RAMADHAN 2019

Cara Rasulullah mendidik pemabuk

MITRA: ALIF.ID
Ilustrasi alkoholik, orang yang kecanduan alkohol.
Ilustrasi alkoholik, orang yang kecanduan alkohol. | MarcoMontero93/CC BY-SA 4.0 /commons.wikimedia.org

Pada masa Rasulullah SAW, ada seorang sahabat yang hobi mabuk-mabukan. Namanya Abdullah.

Teman-temannya memanggil Abdullah dengan sebutan "keledai" (kalau di Jawa mungkin dipanggil celeng, asu, wedus, dan sejenisnya) karena saking bandelnya.

Abdullah memang sulit meninggalkan kebiasaan mabuknya. Betapapun demikian, dia merupakan sosok yang cinta kepada Rasulullah.

Suatu ketika dia menemui Rasulullah, "Ya Rasulullah saya ini memang bukan orang baik. Saya seorang pemabuk tapi saya senang dengan panjenengan ya Nabi. Kalau tak ketemu, aku rindu padamu."

Rasulullah selalu adil sehingga setiap mabuk, Abdullah selalu dihukum cambuk. Namun Si Keledai itu tak pernah kapok.

Bahkan dia baru puas bila sedang mabuk berada dekat Rasulullah. Dia bahagia sekali bila dekat dengan Rasulullah.

Sampai suatu saat bukan Rasulullah yang menghukum. Dia dicambuk dan dimaki-maki para sahabat.

"Kamu ini suka kanjeng Nabi kok ya masih hobi mabuk. Dasar! Mudah-mudahan laknat Allah segera datang padamu!"

Rasulullah mendengar doa buruk sahabat kepada Abdullah. Beliau lantas menegur sahabat yang memaki, "Kamu jangan melaknat dia. Meskipun dia suka mabuk-mabukan, Abdullah ini suka kepada Allah dan Rasulnya."

"Nggih, Ya Nabi. Maaf kami keliru."

Sahabat pun tak lagi melaknat Abdullah yang suka mabuk itu. Dan setiap kali Abdullah mabuk, dia tetap dihukum. Namun lama-lama dia mengurangi mabuknya. Kisah ini bisa kita baca di dalam kitab Shahih Bukhori bab Hudud. (MF)

Catatan: Artikel ditulis oleh Rizal Mubit dan pernah diterbitkan Alif.id.

MITRA: ALIF.ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR