RAMADAN 2018

Corak dan persebaran Mazhab Zaidiyyah

MITRA: Islami.co
Ilustrasi Alquran
Ilustrasi Alquran | EmAji /Pixabay

Ilmu fikih telah muncul sejak abad pertama Hijriyah. Hingga abad kedua Hijriyah, perbedaan fikih Sunni-Syiah belum muncul ke permukaan.

Menurut penelusuran sejarawan Islam Fuat Sezgin, karya Zaid bin Ali, pendiri mazhab Zaidiyyah yang berjudul "majmu' al-fiqh" memiliki banyak kesamaan dengan kitab-kitab fikih yang berhaluan Sunni. Mazhab Zaidiyyah ini masyhur dan dekat dengan Mazhab Mu'tazilah dalam akidah, serta mirip dengan Mazhab Hanafi dalam fikih.

Kedekatan dengan mazhab menurut ini menurut sejumlah pakar studi Islam disebabkan karena Zaid bin Ali pernah berguru kepada Washil bin Atha', pendiri Mazhab Mu’tazilah. Sedangkan kemiripannya dengan Mazhab Hanafi dalam fikih konon ia memiliki hubungan khusus dengan Abu Hanifah An-Nu'man, pendiri Mazhab Hanafi.

Fuat Sezgin telah mendaftar para ulama besar Mazhab Zaidiyyah dari abad kedua hingga abad keempat Hijriyah yang memiliki karya dan pengaruh cukup luas terhadap mazhab ini.

Misalnya, Harun bin Sa'd al-'Ijli, yang dianggap sebagai salah satu pembesar Mazhab Zaidiyyah di masanya.

Dua ulama besar mazhab ini adalah Muhammad bin Ismail al-Shan'ani (w. 852 H) dan Muhammad bin Ali As-Syaukani (1250 H). Karya dua ulama ini banyak dikaji oleh kalangan ahlussunah wal jamaah, bahkan oleh kalangan pesantren di Indonesia. Misalnya Subulussalam Syarah Bulugh al-Maram, Tafsir Fath al-Qadir dan Irsyad al-Fukhul.

Karya-karya yang cukup otoritatif dalam Mazhab Zaidiyyah antara lain; al-Majmu' al-Fiqh karya Imam Zaid bin Ali, Ar-Raudh an-Nadhir Syarh Majmu' al-Fiqh al-Kabir karya Imam Syaraf ad-Din al-Husain (w. 1221 H), al-Azhar fi Fiqh al-Aimmah al-Athhar karya Imam Ahmad bin Yahya (w. 840 H), al-Bahr az-Zakhar al-Jami' li Madzahib Ulama' al-Amshar karya Imam Ahmad, dan As-Sail al-Jarar al-Mutadaffiq 'ala Hadaiq al-Azhar karya Imam Ali As-Syaukani (w. 1250 H).

Mazhab Zaidiyyah juga mendapatkan pengakuan oleh mayoritas ulama Sunni karena pendapat-pendapatnya memiliki banyak kesamaan. Bahkan menurut Muhammad bin Ibrahim Al-Hifnawi dalam Fath al-Mubin fi Ta'rif Musthalah al-Fuqaha wa al-Ushuliyyin, perbedaan mencolok Mazhab Zaidiyyah dengan mazhab-mazhab Sunni hanya dalam tiga persoalan.

Pertama, Mazhab Zaidiyyah melarang pembasuhan "khuf/muzah/sepatu tipis" sebagai pengganti dari membasuh kaki dalam wudu. Kedua, mengharamkan menikahi perempuan ahli kitab. Ketiga, mengharamkan hewan hasil sembelihan nonmuslim.

Corak fikih Mazhab Zaidiyyah

Corak fikih Syiah Zaidiyyah secara umum dekat dengan 4 mazhab fikih Sunni (Malik, Syafii, Hanafi, dan Hanmbali). Bahkan oleh beberapa ahli hukum Islam, mazhab ini secara teologis-politik juga dianggap sebagai Syiah yang moderat.

Metode pengambilan hukum (istinbath al-ahkam) yang digali dari sumber-sumber hukum Islam (mashadir al-ahkam) dalam mazhab ini tidak berbeda jauh dengan mazhab fikih Sunni. Madzhab Zaidiyyah menjadikan Alquran dan hadis sebagai sumber hukum primer dalam proses pengambilan hukumnya. Sumber ketiga adalah ijma’ (kesepakatan para ulama).

Dalam praktiknya, ijma’ menurut Mazhab Zaidiyah cakupannya lebih luas. Ada dua kategori ijma’; am (umum) dan khas (khusus). Ijma’ am adalah sebagaimana didefinisikan oleh mazhab-mazhab fikih Sunni, yakni kesepakatan seluruh (mayoritas) ulama. Sedangkan ijma’ khas adalah ijma’ adalah kesepakatan ulama-ulama ahlul bait.

Seperti halnya dalam persoalan tiga sumber hukum sebelumnya; Alquran, hadis, dan ijma’, dalam kitab al-Fushul al-Lu'luiyyah disebutkan juga kesamaan penggunaan sumber hukum Qiyas (analogi) yang sama dengan imam-imam 4 mazhab dalam Sunni.

Dengan banyaknya kesamaan ini, tak heran jika banyah ahli hukum Islam menilai fikih Mazhab Zaidiyyah sangat dekat dengan fikih Sunni.

Sebaran Madzhab Zaidiyyah

Setelah pendirinya wafat, Mazhab Zaidiyyah disebarluaskan oleh para putera Imam Zaid dan keluarganya. Salah satunya adalah Ahmad bin Isa bin Zaid yang menetap di Irak.

Walau Imam Zaid berasal dari trah Sayyidina Husein (nama cucu Rasulullah), para penerus mazhab ini tidak hanya dari keluarga Sayyidina Husein.

Abu Zahrah mencatat sejumlah keturunan dari Sayyidina Hasan yang punya andil dalam menyebarkan mazhab ini. Di antaranya adalah al-Qasim bin Ibrahim al-Hasani. Seorang imam besar yang memiliki pengikut yang disebut dengan al-Qasimiyyah.

Menurut Abu Zahrah, Madzhab Zaidiyyah tersebar ke sebagian besar negeri Islam kecuali di wilayah Maghribi (Maroko dan sebagian Afrika). Mazhab ini tersebar di dunia Islam bagian barat maupun timur. Pengaruhnya sampai tanah Hijaz dan sekitarnya, Irak, Yaman, bahkan di sejumlah daerah lain seperti Pakistan dan India.

Ada beberapa faktor yang membuat mazhab ini tersebar cukup luas.

Yakni, sikap terbuka dan toleransi yang diajarkan oleh Imam Zaid dalam menerima pendapat orang lain yang berbeda dengannya. Menurut Abu Zahrah, pengikut Mazhab Zaidiyyah tak fanatik dengan mazhab yang mereka anut.

Persebaran murid-murid Imam Zaid bin Ali ke pelosok dunia Islam turut mengembangkan mazhab ini. Menurut Abu Zahrah dalam Tarikh Al-Madzahib setidaknya perkembangan mazhab ini dilandasi oleh tiga faktor.

Pertama, ulama-ulama Zaidiyyah yang mayoritas dari kalangan ahlul bait meneruskan dan mengembangkan mazhab ini. Mereka kadang kala berijtihad sendiri (mencari solusi hukum yang tak ada dalam Alquran dan hadis) dan tidak sependapat dengan pendirinya. Meski demikian mereka tetap menyandarkan pendapatnya sebagai bagian dari Mazhab Zaidiyyah.

Kedua, sebaran Mazhab Zaidiyyah di berbagai tempat yang memiliki kondisi sosial berbeda antar satu dengan lainnya. Ijtihad-ijtihad kreatif yang dilakukan oleh para ulama di daerah-daerah tersebut membuat Mazhab Zaidiyyah jadi dinamis.

Ketiga, terbukanya pintu ijtihad dalam Mazhab Zaidiyah. Salah satu bentuk terbukanya ruang ijtihad Mazhab Zaidiyah adalah mengakomodir pendapat-pendapat ulama di luar mazhabnya. Bahkan mazhab-mazhab Sunni sekalipun. (drs)

Artikel ini ditulis oleh Idris Masudi, Lc, Sekjen Pusat Kajian Islam Nusantara UNUSIA Jakarta dan Wakil Sekretaris Lakpesdam PBNU
MITRA: Islami.co
BACA JUGA