RAMADAN 2019

Empat tingkat puasa, dari fikih ke tasawuf

MITRA: ALIF.ID
Ilustrasi tingkat pembelajaran manusia.
Ilustrasi tingkat pembelajaran manusia. | Gerd Altmann /Pixabay

Kita mengenal kata “shiyam” dan “shaum“. Apa arti keduanya? Syaikh Fadhil Al-Samarra’i dalam “Lamasat Bayaniyah fi al-Nushush al-Qur’aniyah” menjelaskan, secara umum, kedua lafaz tersebut menurut Kamus Lisanul Arabi, sama-sama menunjukkan makna puasa dalam arti menahan (al-imsak).

Kata shiyam, disebut hingga delapan kali dalam Al Qur'an. Menurut Abu Hilal Al-Askari dalam Al-Furuq Al-Lughawiyah. Kata shiyam tersebut merujuk pada arti yang bersifat fikih, yaitu menahan dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum dan hubungan seks dari fajar hingga terbenamnya matahari.

Sementara shaum lebih bersifat tasawuf. Para mufasir mengartikan shaum dengan al-shamt yang bermakna diam; tidak berkata dan menahan diri dari berkata.

Karenanya, menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam karya monumentalnya Sirr al-Asrar, bahwa ketika seorang berpuasa, hendaknya mampu mengharmonikan kondisi lahir dan batinnya. Seperti mengosongkan perutnya dari makan dan minum, tentu juga syahwat dan lisan dari hal yang tercela, dan hati dari selain Allah.

Tentu saja pengertian di atas, menurut Syaikh Fadhil membawa laku puasa pada tingkatan dan tahapan-tahapan. Tingkatan pertama, adalah puasanya orang mukmin, yaitu mengendalikan dari tiga dasar kebutuhan hidup; makan, minum, dan hubungan seks.

Menurut Imam Ghazali dalam Ihya Ulummiddin, tiga hal itu kebutuhan dasar dipenuhi tetapi juga harus dikendalikan. Jika tidak, maka sifat kebinatangan manusia akan mendominasi, dan itu berarti sifat kebinatangan akan menjadi penutup jalan menuju Allah. Karena itu minimal sepanjang tahun, perlu dikendalikan sebulan.

Pengendalian diperlukan, karena secara ragawi, manusia adalah makhluk omnivora, jenis pemangsa apa saja, bahkan ‘siapa saja’. Tingkat kerakusannya melebihi hewan liar atau peliharaan.

Sehingga dari makanan ini, berbagai jenis penyakit dan virus bisa cepat tumbuh dan menyerang tubuh, hal ini juga diperkuat dengan bukti, ketika jantung berhenti berdetak, maka tubuh manusia akan cepat membusuk, karena perut telah menampung apa pun dari alam ini. Karena itu, ingat, kata Sang Imam, antara nafsu perut dan kemaluan ini saling terkait.

Jika seorang dirasuki nafsu perut, maka ia akan makan sekenyang-kenyangnya, sehingga bisa mengakibatkan gairah kemaluan, sebaliknya orang yang terjangkiti nafsu kemaluan maka ia akan menumpuk-numpuk harta. Sebab harta, adalah senjata paling mudah untuk memikat lawan jenis.

Tingkatan kedua, adalah puasanya orang muhsinin, yaitu mereka yang puasanya mampu mengendalikan atau menjaga lisannya. Menurut Imam Ghazali, lisan merupakan anggota tubuh manusia terbaik dan mulia setelah hati.

Namun dalam kemuliaannya itu, lisan atau lidah menyimpan marabahaya yang sangat besar, tidak satupun selamat dari marabahayanya, kecuali ia yang bertutur dengan baik dan hemat bicara. Pengendalian lisan ini, menjadi salah satu titik tekan puasa secara tasawuf, sebagaimana yang diisyaratkan pada surah Maryam ayat 26, “Inni Nadzartu li al-Rahmani Shauma”. Yaitu puasa bicara.

Menurut pakar, ketika lisan atau lidah berbicara, setidaknya melibatkan sekitar tiga ratus lima puluh ribu syaraf yang terhubung dengan hati. Karena itu tak berlebihan jika Nabi pernah bersabda, “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. Seorang hamba tidak akan masuk Surga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatan lidahnya.” (Muttafaqah alaih).

Masih menurut Imam Ghazali, ada lima jenis kejahatan lidah dan itu menjadikan puasa seorang seperti sia-sia, yaitu dusta, fitnah, gibah, bersumpah palsu, dan berkata yang tidak perlu.

Di era digital dan maraknya media sosial ini, boleh jadi menyebarkan hoaks dan membahas yang tak terlalu perlu di grup-grup sosial media bagian dari kejahatan lisan. Jikalau kita sanggup menghindarkan itu, maka kita bisa menjadi bagian dari muhsinin, yaitu menjaga pahala puasa kita.

Tingkatan ketiga, adalah puasanya orang mukhlisin. Yaitu mereka yang berpuasa, bisa menikmati bagaimana rasanya lapar dan dahaga, juga menikmati untuk diam dan tegar.

Karena, wajar orang yang merasa payah dan lelah karena menahan lapar, dahaga dan hubungan seks yang halal. Termasuk juga merasa berat untuk diam dan tak berkata-kata pada yang tak perlu, tetapi seorang bisa menikmati dalam keadaan seperti itu dan tak berharap apa pun kecuali ridha Allah, maka orang ini masuk dalam kategori mukhlisin.

Menurut Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab al-Hikam, ikhlas adalah termasuk perbuatan yang sangat sulit dilakukan, sebab hawa nafsu sering mengeliling hati manusia untuk menyerukan sikap pamrih dengan keuntungan-keuntungan secara pribadi, maupun mudah keluh-kesah dan merasa berat karena ujian.

Maka cara yang efektif untuk masuk ke “pintu” ikhlas itu sesorang harus bisa melawan nikmatnya dunia dengan segala gemerlapnya. Sebab sesungguhnya manusia itu paling mudah tergoda dengan harta benda dan segala gemerlapnya.

Tingkatan keempat, adalah puasanya orang muttaqin, yaitu mereka yang berpuasa dengan memelihara hati untuk tidak tertarik pada dunia, dan tiadk pernah mengisi hati selain dari Allah. Puasa di tingkatan ini disebut oleh Imam Ghazali dengan khususul khusus, dan yang paling tinggi.

Jalaludin Rumi saat membahas puasa tingkatan muttaqin ini, ia mengatakan, manusia dalam berpuasa harus memperhatikan seluruh aspek, lahir dan batin. Sebab keduanya sebagai penyebab sampainya seseorang ke jalan kesempurnaan.

Lebih lanjut Rumi berpendapat, puasanya muttaqqin tidak memaknai ifthar (berbuka puasa) melulu secara lahir, yakni dengan minum, makan atau hubungan suami-istri saat terbenamnya matahari, namun mereka memaknai ifthar hakiki adalah begitu matahari terbenam dan malam datang, mata-batin muttaqin tersinari oleh Keindahan Cahaya Sang Kekasih. (MR)

Catatan: Artikel ini ditulis oleh Aguk Irawan MN dan pertama diterbitkan oleh Alif.id. Tulisan sudah diringkas oleh redaksi tanpa mengubah makna.
MITRA: ALIF.ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR