KH. Hasyim: mewakafkan dirinya untuk Islam dan bangsa

MITRA: Islami.co
Ilustrasi Hasyim Muzadi.
Ilustrasi Hasyim Muzadi. | Salni Setyadi

"Orang yang tidak berbuat apapun untuk KEMASLAHATAN UMAT, justru akan dililit oleh PERMASALAHANNYA SENDIRI"

--KH. A. Hasyim Muzadi

Abah--panggilan akrab santri pada KH. Hasyim Muzadi--dikenal sebagai ulama kharismatik dan negarawan kelas nasional dan internasional. Konsep Islam rahmatan lil Alamin terus disemarakkan di mana saja ia ceramah dan mengisi seminar. Apapun temanya, semuanya berujung pada konsepsi Islam rahmatan lil Alamin. Konsep itu lebih ia senangi ketimbang Islam Progresif, Islam Liberal atau lainnya. "Satu-satunya istilah yang ditawarkan Al-Qur'an, ya itu", tuturnya.

Konsep Islam rahmatan lil Alamin yang berhaluan Ahli Sunnah wa Al-Jamaah, menurutnya, harus bersendikan sikap toleran, moderat dan tegak lurus, seimbang dan menyuruh berbuat baik dan menjauhi kemungkaran. Semuanya itu harus berjalan bersamaan di tengah arus Al-Tatharrufi Al-Tasyaddudi (ekstremis fundamentalis) dan Al-Tatharrufi Al-Tasahuli (ekstremis liberalis).

Islam terasa hampa dan tanpanya Islam terasa eksklusif. "Padahal kita diperintahkan untuk menjadikan sesuatu tampak baru, bukan membuat yang baru", ujar abah. Maksudnya, sebagai Muslim, ajaran Islam itu harus tampak segar agar orang tertarik dan citra Islam sebagai agama teroris akan sirna dengan sendirinya.

Abah adalah satu-satunya orang yang berbicara bahwa "seluruh jiwa raga saya, saya wakafkan untuk Islam dan bangsa Indonesia" di mana saja. Sampai menjelang wafatnya, ia hanya minta sepetak tanah untuk lokasi penguburannya kelas. Cerita di kalangan santri yang terelakkan, yakni ketika penggalian kuburan, air keluar terus, namun air itu tidak bau, ia wangi seperti melati.

Santri pun rebutan untuk bergantian memegang sedotan tarikan air. Semua kenangan baik hingga akhir hayatnya, tak terlepas dari pesannya kepada santri-santrinya, salah satunya "Orang yang tidak berbuat apapun untuk KEMASLAHATAN UMAT, justru akan dililit oleh PERMASALAHANNYA SENDIRI".

Pemikirannya yang diwariskan kepada rakyat Indonesia mulai dari wawasan Keislaman sampai kenegaraan. Abah menekankan bahwa Islam dan Muslim merupakan dua aspek yang berbeda. Islam adalah agama yang suci, sedangkan Muslim tak sesuci Islam itu sendiri. Keduanya ada jarak pemisah.

Maka konsepsi keislaman yang baik, harus melandaskan gerakannya pada tiga aspek, yaitu: Fikih, Dakwah dan Tasawuf. Agama Islam memuat aspek kehidupan, akidah, syariah, akhlak dan memberikan patokan-patokan tentang apa saja di dunia ini.

Ajarannya kerap mendahului daripada kejadian itu sendiri. Dan hanya orang-orang yang bersih hatinya, pikirannya dan hartanya lah mampu menyingkap hal-hal tersirat. "Seringkali, ibadah dan tauhid kita yang menumbuhkan hablun minallah dan kesalehan pribadi itu, tidak tembus menjadi kesalehan sosial. Ini haru diakui (sebagai) kelemahan umat Islam, mungkin di seluruh dunia.

Adanya pertarungan-pertarungan antar umat Islam pasti karena iman dan tauhid kita tidak tembus pada muamalah atau tata sosialnya. Kadang-kadang kita malu terhadap orang yang tidak menggunakan Islam tapi dia lebih tertib daripada kita," ujar abah dihadapan Presiden Joko Widodo dan wakilnya.

