan ampun, dan berjanji tak mengulangi dengan memperbarui hidup.

Festival Ruwat Rawat Borobudur berawal dari perjalanan kontemplasi seorang Sucoro, seniman karawitan Magelang. Salah satu korban penggusuran perluasan area Borobudur bertahun-tahun lalu itu melihat ada upaya pemerintah mengembangkan Borobudur agar bisa mensejahterakan masyarakat di tengah kompleksitas pengelolaan Borobudur.

Namun, tak ada satu pun konsep yang mengapresiasi budaya sebagai bagian dari upaya itu. Termasuk “Jagat Jawa” yang digulirkan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto pada 2003.

“Padahal budaya penting karena Borobudur sebagai warisan budaya,” kata Sucoro siang itu saat saya temui di rumah sederhananya di seberang pagar pembatas area parkir Candi Borobudur.

Dari depan rumahnya yang berhalaman jalanan aspal untuk akses lalu lintas, kirab itu dimulai menuju candi yang berjarak sekitar satu kilometer melalui pintu gerbang VIII.

Sucoro pun menggagas ruwat rawat itu pada 2003. Bukan dimaksudkan untuk meruwat Borobudur agar terhindar dari bencana. Melainkan ruwatan ditujukan kepada manusia sebagai pengelola warisan budaya untuk mensucikan diri. Mengingat warisan budaya yang disematkan pada candi yang berumur ribuan tahun itu mempunyai makna kehidupan yang luar biasa.

“Harus pakai niatan yang suci,” kata Sucoro dengan mimik serius.

Sedangkan rawat berarti pelestarian. Awalnya festival yang berisi agenda budaya itu hanya berlangsung 1-3 hari, kemudian sepekan hingga 2009. Durasinya ditambah hingga dua bulan sejak 2013 hingga kini. Sucoro tak menyangka gelaran budaya itu eksis hingga 15 tahun ini.

“Karena ini bukan proyek pemerintah. Tapi bentuk partisipasi warga untuk melestarikan warisan budaya,” kata Sucoro yang menerima bantuan dana dari pemerintah daerah sebatas untuk membeli trofi bagi pemenang lomba. Selebihnya dibiayai dengan saweran warga anggota komunitas yang jumlahnya kini mencapai 100 lebih kelompok.

Festival Ruwat Rawat Borobudur 2018 yang bertema Menggali Tradisi Menyemai Harmonisasi Kembangkan Destinasi ini berlangsung 6 Maret hingga 6 Mei 2018.

Permulaan festival diawali safari budaya di halaman candi menuju Ringinputih untuk melakukan Sedekah Beringin Kembar. Dilanjutkan Tradisi Sedekah Kedung Winong di Dusun Gleyoran.

Warga membagikan hasil bumi berupa aneka sayuran sekitar 450 paket dalam keranjang anyaman bambu kepada masyarakat. Satu paket sayuran seberat 12 kilogram yang merupakan hasil panen warga Brayat Panangkaran di desa masing-masing.

Sedekah itu bentuk apresiasi masyarakat di sekitar candi untuk menumbuhkan semangat pelestarian. “Jadi bukan hanya semangat menjual (acara wisata). Biar Borobudur bisa dinikmati anak cucu,” kata Sucoro.

Sejumlah kegiatan lainnya berupa pentas kesenian, dialog budaya, acara tradisi, renungan dan sarasehan budaya, juga kirab budaya. Hanya 10 persen kegiatan diadakan di kawasan candi.

Mayoritas kegiatan justru digelar di desa-desa sekitar candi. Sebanyak 23 desa telah berstatus menjadi desa wisata yang kegiatan seni budayanya mendapat pendampingan dari komunitas Brayat Panangkaran.

Ada perbedaan sebelum dan setelah mendapat pendampingan. Sebelumnya, kelompok-kelompok kesenian rakyat itu sebatas menari mengikuti alunan musik. Setelahnya mereka menciptakan tarian yang mengisahkan cerita Karmawibhangga yang dipahat dalam relief candi.

Sukoco menyebutnya Sendratari Kidung Karmawibhangga. “Tak sekedar menari, tapi ada cerita tentang Borobudur. Meski sekedar potongan relief (bukan cerita utuh),” kata Sukoco.

Di luar Ruwat Rawat Borobudur, sejumlah kelompok kesenian rakyat itu kerap diundang untuk mengisi gelaran acara. Kalau mendapatkan uang hasil tanggapan atau pementasan disisihkan. Sebagian untuk pengembangan kelompok seni budaya, sebagian lagi untuk menyewa lahan pertanian yang hasil panenan dibagikan saban pembukaan Ruwat Rawat Borobudur.

Foto 1 (kiri ) : Wisatawan di Candi Borobudur.
Foto2 (kanan) : Tarian dilakukan oleh masyarakat di pelataran Candi Borobudur.
Foto 1 (kiri ) : Wisatawan di Candi Borobudur. Foto2 (kanan) : Tarian dilakukan oleh masyarakat di pelataran Candi Borobudur. | Shutterstock /R.M Nunes