Turis Jerman pun ikut tradisi mandi lumpur di Bali

Sara, turis asal Jerman, tak ragu ikut melumuri tubuhnya dengan lumpur di Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (18/3/2018).
Sara, turis asal Jerman, tak ragu ikut melumuri tubuhnya dengan lumpur di Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (18/3/2018). | Bram Setiawan /Beritaga.id

Sara, warga negara Jerman, tak ragu melumuri tubuhnya dengan lumpur di kawasan hutan bakau (mangrove). Bahkan wajahnya pun tak luput dari polesan lumpur.

"Ini pengalaman mengesankan, tentu di Jerman hal seperti ini tidak ada," katanya saat ditemui Beritagar.id, Minggu (18/3/2018).

Sara larut dalam tradisi mebuug-buugan yang dilakukan oleh warga Desa Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali. Warga setempat rutin menggelar tradisi pasca Nyepi ini dalam tiga tahun terakhir.

Ratusan warga Desa Kedonganan berjalan menuju hutan bakau. Mereka menghampiri tumpukan lumpur yang tinggi. Namun bukan sembarangan lumpur yang mereka cari untuk melumuri tubuh.

"Lumpur yang berwarna merah," kata Wayan Damaris Surya, 21 tahun, salah seorang warga Desa Kedonganan. Wayan bermain lumpur bersama adik sepupunya, I Komang Dipayana, 7 tahun. Mereka terlihat nyaman ketika saling memoleskan lumpur.

Menurut Wayan, lumpur yang melekat di tubuhnya itu terasa dingin."Rasanya seperti pakai masker," ujarnya. Komang juga tak canggung bermain lumpur, meskipun langkahnya cukup berat tertanam di rawa. "Asyik, tapi waktu pertama kali agak takut, kalau sekarang sih enggak," tuturnya.

Sebelum berjalan beriringan menuju hutan bakau, warga melakukan ritual sembahyang. Kemudian saat berjalan di hutan bakau, warga pun bersorak-sorai.

Suasananya begitu jenaka, terutama ketika ada yang terjatuh atau kakinya tenggelam cukup dalam. Semua warga turut serta; tua, remaja, hingga anak-anak. Di sinilah terletak perbedaan mencolok.

Warga yang sudah tua biasanya memulai mengolesi lumpur di kepala mereka, kemudian lumpur saling bertumpuk. Kalangan orang tua biasanya hanya sebentar sebelum bergegas meninggalkan kawasan bakau.

Sedangkan remaja sambil bersenda gurau dengan temannya, mengolesi punggung, dada, wajah, dan kepala. Namun di antara mereka ada juga yang menumpuk lumpur di kepala.

Sedangkan kalangan anak-anak hanya memoles wajah, dada, dan punggung. Namun ada juga yang kepalanya diolesi lumpur meskipun tidak terlalu tebal. Tradisi bukan cuma dilakoni warga lelaki, tapi juga perempuan meski rata-rata remaja dan jumlahnya sedikit.

Koordinator warga adat Desa Kedonganan I Gede Sudiana menjelaskan lumpur yang berwarna merah pun tidak bisa diambil sembarangan. Caranya, kata dia, memasukkan tangan ke dalam lumpur yang berwarna merah. Setelah mencapai hampir di siku, genggam lumpur terdalam kemudian diambil.

"Supaya tidak kena lumpur yang terkontaminasi kotoran, nanti gatal," katanya.

Gede menjelaskan lumpur yang kotor cenderung berwarna gelap atau kehitam-hitaman. Sedangkan lumpur yang bermanfaat berwarna merah agak cerah seperti bata.

Pengetahuan itu, lanjutnya, bersifat kolektif dari tradisi lisan para leluhur mereka."Sebelum ada sampo, lumpur merah itu digunakan untuk membersihkan rambut," tuturnya.

Namun sejak 2017, pihak desa adat meminta tim tenaga ahli untuk penelitian ilmiah mengenai manfaat lumpur berwarna merah yang terdapat di hutan hutan bakau.

Sebenarnya, tradisi mebuug-buugan ini sesungguhnya ada sejak lama tapi baru muncul lagi pada 2016. "Momentum membangkitkan bersama anak muda dan para orang tua," kata Gede.

Mebuug-buugan dilakukan pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi sebagai simbolisasi pembersihan diri pada awal tahun baru Caka 1940. Hal tersebut juga untuk jalinan kebersamaan masyarakat.

Warga yang sudah selesai bermain lumpur kemudian menuju ke pantai di sisi barat Desa Kedonganan. Di sana mereka membilas tubuh yang sudah dibalut lumpur sekaligus kembali menyegarkan badan setelah berjalan dalam berat benaman lumpur.

Anak-anak dari Desa Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, turut bermain lumpur dalam tradisi mebuug-buugan di hutan bakau, Minggu (18/3/2018).
Anak-anak dari Desa Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, turut bermain lumpur dalam tradisi mebuug-buugan di hutan bakau, Minggu (18/3/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR