RAMADAN 2019

Apa hukum dan keutamaan salat tarawih

Salat tarawih pertama di Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Minggu (5/5/2019).
Salat tarawih pertama di Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Minggu (5/5/2019). | Syifa Yulinnas /Antara Foto

Selain puasa, salah satu yang spesial di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Walau hukumnya sunah, ibadah yang dilakukan setelah salat Isya ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar.

Syekh Taqiyuddin al-Hishni, dalam karyanya Kifayatul Akhyar menegaskan hukum salat tarawih merupakan kesepakatan seluruh ulama dari berbagai mazhab. Tak ada pendapat-pendapat yang menyelisihi konsensus tersebut.

Beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan tarawih. Di antaranya hadits riwayat Imam al-Bukhari, Muslim dan lainnya:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Nah, ulama hanya berbeda pendapat mengenai dosa yang diampuni dalam hadits tersebut. Menurut al-Imam al-Haramain, yang dihapus hanya dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar hanya bisa diampuni dengan cara bertaubat.

Sedangkan Imam Ibnu al-Mundzir menilai, redaksi “” (dosa) dalam hadits tersebut termasuk kategori lafadh ‘âm (kata umum) yang berarti mencakup segala dosa, baik kecil atau besar. Demikian pula Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli menilai, dengan salat tarawih terampuninya seluruh dosa-dosa bagi pengamalnya, baik dosa kecil dan besar

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah. Suatu malam Nabi Muhammad SAW tengah berada di dalam masjid, beliau salat dan diikuti oleh para sahabat. Di hari berikutnya Nabi salat seperti di hari pertama dan jemaah yang mengikutinya bertambah banyak.

Kemudian di hari ke tiga atau keempat sahabat berkumpul di masjid untuk menanti kedatangan Nabi untuk salat jemaah tarawih bersama-sama, namun Nabi tidak kunjung hadir hingga subuh. Beliau menjelaskan perihal ketidakhadirannya di masjid semalam, beliau bersabda “Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah mencegahku untuk keluar salat bersama kalian kecuali aku khawatir salat ini difardlukan (diwajibkan) atas kalian. Perawi hadits menjelaskan bahwa yang demikian itu terjadi di bulan Ramadhan” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Nabi tidak melanjutkan salat jemaah tarawih di masjid karena khawatir salat tarawih akan dianggap wajib hukumnya

Sunah ini kemudian berlanjut sampai masanya khalifah Abu Bakr al-Shidiq. Hingga pada masa khalifah Umar bin al-Khatab, atas ide khalifah Umar dan disepakati seluruh sahabat, dilakukan jemaah tarawih secara rutin di masjid hingga akhir Ramadan.

Ulama menjelaskan bahwa telah terjadi perbedaan konteks di zaman Nabi & Abu Bakr dengan masanya Umar sehingga terjadi praktik yang berbeda dalam pelaksanaan tarawih. Bila di masa Nabi masih sangat rentan diyakini wajib, maka alasan tersebut hilang saat masa kepemimpinan Sayyidina Umar, sehingga dilakukan jemaah tarawih secara rutin di masjid.

Catatan: Artikel ini aslinya ditulis oleh Ustaz M. Mubasysyarum Bih dan pertama diterbitkan di NU Online.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR