Abu Hanifah mempermalukan orang sombong

Ilustrasi Alquran berbahan daun lontar di Pudak Payung, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (16/6). Tadarus Alquran karya ulama asal Madura Syech Abdulrohman yang berusia sekitar 300 tahun tersebut dilakukan setiap Ramadan dan semakin digalakkan pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan.
Ilustrasi Alquran berbahan daun lontar di Pudak Payung, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (16/6). Tadarus Alquran karya ulama asal Madura Syech Abdulrohman yang berusia sekitar 300 tahun tersebut dilakukan setiap Ramadan dan semakin digalakkan pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan.
© Aditya Pradana Putra /Antara Foto

Salah seorang ulama berada di masjid Rushafah hendak memamerkan kemampuan intelektualnya. Dengan sombongnya Ia berkoar di hadapan para hadirin, "aku siap menjawab pertanyaan sesulit apapun dari kalian!".

Tanpa Ia sadari bahwa di antara hadirin yang ditantangnya untuk mengajukan pertanyaan kepadanya terdapat seorang alim pendiri madzhab Hanafi; Abu Hanifah. Seorang ulama yang jauh lebih alim dan rendah hati.

Sejurus kemudian Abu Hanifah mengacungkan jari tangannya untuk mengajukan pertanyaan kepada ulama yang terbujuk itu. "Apa pertanyaanmu?" tantang ulama sok alim tersebut.

Abu Hanifah kemudian menyampaikan pertanyaannya, "semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman AS itu laki-laki apa perempuan?"

Mendengar pertanyaan Abu Hanifah yang sederhana namun sulit dijawab tersebut, orang sok alim tadi tidak bisa menjawab. Ia merasa malu dan hanya dapat menundukkan kepala.

Karena tidak mampu dijawab, Abu Hanifah menjawab pertanyaannya sendiri, "sesungguhnya semut tersebut berjenis kelamin perempuan".

Ulama yang arogan tersebut penasaran dengan jawaban Abu Hanifah. Lantas Ia menanyakan dalilnya kepada Abu Hanifah.

Dengan sigap dan cekatan Abu Hanifah menjelaskan:

Dalilnya adalah firman Allah QS An-Naml ayat 18, hatta idzaa atau 'ala waadinnamli qaalat namlatun.

Bahwa dalam ayat tersebut fi'ilnya kata "namlah" berupa shighat mu'annats (qalat) yang menunjukan bahwa semut yang berbincang dengan Nabi Sulaiman adalah perempuan".

Setelah memberi jawaban sekaligus penjelasan dalilnya, Abu Hanifah memberi nasehat kepada ulama yang sok alim tersebut, "Sebenarnya saya tidak ingin bertanya kepadamu. Aku lebih suka untuk mengatakan kepadamu, janganlah kau terbujuk dengan kelebihan yang kau miliki".

Demianlah akibat merasa paling benar sendiri. Sifat keakuan merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Sebab sifat tersebut dapat mendorong kepada kesombongan yang darinya timbul banyak kemafsadatan.

Siapa yang tak kenal dengan Iblis? sosok makhluk yang ibadahnya rajin bahkan melebihi malaikat-malaikat penghuni surga. Hanya karena sifat keakuaannya, ia menjadi makhluk Allah yang celaka.

Iblis enggan bersujud kepada Nabi Adam As karena merasa lebih baik dari pada Adam. Saat ditanya Allah apa yang membuatnya enggan bersujud kepada Adam, dengan arogan Iblis menjawab:

"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah" (QS al-A'raf :12).

Sifat keakuan menjadikan seseorang merasa paling benar sendiri. Ia akan enggan menerima kebenaran dari pihak lain. Tidak mau mendengar nasihat orang bijak dan akan sulit menerima keberagaman dalam kehidupan berbangsa.

Ia tidak sadar bahwa dirinya masih butuh banyak belajar kepada orang lain yang lebih pintar, lebih bijak, lebih menyejukkan. Sebab ia menganggap orang lain lebih bodoh darinya.

Semoga kita dijauhkan dari sifat keakuan, agar dapat mengamalkan ajaran Nabi, belajar sejak dari ayunan hingga liang lahat. Wallahu a'lam.

* M. Mubasysyarum Bih Ridlwan. Disarikan dari Syaikh Abdul Ali al Thahthawi, 250 Qisshoh min hayati al aimmah al arba'ah, hal.26)

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.