RAMADAN 2019

Imsak itu ibarat lampu kuning

MITRA: NU Online
Foto ilustrasi warga menyiapkan makanan untuk berbuka puasa di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (11/5/2019).
Foto ilustrasi warga menyiapkan makanan untuk berbuka puasa di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (11/5/2019). | Andreas Fitri Atmoko /ANTARA FOTO

Tepat pukul 04.21 dini hari tadi, dari masjid terdengar suara bilal menyerukan, "Imsak! Imsak!"

Mendengar itu, istri dan kedua anakku segera menyudahi sahurnya. Mereka segera minum air putih cukup banyak untuk mencegah terlalu haus di siang hari sekaligus mengurangi bau tak sedap selama puasa.

Saat itu aku masih tenang-tenang dengan memegang botol berisi air putih. Kutanyakan pada Si Bungsu apakah masih boleh minum. Ia menjawab tidak boleh karena sudah imsak. Istriku bilang masih boleh hingga azan Subuh.

"Seruan imsak itu bukan lampu merah," jawabku kepada Si Bungsu.

"Tetapi apa...?" Si Bungsu menimpali.

"Lampu kuning, Pak," sahut Si Sulung.

"Betul," jawabku. "Sedang lampu merah adalah saat...?"

"Ya saat Subuh, Pak. Tetapi kan lebih baik dan aman kalau sudah lampu kuning kita cepat-cepat dengan tancap rem seperti kebiasaan kita mengendara di jalan," sahut Si Sulung sekali lagi. Ia benar.

***

Itulah cuplikan perbincangan di keluarga kami lima tahun lalu yang kami rekam dalam buku catatan harian berjudul "Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami" (2016).

Perbicangan tentang batas sahur (kapan puasa dimulai) dijelaskan oleh Syekh Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi, dalam kitabnya berjudul Al-Iqna' Fil Fiqhi Asy-Syafi'i (Teheran: Dar Ihsan, 1420 H) hal. 74, sebagai berikut:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر

Artinya, "Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar.:

Dari penjelasan Syekh Al-Mawardi di atas dapat dipastikan bahwa batas makan sahur atau imsak adalah pada saat terbit fajar yang itu artinya saat Subuh. Jadi bukan pada saat diserukan "imsak" dari mushala ataupun masjid.

Para ulama memang bijak dengan menetapkan waktu imsak 10 menit sebelum Subuh.

Hal ini dapat dibuktikan pada jadwal imsakiyah resmi yang beredar di masyarakat di mana selisih waktu yang tertera antara imsak dan Subuh adalah 10 menit. Misal, jika waktu imsak jatuh pada pukul 04.11, maka waktu Subuh jatuh pada pukul 04.21.

Kebijaksanaan tersebut untuk memberikan masa transisi dari saat sahur menuju saat imsak yang sebenarnya--kala makan dan minum membatalkan puasa.

Ibarat rambu lalu lintas, jika perubahan dari lampu hijau langsung ke lampu merah tanpa ada lampu kuning, pasti akan membahayakan para pengendara. (MF)

Catatan: artikel ini ditulis oleh Muhammad Ishom, pertama kali terbit di Nu Online.
MITRA: NU Online
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR