Berzakat kepada pemalas dan enggan salat, apa hukumnya

MITRA: Islami.co
Umat muslim membayarkan zakat fitrah kepada panitia amil zakat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (9/6).
Umat muslim membayarkan zakat fitrah kepada panitia amil zakat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (9/6). | M Agung Rajasa /ANTARA

Selain puasa dan salat tarawih, Ramadan juga lekat dengan zakat. Sebelum bulan Ramadan berlalu, umat Islam yang mampu diwajibkan membayar zakat fitrah.

Ibnu 'Abbas mengatakan, Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kekejian. Zakat juga sebagai rezeki bagi orang miskin.

Siapa yang membayarkannya sebelum salat Idul Fitri diterima zakatnya. Adapun yang membayarnya setelah salat, maka status pemberiannya dianggap seperti sedekah biasa (HR: Ibn Majah).

Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa orang berpuasa dan sekaligus momen untuk berbagi kepada orang miskin. Jangan sampai pada hari kebahagiaan itu, masih ditemukan orang miskin yang kelaparan dan meminta-minta. Maka, zakat fitrah mesti dibayarkan sebelum salat Idul Fitri.

Dalam surat al-Taubah ayat 60 disebutkan, terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat: Orang fakir, miskin, pengurus zakat, mualaf, orang yang memerdekakan budak, orang berhutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil.

Tapi masyarakat tumbuh makin kompleks. Salah satu persoalan adalah, bagaimana jika orang yang berhak menerima zakat tersebut malas dan suka meninggalkan salat?Apakah orang tersebut masih berhak menerima zakat?

Pertanyaan serupa juga pernah diajukan kepada Imam al-Nawawi. Dalam kitabnya Fatawa al-Nawawi dijelaskan:

Bila seseorang sudah baligh dan tidak mengerjakan salat, kemudian kondisi ini terus berlanjut sampai penyerahan zakat, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya. Ia termasuk kategori orang yang hartanya dikontrol, karena belum pandai memanfaatkan hartanya dan tidak diperbolehkan memegang uang sendiri.

Namun diperbolehkan memberikan zakat kepada walinya yang memegang pemberian zakat tersebut.

Lain halnya dengan orang baligh, berakal, dan sudah salat, kemudian tiba-tiba tidak mengerjakan salat, maka diperbolehkan membayar zakat kepada golongan ini. Ia juga berhak untuk memegang uang sendiri dan seluruh bentuk transaksi ekonomi sah.

Menurut an-Nawawi, terdapat dua kategori orang yang tidak salat.

Pertama, orang yang tidak mengerjakan salat karena akalnya belum terlalu matang (safih) dan belum mampu membelanjakan hartanya seperti manusia dewasa pada umumnya.

Kedua orang yang meninggalkan salat karena malas, namun akalnya sudah matang dan mampu membelanjakan hartanya secara mandiri dan tidak mubazir.

Untuk tipe pertama tidak dibolehkan memberikan zakat kepadanya, karena dia tidak mampu menggunakan harta secara baik. Kalau pun tetap berkeinginan untuk berzakat kepadanya, serahkan kepada walinya atau orang yang mengontrol hartanya. Statusnya disamakan dengan anak kecil dan orang gila.

Sementara tipe kedua diperbolehkan memberikan zakat kepadanya, sebab dia sudah mampu mandiri menggunakan harta.

Berdasarkan penjelasan ini, yang menjadi perhatian utama pada saat membayar zakat ialah sejauh mana mustahiq mampu dan mandiri menggunakan harta yang diberikan. Kalau bisa pastikan bahwa zakat yang diberikan digunakan sebaik-baiknya dan tidak diboroskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Wallahu a'lam.

MITRA: Islami.co
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR