Seorang biksu Buddha Mahayana berjalan di pelataran Candi Borobudur. Ilustrasi Awan
Seorang biksu Buddha Mahayana berjalan di pelataran Candi Borobudur. Shutterstock / Udom Peter

Waisak, momentum religi dan budaya di Borobudur

Candi Borobudur di kala Waisak adalah wahana wisata budaya sekaligus wisata religi.

Jalan beraspal yang menghubungkan Candi Mendut dengan Candi Borobudur dipenuhi umat Buddha, Selasa, 29 Mei 2018 siang. Mereka berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur yang berjarak sekitar tiga kilometer untuk memperingati detik-detik Peringatan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 bertema Transformasikan Kesadaran Delusi Menjadi Kesadaran Murni.

“Tri Suci itu memperingati kelahiran, mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha, hingga wafat tak dilahirkan lagi,” kata Ketua DPP Walubi Hartati Moerdaya.

Sepanjang jalan mengucap mantera sembari membawa bunga Sedap Malam. Aneka relik dan sarana Buddha pun dibawa serta.

Ada yang memanggul tandu berisi buah-buahan hingga bunga teratai. Ada yang mengenakan atribut yang mencirikan sangha atau perkumpulan umat Buddha yang diyakini, mulai dari Mahayana, Tantrayana, dan Teravada.

Sementara para biksu dan biksuni berjubah khas oranye bertali kuning. Tak ketinggalan kelompok-kelompok seni seperti reog hingga yang mengenakan atribut menyerupai sejumlah tokoh dalam film Kera Sakti.

Di antara barisan terselip turis-turis asing, wisatawan domestik, hingga para pedagang asongan yang ikut meramaikan kemeriahan hari raya umat Buddha itu. “Ingin melihat pelepasan lampion,” ucap seorang warga lokal yang tak jemu menikmati keindahan lampion tiap setahun sekali itu.

Pelepasan lampion adalah puncak dari detik-detik Tri Suci Waisak. Prosesinya dilakukan pada pukul 23.00 WIB.

Untuk mencapai ke sana, umat Buddha mesti mengikuti sejumlah ritual yang disebut puja bhakti. Ritual Waisak umat Buddha di Indonesia yang secara nasional dipusatkan di Candi Mendut dan Borobudur digelar sedari 27-29 Mei 2018.

Ada juga yang menggelarnya sebulan sebelum puncak acara di wihara di kampung masing-masing. “Waisak di luar negeri hanya digelar sehari, 29 Mei. Tidak seistimewa di Indonesia yang full tiga hari berturut-turut,” kata Koordinator Sangha Walubi Bhikku Wongsin Labhiko Mahathera.

Tak heran saban Waisak digelar di sana, para biksu yang kali ini berjumlah 150 orang dari berbagai negara, seperti Thailand, Tiongkok, juga Indonesia turut hadir. Waktu tiga hari itu acap kali dimanfaatkan sejumlah turis asing untuk datang.

Mereka berwisata ke kedua candi sekaligus menikmati prosesi Waisak. Para fotografer asing maupun dalam negeri tak ketinggalan berburu foto. Candi Borobudur dan Candi Mendut pun menjadi sarana wisata budaya sekaligus wisata religi.

Sejumlah penginapan di seputar candi penuh sejak sebulan sebelum acara dimulai. Termasuk tempat saya menginap yang berjarak sekitar 200 meter dari Candi Borobudur yang dipenuhi puluhan umat Buddha dari kelompok anak-anak muda. Sisanya ada wisatawan dan sejumlah jurnalis berbagai media massa.

Para biksu berjalan pada prosesi Pradaksina di komplek Candi Borobudur, Senin (28/5/2018).
Para biksu berjalan pada prosesi Pradaksina di komplek Candi Borobudur, Senin (28/5/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Ritual puja bhakti diawali dengan pengambilan api alam dari Merapen, Grobogan, Jawa Tengah untuk disakralkan di Candi Mendut pada 27 Mei 2018.

Sifat api yang membakar dan selalu membumbung ke atas, menurut Pengurus Harian Walubi Bhante Phabakaro mengandung makna agar manusia bersemangat dalam meraih cita-cita dan tidak rendah diri karena potensi keberhasilan lebih tinggi ketimbang hambatan yang ada.

Setiap persoalan hidup dibutuhkan pemikiran yang tenang untuk mencari solusi agar bisa mengendalikan masalah tersebut.

“Api Merapen dipilih karena itu api abadi yang tak pernah padam. Cocok buat peribadatan,” kata Phabakaro.

Sementara pada hari kedua, 28 Mei 2018 dilakukan pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Temanggung, Jawa Tengah. Air tersebut juga dibawa untuk disakralkan di Candi Mendut.

Pemilihan Umbul Jumprit karena air di sana tidak pernah kering meskipun kemarau. Air yang bersifat mengalir ke tempat yang lebih rendah bermakna kerendahan hati, tidak sombong sehingga hidup damai.

Pada zaman Buddha pernah terjadi wabah yang dahsyat yang menyebabkan manusia dan ternak banyak yang mati. Hujan pun turun membersihkan bangkai-bangkai yang bergelimpangan.

Karenanya air diyakini membawa keberkahan dan ketentraman karena membersihkan energi negatif. Membuat batin tenang, tidak takut, dan mencegah kesombongan. “Dalam upacara puja bhakti, air selalu digunakan untuk blessing,” kata Phabakaro.

Dua agenda itu dilakukan oleh para biksu yang mewakili masing-masing sangha. Sebelum ritual pengambilan api dan air di dua tempat yang sudah dilakukan sejak 25-30 tahun lalu, para biksu melakukan pindapatta atau menerima pemberian dari umat dalam mangkok yang dibawa. Barulah kedua unsur zat itu dibawa dalam iring-iringan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur pada hari ketiga.

Setiba di zona I Candi Borobudur, tiap-tiap umat Buddha bergabung dalam tenda-tenda besar sesuai sanghanya. Mereka menggelar ritual membaca mantra dengan dipimpin biksu masing-masing.

Sejumlah patung Buddha berbagai ukuran dipajang di meja panjang dengan sejumlah lilin dan dupa yang dibakar di sisi depan tiap tenda yang terbuka.

Sementara lensa-lensa kamera mengintip untuk membidik momen-momen sakral itu. Umat Buddha yang tak kebagian masuk dalam tenda yang penuh berbaur dengan warga dan wisatawan yang datang.

Duduk bergerombol di atas rerumputan hijau dan berteduh di bawah pepohonan rimbun.

Pedagang asongan tampak menggelar dagangannya. Mulai dari minuman kemasan, mi instan siap seduh dengan air panas, cendera mata, hingga mainan anak-anak.

Bocah-bocah saling berkejaran sambil menerbangkan pesawat mainan. Sembari menunggu bola matahari bergerak ke barat untuk memulai ritual akhir Waisak.

Pukul 19.00, para biksu menuju ke altar utama zona I Candi Borobudur untuk berdoa dan meditasi. Sementara di pelataran zona I, umat Buddha tetap di tenda masing-masing untuk melakukan ritual yang sama. Detik-detik Waisak dimulai pukul 21.19 detik ke-13 ditandai pemukulan gong tiga kali.

Sembari menunggu tengah malam, saya pun berkesempatan menikmati pemandangan bagian Arupadatu atau lantai tiga dan stupa besar Borobudur malam hari dari kejauhan.

Lampu besar yang dipasang dengan tiang tinggi di sisi kiri kanan candi membuat wajah stupa menjadi keperakan. Sementara stupa-stupa di bawahnya tampak lebih redup dengan siluet kemerahan oleh nyala lampu.

Banyak wisatawan yang memotretnya dari ujung jalan zona I atau pun berswafoto dengan latar candi Buddha terbesar yang tampak anggun itu.

Meditasi pun berakhir ditutup dengan Namaskara Gatha pada pukul 23.00. Kemudian sejumlah biksu yang berada di atas candi melakukan pradaksina mengelilingi candi tiga kali yang diakhiri dengan meletakkan bunga teratai di sana.

Lampion diterbangkan dalam perayaan Hari Raya Waisak yang berlangsung pada Rabu (29/5/2018) malam.
Lampion diterbangkan dalam perayaan Hari Raya Waisak yang berlangsung pada Rabu (29/5/2018) malam. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Umat di tenda-tenda pun bubar. Sebagian pulang, sebagian lagi bertahan untuk ikut melepas lampion di Gunadharma.

Lampion merupakan rangkaian doa dalam batin. Benda dari kertas berbentuk seperti kurungan yang diterbangkan dengan cara membakar sumbunya di sisi dalam itu simbol melepas agar hidup jangan melekat pada segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Apapun yang baik yang didapatkan saat ini, jaangan sampai melekat karena akan lepas. Kalau lepas akan bahagia,” kata Phabakaro.

Ada dua ribu lampion yang disiapkan dan dilepaskan dalam tiga tahapan tengah malam itu. Pelepasan awal dilakukan oleh para biksu di atas panggung sekaligus untuk memberi contoh.

Diawali dengan membentangkan kertas lampion yang minimal dilakukan tiga orang. Ada tangan yang memegang bagian bawah dan ada yang menjumput bagian atas sehingga membentuk rongga bagian bawah.

Kemudian ada yang bertugas menyalakan api pada sumbu di rongga bawah. Usai api menyala, sisi bawah lampion ditarik mendekati tanah untuk mempercepat gas dari api memenuhi ruangan lampion sehingga menggembung membentuk seperti kurungan.

Paling tidak membutuhkan waktu tiga menit untuk membuat dinding lampion mengeras sehingga siap dilepaskan. Sebelum dilepas, mereka menempelkan stiker yang disebut wishing card bertuliskan permintaan pada dinding lampion.

30, 29, 28, 27… Pembawa acara pun menghitung mundur ditirukan umat Buddha yang memegang lampion. Pada hitungan ke-1, lampion pun dilepas. Terbang meninggi meninggalkan bumi.

Dari bawah, saya melihat lampion yang menyala kekuningan itu seperti lampu-lampu gantung beratap langit.

Sekilas juga seperti sekawanan ubur-ubur yang riuh melayang di lautan yang gelap. Terang dan indah.

Jepretan kamera tak henti-hentinya mengabadikan. Warna lampion yang terang dan kontras dengan warna langit yang gelap membuat tubuh lampion terlihat jelas. Orang-orang pun berduyun meninggalkan pelataran candi seiring lampion-lampion yang kian mengecil dan hilang ditelan malam.