Islam itu ajarannya, aliran Islam adalah pemahaman seseorang (juga kelompok) terhadap Islam sebagai sebuah ajaran. Pemahaman satu dengan lainnya berbeda-beda dan pemahaman itu tidak ada yang mutlak. "HTI, PKS, PPP, PKNU dan sejenisnya itu semua gerakan Politik Islam, bukan Islam itu sendiri", tuturnya. Artinya, pemahaman seseorang terhadap Islam tidak bisa mewakili Islam itu sendiri, sebagai sebuah ajaran yang luhur, holistik dan komprehensif.

Sedangkan ideologi Islam merupakan ideologi yang berbasis Islam. Menjadikan Islam sebagai ideologinya. Islam sebagai basis gerakannya, yang menurutnya mampu membawa perubahan signifikan di Indonesia dan dunia. Awal-awal dikonsepkan dan kemudian dibuatkan wadah perjuangannya. Dan ini yang banyak di Indonesia.

Abah pun kemudian memberikan penjelasan konkret pada kita semuanya agar tidak terjebak dalam mengkultuskan sesuatu. "Islam itu ajaran yang dianut Muslim; aliran Islam adanya upaya memahami Islam menurut versi ijtihadnya; ideologi Islam adalah konsepsi seseorang terhadap Islam itu sendiri, dan setiap pembawanya memiliki corak dan penekanan yang berbeda-beda," jelasnya.

Pemahaman seseorang terhadap Islam harus disingkronisasikan dengan toleransi, agar Islam tidak terasa kaku untuk penganutnya. Barometer toleransi, menurut abah sudah jelas, yakni: "moderat adalah keseimbangan antara keyakinan dan toleransi". Toleransi yang dimaksud adalah sebuah upaya menciptakan persaudaraan, kerukunan dan melestarikan persatuan.

Sesuatu yang berbeda tidak usah disamakan dan sesuatu yang sama tidak usah dibeda-bedakan. Itulah yang sering beliau ulang-ulang kepada siapapun. Abah sangat menekankan sikap toleransi dalam beragama, prinsipnya jelas bahwa toleransi bukan justifikasi.

Sesama umat Islam, prinsip toleransi adalah bersandar pada "bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian". Menurutnya, keributan di internal umat Islam disebabkan tidak dewasanya Muslim satu dengan lainnya dalam mengambil pijakan dan menyimpulkannya. Misalnya, Qunut, perbedaan hari raya dan sejenisnya. Sesekali abah membuat humor, "Alhamdulillah, sekarang ini sudah tidak ribut lagi, karena keduanya (NU dan Muhammadiyah) sudah tidak shalat Subuh."

Persoalan sepele atau dalam bingkai ikhtilah, tidak perlu dikerucutkan seperti persoalan akidah. Jika sudah sampai pada tahap akidah, seperti: Nabi Muhammad bukan penutup para nabi, maka umat Islam harus tegas bahwa itu bukan ajaran Islam yang murni lagi.

Sedangkan toleransi kepada agama lain harus pengertian. Makna "mengerti" dalam Islam itu bukan lantas setuju dan sepakat membenarkan, melainkan mengerti bahwa itu bentuk keragaman yang ada di dunia ini. Dan Muslim tidak boleh memaksa non-Muslim dalam menyebarkan ajarannya. Karena memaksa dan memberikan hidayah bukanlah otoritas sang penyebar, melainkan Tuhan.

Abah selalu melandaskan gerakannya pada konsepsi Piagam Madinah. Di mana Nabi membina kerukunan hidup antar kabilah dan suku, yang sebelumnya penuh dengan pertikaian dan permusuhan. Nabi tampil merukunkan satu sama lain, tanpa berpikiran buruk. Abah berpendapat, "berpikiran buruk" dengan "memiliki kewaspadaan" adalah dua hal yang berbeda.

Berpikiran buruk itu adalah pemikiran yang tidak mengakui kebaikan di luar dirinya, sedangkan memiliki kewaspadaan adalah mampu memilah antara urusan ajaran, politik dan muamalah. Kalau muamalah, harus saling gotong royong.

Abah memberikan patokan dalam bertoleransi, pertama, tidak sampai keluar dari ajaran Rasulillah Muhammad SAW; kedua, tidak memonopoli kebenaran. Akar utama masalah kita bersama adalah takfiri, menganggap yang tidak sejalan dengannya adalah kafir, murtad dan sejenisnya; ketiga, toleran dalam hal-hal ijtihadi. Misalnya, sistem negara.

