RAMADAN 2019

Kisah Bilal dan azan terakhir di Madinah

MITRA: ALIF.ID
Ilustrasi sebuah masjid di Madinah.
Ilustrasi sebuah masjid di Madinah. | Konevi /Pixabay

Semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal Ra menyatakan bahwa ia takkan mengumandangkan azan lagi.

Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya menjadi muazin kembali, Bilal menolak. “Biarkan aku hanya menjadi muazin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muazin siapa-siapa lagi.”

Abu Bakar pun tak bisa mendesak Bilal agar berkenan mengumandangkan azan lagi. Bilal bin Rabah adalah budak dari Habasyah yang dimerdekakan oleh Abu bakar. Putra Rabah ini masuk dalam assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam) mewakili golongan budak.

Bilal mendapat siksaan dari majikannya setelah tahu Bilal masuk Islam. Bilal dianiaya luar biasa. Budak ini terus mendapatkan ancaman selama belum kembali pada agama lamanya. Namun, siksaan-siksaan itu tidak membuat iman Bilal runtuh.

Selama Rasulullah mendakwahkan Islam, Bilal dikenal sebagai muazin alias orang yang pertama mengumandangkan azan dalam sejarah Islam. Wafatnya Rasulullah mendorong Bilal meninggalkan Madinah.

Lalu ia ikut pasukan Fathul Islam (Pembebasan Islam) menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria (kini Suriah). Setelah sekian lama Bilal tak mengunjungi Madinah, pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpinya.

Ya Bilal, wa maa hadzal jafa? (Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?”)

Bilal pun bangun terperanjat. Tanpa berpikir panjang, ia segera mempersiapkan perjalanan kembali ke Madinah, demi menziarahi makam Rasulullah. Setiba di Raudhah, Bilal menangis sepuasnya dan melepas rasa rindunya pada Rasulullah.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Mereka adalah cucu Rasulullah, Hasan dan Husein. Dengan mata sembab karena tangis, Bilal yang kian beranjak tua, memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut. Lalu Husein berkata kepada Bilal.

“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek.”

Saat bersamaan, Umar bin Khattab yang telah menjabat Khalifah, juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan ia pun memohon Bilal agar mau mengumandangkan azan lagi, meski sekali saja. Setelah menimbang sekian jenak, akhirnya Bilal pun memenuhi permintaan mereka.

Saat waktu salat tiba, Bilal pun naik ke tempat dahulu ia biasa mengumandangkan azan semasa Rasulullah masih hidup. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala kegiatan terhenti. Semua orang terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan itu, telah kembali.

Ketika Bilal mengumandangkan lafadz Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh warga Madinah berlarian ke arah suara itu, sambil berteriak histeris. Bahkan para gadis dalam pingitan pun menghambur keluar. Sewaktu Bilal hendak mengumandangkan Asyhadu anna…, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Bilal tak sanggup melanjutkan azannya dengan lantunan Muhammadan Rasulullah.

Mereka semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah. Umar bin Khattab lah yang paling keras tangisnya. Di atas menara Nabawi, Bilal tak sanggup meneruskan azan. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu seantero Madinah mengenang masa saat Rasulullah masih ada di antara mereka. Itulah azan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. (MR)

Catatan: Artikel ini ditulis oleh Ren Muhammad dan pertama kali diterbitkan di Alif.id
MITRA: ALIF.ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR