LEBARAN 2018

Hikmah di balik puasa Syawal

MITRA: Islami.co
Ilustrasi anak-anak sedang makan.
Ilustrasi anak-anak sedang makan. | Ambroo /Pixabay

Ramadan telah berlalu. Bagi kaum muslim, kewajiban berpuasa sudah purna. Namun sebagian umat Islam masih menjalankan puasa Syawal. Puasa Syawal ini hukumnya sunah, tidak wajib tapi dianjurkan.

Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam surat al-Insyirah, jika telah selesai melaksanakan sesuatu yang positif, maka perlu dilanjutkan dengan hal positif lainnya (faidza faragta fanshab).

Dalam konteks puasa Ramadan, setelah seorang muslim selesai melaksanakan puasa Ramadan, ia disunahkan untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal, sebagai kelanjutan dari ibadah puasa Ramadan yang telah dilaksanakan satu bulan penuh.

Sebagai sosok yang menjadi panutan bagi umatnya, Rasulullah SAW senantiasa melaksanakan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Hal tersebut beliau lakukan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena telah diberikan daya untuk melaksanakan puasa wajib satu bulan penuh di bulan Ramadan.

Karena sejatinya, mensyukuri nikmat yang berbentuk “taufiq” untuk melaksanakan sebuah ketaatan dengan cara melaksanakan sebuah ketaataan lain, merupakan jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan kaum saleh. Hal tersebut merupakan perwujudan dari konsistensi yang dimiliki mereka dalam melakukan penghambaan kepada Allah SWT.

Sebagai sebuah ibadah sunah, puasa 6 hari yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW memiliki keutamaan tertentu. Keutamaan tersebut, termanifestasi dalam nilai ibadah puasa sunah 6 hari di bulan Syawal yang menyamai dengan pahala puasa satu tahun penuh.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, lalu ia menyambungnya dengan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal, maka ia telah berpuasa selama satu tahun penuh” (HR. Muslim).

Dalam memahami hadis tersebut, para ulama terbagi menjadi beberapa kelompok. Di antara mereka ada yang memahami bahwasanya puasa 6 hari di bulan Syawal memiliki nilai pahala seperti puasa sunah satu tahun penuh.

Sedangkan, ulama lainnya memahami, orang yang melengkapi puasa Ramadan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal memperoleh pahala puasa satu tahun penuh.

Sebab ada sebuah keterangan yang menunjukkan jika satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, maka puasa Ramadan tiga puluh hari menyamai pahala sepuluh bulan puasa. Lalu puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan puasa. Jika digabungkan menjadi puasa 12 bulan alias satu tahun penuh.

Terlepas dari hal yang berkaitan dengan pahala yang menyertai puasa 6 hari di bulan Syawal, sejatinya, puasa 6 hari di bulan Syawal yang senantiasa dilaksanakan oleh Rasulullah SAW bernilai ibadah sunah dan memiliki hikmahnya tersendiri.

Di antaranya, tauladan beliau bagi umatnya untuk tidak berhenti berbuat baik setelah melaksanakan kebaikan. Serta senantiasa selalu konsisten melaksanakan kebaikan, tak bosan melakukan sebuah ketaatan sebagai bentuk penghambaan seutuhnya kepada-Nya. (drs)

Artikel ini ditulis oleh Saepul Anwar
MITRA: Islami.co
BACA JUGA