Menurut abah, untuk mampu dan ideal menyelamatkan NU, Indonesia dan agama Islam, maka harus memadukan dan membawa secara beriringan antara Fiqhu Al-Ahkam (Fikih Hukum), Fiqhu Al-Da'wah (Fikih Dakwah) dan Fiqhu Al-Siyasah (Fikih Poltik).

Wilayah "Fikih Hukum" maka masyarakat Indonesia mengikuti pendapat mayoritas; wilayah Fikih Dakwah, bagaimana membuat orang yang belum baik menjadi baik, yang sudah baik ditingkatkan kualitasnya. Karena menurut abah, umat Muslim terbagi dua, ada umat ijabah dan umat dakwah. Umat ijabah adalah umat yang sudah siap berhukum sedalam-dalamnya, sedangkan umat dakwah adalah umat yang harus ditarik pelan-pelan. Ini yang sering disalah pahami oleh Muslim di Indonesia. padahal, "Jika umat Islamnya baik, maka negara ini akan baik. Sebaliknya, umat Islam tidak baik, dalam situasi tidak diharapkan maka ini akan berpengaruh pada kondisi bangsa ini," pungkasnya.

Untuk wilayah "Fikih Siyasah", Muslim mayoritas di Indonesia sudah final dengan sistem keindonesiaan ini. "PANCASILA bukan agama, tetapi tidak bertentangan dengan AGAMA. PANCASILA bukan jalan, tetapi titik temu antara banyak perbedaan jalan. Beda agama, suku, budaya & bahasa hanya PANCASILA yang bisa menyatukan perbedaan tersebut." Itulah yang sering diulang-ulang abah.

Syariat Islam sekarang diterima dengan a priori. Pro dan kontra. Satu sisi, ada tuntutan, syariat harus dilakukan secara tekstual. Di lain pihak, ada orang yang mendengar kata syariat saja sudah ngeri. Istilah Arabnya, ada ifrad (berlebihan dalam mengamalkan agama) dan tafrid (meremehkan, longgar, dan cuek dalam beragama). Menurut NU, masalahnya bukan pro kontra syariat. Tapi bagaimana pola metodologis pengembangan syariat dalam NKRI.

Syariat tidak boleh dihadapkan dengan negara. NU sudah punya polanya. Bahwa "tathbiq al-syariat" (aplikasi syariat) secara tekstual dilakukan dalam civil society, tidak dalam nation-state. Aplikasi tekstual itu untuk jamaah NU, untuk jamaah Islam sendiri. Dia harus taat beribadah, taat berzakat, dan sebagainya. Sehingga firman Allah, "wa man lam yahkum bima anzalallahu fa ulaika humul kafirun" (barang siapa tidak menghukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang kafir), ungkapan "man" (barang siapa) di sini maksudnya "orang", bukan "institusi".

Indonesia bukan negara ateis bukan negara sekuler dan bukan negara agama. Karena kalau negara ateis dia tidak percaya Tuhan ada, dia anti Tuhan. Bukan pula sekuler, karena membiarkan orang beragama atau tidak beragama. Tidak pula menjadi negara agama, karena teks agama tidak menjadi konstitusi tetapi nilai-nilai universalitas agama yang dikemas dalam konstitusi nasional itu sebagai payung untuk seluruh bangsa Indonesia.

Luasnya pemikiran abah Hasyim, tidak mampu penulis tuliskan secara keseluruhan di ruang yang sempit ini. Tapi ringkasnya, KH. Hasyim Muzadi mengajak umat Muslim untuk dewasa menyikapi bangsa ini, dengan akal dan hati nurani bukan dengan otot. Dewasa berpikirnya, dewasa bertindaknya dan dewasa melerai persoalan banga dan negeri ini. Semoga negeri ini selalu aman dan sejahtera.

Penulis: Muhammad Makmun Rasyid, Santri KH. Hasyim Muzadi di Al-Hikam Depok.

Tulisan berikutnya: Islam Rahmatan Lil Alamin ala Kiai Hasyim Muzadi

MITRA: Islami.co
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR