Yaqowiyu, tradisi sebar apam di Klaten

Warga berebut apam saat tradisi Yaqowiyu di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (18/11).
Warga berebut apam saat tradisi Yaqowiyu di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (18/11). | Aloysius Jarot Nugroho /ANTARA FOTO

Dari legenda menjadi tradisi, itulah kisah sebaran kue apam--disebut juga apem--Yaqowiyu di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.

Alkisah tahun 1600-an, Ki Ageng Gribig--ulama pada zaman kerajaan Mataram--naik haji. Sepulang dari Mekah, Ki Ageng Gribig membagikan kue sebagai buah tangan di Jatinom, Klaten. Tak cukup, ia pun meminta sang istri, Nyi Ageng Gribig membuatkan apam untuk dibagikan pada para muridnya.

Apam itulah yang kemudian dinamai Apam Yaqowiyu. Disebut demikian karena doa penutup pengajian dari Ki Ageng Gribig berbunyi "Ya qowiyu Yaa Assis qowina wal muslimin, Yaa qowiyu warsugna wal muslimin". Doa itu memiliki makna meminta kekuatan pada Tuhan bagi segenap kaum Muslim. Sebaran kue apam ini kemudian menjadi tradisi tahunan di Jatinom.

Upacara Yaqowiyu atau sebar apam diadakan setiap bulan Safar--bulan ke-2 tahun Hijriyah. Ada pula masyarakat lokal yang menyebutnya dengan upacara atau ritual Saparan.

Warga menata kue apam untuk gunungan apam.
Warga menata kue apam untuk gunungan apam. | Aloysius Jarot /ANTARA FOTO

Aloysius JarotMenurut para sesepuh di Jatinom, jika dulu apam disebar langsung, sejak 1974 mulai disusun dalam bentuk gunungan. Tradisi ini diadakan bersamaan dengan dipindahnya lokasi sebaran apam. Semla di halaman Masjid Gedhe, sekarang di panggung tepi sungai, sebelah selatan Masjid Gedhe dan makam Ki Ageng Gribig.

Gunungan disusun seperti sate. Jumlahnya sesuai rakaat Salat lima waktu. Dalam susunan itu ada kacang panjang, tomat, dan wortel yang melambangkan masyarakat sekitar hidup dari pertanian. Di puncak gunungan terdapat mustaka (seperti mustaka masjid) yang di dalamnya berisi apam.

Masyarakat Jatinom mengenal dua gunungan, lanang dan wadon. Gunungan wadon lebih pendek dan bulat. Gunungan lanang lebih tinggi, di bagian bawah ada kepala macan putih dan ular. Konon keduanya adalah hewan favorit Ki Ageng Gribig.

Hingga kini, tradisi Yaqowiyu dijaga sebagai bentuk penghormatan pada Ki Ageng Gribig. "Warga sudah merasa handarbeni tradisi Yaqowiyu. Tidak ada instruksi dari siapapun, warga sudah tanggap setiap pertengahan bulan Sapar dengan sukarela menyumbangkan apam," jelas Camat Jatinom Sip Anwar--yang menjabat 2014.

Tahun ini, sebar apam diselenggarakan pada 18 November 2016 di oro-oro tarwiyah kompleks Sendang Plampeyan, Jatinom, Klaten. Lokasi ini tak jauh dari kompleks makam Ki Ageng Gribig. Dari tahun ke tahun, jumlah apam yang disebar terus bertambah. Tahun ini ada lima ton apam yang disebar.

Warga membawa gunungan apam yang dikirab dari Masjid Besar Jatinom untuk disebar saat tradisi sebar apam.
Warga membawa gunungan apam yang dikirab dari Masjid Besar Jatinom untuk disebar saat tradisi sebar apam. | Aloysius Jarot /ANTARA FOTO

Apam yang ditata pada dua pasang gunungan dikawal ke tempat Yaqowiyu diselenggarakan. Setelah salat Jumat di Masjid Gedhe Jatinom, orang-orang berkumpul di bawah terik matahari, siap berebut apam yang disebar dari dua menara setinggi lima meter di tengah lapangan.

Sebelum apam disebar, penyelenggara mengimbau agar ribuan pengunjung tertib dan mewaspadai keamanan, tak lupa mengingatkan makna dari upacara ini. Seperti dituturkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatinom, Jamaludin, Yaqowiyu punya makna silaturahmi, sedekah, dan mohon doa kepada Allah.

Akhirnya pukul 12.45 apam berukuran segenggaman tangan orang dewasa disebar oleh Pengelola Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig (P3KAG). Di tengah himpitan ribuan orang, masing-masing berupaya mendapatkan apam sebagai simbol rezeki dan kesejahteraan.

BACA JUGA