RAMADAN 2019

Kisah kiai pelihara anjing

MITRA: Historia
KH Mas Mansyur (duduk di tengah) bersama anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1937-1943.
KH Mas Mansyur (duduk di tengah) bersama anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1937-1943. | Dok. PP Muhammadiyah

Masih ingat cerita Hesti Sutrisno dan Desy Marlina Amin. Dua perempuan muslim itu jadi viral beberapa tahun lalu lantaran kasih sayang mereka kepada anjing. Desy, yang berjilbab, rajin beri makan anjing liar. Hesti, yang bercadar, memelihara 11 anjing.

Perbuatan baik mereka menuai pujian sekaligus kecaman. Mereka yang keberatan meyakini bahwa orang Islam lebih baik tak memelihara anjing karena najis.

Pandangan itu bisa diperdebatkan bila mengingat cerita K.H. Mas Mansur, ketua Muhammadiyah (1937-1943), yang pernah memelihara anjing betina jenis Keeshond.

Anjing itu hadiah dari pemilik restoran Molenkamp, langganan Sukarno, di Pasar Baru, Jakarta.

Menurut Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran, seorang kiai memelihara anjing rupanya menjadi sorotan karena banyak yang beranggapan bahwa air liur binatang itu najis.

Padahal, anjing dikisahkan dalam Alquran sebagai binatang yang menemani Ashabul Kahfi yang lari dari kejaran raja yang lalim.

"Menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, Mas Mansur mengemukakan alasan: 'Di Mekkah banyak anjing berkeliaran. Nah, apa itu tidak najis?'" tulis Darul Aqsha.

Ada kisah unik yang dikisahkan Darul Aqsha. Suatu ketika KH Abdul Wahab Hasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama, berkunjung ke rumah Mas Mansur di Jakarta.

Ketika sedang menikmati jamuan makan, Ibrahim, anak Mas Mansur, melepas anjingnya dan mendekati tempat makan. Melihat ada anjing mendekatinya, Kiai Wahab langsung melompat dari tempat duduknya. Suasana jadi ramai.

Ibrahim segera mengambil anjing itu. Setelah Kiai Wahab pulang, Mas Mansur memarahi Ibrahim yang melepaskan anjing itu sewaktu Kiai Wahab bertamu.

Sewaktu mau melahirkan, anjing yang biasa tidur bersama Ibrahim itu, dihadiahkan kepada dr. Soeharto, staf Mas Mansur di Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pada masa pendudukan Jepang. Soeharto kemudian menjadi dokter pribadi Sukarno.

Sepintas Kiai Haji Mas Mansur

Mas Mansur lahir pada 25 Juni 1896. Ayahnya, KH Mas Ahmad Marzuqi, keturunan bangsawan Astatinggi, Sumenep, Madura.

Ayahnya imam dan khatib di Masjid Agung Ampel Surabaya. Sedangkan ibunya, Raudhah, seorang perempuan kaya dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya.

Selain belajar agama pada ayahnya, Mas Mansur berguru pada Kiai Muhammad Thaha di Pesantren Sidoresmo. Setelah itu, dia mondok ke Pondok Pesantren Kiai Kholil di Demangan, Bangkalan, Madura.

Sepulang dari Pesantren Demangan pada 1908, Mas Mansur belajar ke Mekkah selama kurang lebih empat tahun. Situasi politik di Arab Saudi memaksanya pindah ke Mesir. Dia belajar di Perguruan Tinggi Al-Azhar selama kurang lebih dua tahun.

Sebelum pulang ke tanah air, dia singgah di Mekkah selama satu tahun, dan pada 1915 dia pulang ke Indonesia. Dia bergabung dengan Sarekat Islam, kemudian memimpin Muhammadiyah.

Mas Mansur juga jadi tokoh di balik pembentukan Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). Ia dikenal juga sebagai salah satu penyuara kemerdekaan Indonesia.

Pada 1946, Mas Mansur bakar semangat para pemuda untuk mengadang pasukan NICA. Aktivitas itu membuatnya ditangkap NICA dan akhirnya meninggal dunia dalam tahanan. Atas jejak perjuangannya, Mas Mansur beroleh gelar pahlawan nasional. (MF)

Catatan: artikel ini ditulis oleh Hendri F. Isnaeni, dan terbit pertama kali di Historia.id.
MITRA: Historia
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR