RAMADAN 2019

Berbuka menurut azan di televisi, sahkah puasa kita

MITRA: NU Online
Sejumlah umat muslim menunggu waktu berbuka puasa di Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/5/2019).
Sejumlah umat muslim menunggu waktu berbuka puasa di Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/5/2019). | Sahrul Manda Tikupadang /Antara Foto

Berbuka, di zaman ini kerap ditandai dengan peralatan yang belum tentu tepat waktu sesuai daerah masing-masing. Televisi misalnya, tanda waktu berbuka kerap ditandai dengan waktu berbuka sesuai waktu Jakarta. Padahal, tiap daerah memiliki waktu berbuka yang berbeda.

Orang yang menjalankan ibadah puasa perlu memastikan tenggelamnya matahari sebagai waktu berbuka puasa.

Oleh karena itu, ia perlu berhati-hati untuk menyantap hidangan takjil sebelum ada informasi pasti perihal ghurub atau matahari tenggelam. M Khatib As-Syarbini, dalam kitabnya bertajuk Mughnil Muhtaj menjelaskan, orang yang memastikan berakhirnya waktu puasa dengan menyaksikan matahari tenggelam akan terhindar dari kekeliruan.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan tidak boleh memakan takjil karena masih memungkinkan kesabaran sampai benar-benar yakin masuk waktu maghrib.

Orang yang beribadah puasa perlu berupaya untuk mencari informasi perihal kedatangan waktu bebruka, tidak boleh menduga-duga atas kedatangan waktu maghrib.

Lalu bagaimana status azan maghrib di bulan Ramadan yang diputar oleh pelbagai stasiun televisi?

Azan maghrib yang diputar oleh pelbagai stasiun televisi didasarkan pada semisal jadwal imsakiyah dan waktu shalat yang juga sebenarnya dimiliki masyarakat dan dapat diverifikasi di daerah masing-masing.

Sementara jadwal imsakiyah dan waktu shalat disusun berdasarkan perhitungan astronomis.

Nah, seseorang yang beribadah puasa boleh menyandarkan diri waktu maghribnya pada azan yang diputar oleh stasiun televisi.

Namun demikian, sebaiknya menunggu sejenak buka puasanya untuk memastikan waktu maghrib dan memeriksa ke siaran stasiun televisi yang lain, memverifikasinya dengan jam dinding serta jadwal shalat dan imsakiyah agar informasi atas waktu maghrib diperoleh terverifikasi dari pelbagai sumber.

Ketika waktu maghrib telah pasti, maka ketika itu kita disunnahkan untuk berbuka puasa sebagaimana keterangan Syekh Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj:

وَمَحَلُّ النَّدْبِ إذَا تَحَقَّقَ الْغُرُوبُ أَوْ ظَنَّهُ بِأَمَارَةٍ لِخَبَرِ {لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ} مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Kesunnahan penyegeraan berbuka puasa terletak pada kepastian waktu maghrib atau dugaan waktu maghrib dengan tanda-tanda tertentu berdasarkan hadits, ‘Orang-orang senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka,’ (HR Muttafaq Alaih),” (MR)

Catatan: Artikel ini ditulis Alhafiz Kurniawan dan pertama kali diterbitkan di NU Online.
MITRA: NU Online
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR