LEBARAN 2018

Halalbihalal dan perang melawan hawa nafsu

MITRA: ALIF.ID
Ilustrasi jabat tangan saling memaafkan.
Ilustrasi jabat tangan saling memaafkan. | geralt /Pixabay

Tradisi halalbihalal hanya bisa dijumpai di Indonesia. Tradisi ini tidak dikenal di negara-negara Islam lainnya. Bahkan di Arab Saudi tempat asal agama Islam.

Walau tidak ada di lingkungan masyarakat muslim lainnya, namun tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam, khususnya terkait ajaran mengenai perlunya mempererat hubungan silaturahim dan saling memaafkan di antara sesama manusia (Q.S an-Nur, 24:22, al-Baqarah, 2:237, dan al-Maidah, 5:13).

Sulit memastikan kapan tradisi ini muncul, tetapi yang jelas tradisi ini mulai dilembagakan di tanah air dalam bentuk upacara sekitar tahun 1940-an dan mulai berkembang luas setelah 1950-an.

Kini penyelenggaraan halalbihalal banyak dijumpai pada lapisan masyarakat muslim. Entah di lingkungan instansi negara maupun swasta, serta di lingkungan organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya.

Secara linguistik halalbihalal adalah kata majemuk. Istilah ini terdiri atas pengulangan kata halal dan diantarai oleh sebuah kata penghubung. Kata halal berasal dari akar kata halla atau halala yang mengandung beberapa pengertian. Di antaranya dapat berarti ‘melepaskan ikatan’, ‘mengurai benang kusut’, ‘mencairkan kebekuan’, dan ‘menyelesaikan masalah’.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik benang merah yang merupakan esensi halalbihalal, yaitu aktivitas silaturahim yang dilakukan setelah puasa Ramadan dan setelah salat Idulfitri.

Tujuannya untuk lebih mempererat hubungan persaudaraan dan kekeluargaan serta hubungan kemanusiaan di antara anggota keluarga, tetangga, kerabat, dan kolega.Agar tidak ada lagi belenggu yang mengganggu, tidak ada lagi kebekuan dan masalah yang merintangi hubungan serta komunikasi di antara sesama.

Perlunya mensucikan jiwa Islam secara tegas mengajarkan bahwa manusia itu pada dasarnya suci. Hanya saja dalam perjalanan hidupnya manusia tercemar oleh berbagai dosa. Pencemaran terjadi karena dalam diri manusia ada tendensi untuk mengikuti hawa nafsu yang bersifat irasional dan senantiasa membujuk manusia berpaling dari fitrah kesucian.

Hawa nafsu merupakan pangkal dari semua penyakit hati dalam kehidupan manusia, yaitu sombong, arogan, dengki, dendam, benci, iri, rakus, serakah harta, dan kekuasaan, serta semua bentuk sifat keji lainnya.

Hawa nafsu pada dasarnya adalah kecenderungan jiwa yang salah. Allah SWT. berfirman: “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini (QS. al-Mukminun, 23:71).

Di kalangan sufi dikenal ungkapan: “Musuh manusia yang paling berbahaya adalah nafsunya sendiri”.

Ketika usai perang Badr yang terkenal sangat dahsyat, Nabi Muhammad SAW. berkata kepada para sahabatnya, “Kita baru saja selesai dengan perang yang kecil menuju perang yang lebih besar”.

Para sahabat terperanjat dan bertanya, perang apakah gerangan yang lebih dahsyat dari perang Badr. Nabi pun menjawab, “Perang melawan hawa nafsu”. (drs)

Artikel ini ditulis oleh Musdah Mulia dengan sedikit suntingan dari redaksi.
MITRA: ALIF.ID
BACA JUGA