Makmum Isya kepada salat Tarawih

MITRA: Islami.co
Foto ilustrasi salat berjamaah.
Foto ilustrasi salat berjamaah. | Pixabay

Seperti kita maklumi bersama, salat dapat dikerjakan dengan dua cara, berjamaah dan munfarid(sendirian). Berjamaah berasal dari bahasa Arab, yang artinya berkumpul atau berkelompok. Salat berjamaah minimal terdiri dari dua orang, yakni imam dan makmum. Jumlah maksimalnya tidak terbatas. Tergantung pada kapasitas tempat.

Keabsahan salat berjamaah menuntut terpenuhinya beberapa persyaratan tambahan, yaitu:

1. Makmum tidak mengetahui atau meyakini salatnya imam batal.

2. Seorang yang mampu membaca Alfatihah tidak boleh makmum kepada orang yang tidak mampu membacanya.

3. Laki-laki tidak boleh makmum kepada perempuan.

4. Tempat makmum tidak berada di depan imam.

5. Makmum mampu mengikuti gerakan imam.

6. Makmum mengetahui perpindahan imam dari satu rukun ke rukun yang lain.

7. Imam dan makmum berada dalam satu tempat.

8. Makmum wajib niat menjadi makmum atau berjamaah dengan imam.

9. Salat imam dan makmum harus sama. (Al-Fiqh Al-Manhaji: I, 179-184).

Berdasarkan persyaratan terakhir, menurut madzhab syafi'i, makmum yang mengerjakan salat Zuhur tidak boleh mengikuti imam yang sedang mengerjakan salat Asar, Magrib, Isya, dan Subuh. Tetapi seseorang yang salat sunah diperbolehkan mengikuti (menjadi makmum) orang yang tengah menunaikan salat fardu. Seseorang yang salat fardu pun sah bila makmum kepada imam yang salat sunah, meskipun hukumnya makruh. (Madzahib Al-Arba'ah: I, 418).

Berangkat dari itu, sah-sah saja orang yang mengerjakan salat Isya seraya bermakmum kepada imam yang tengah bertarawih. Meskipun sah, sebaiknya dihindari, sebab hukumnya makruh.

Definisi makruh adalah ma yutsabu 'ala tarkih, wa la yu'aqab 'ala fi'lih, perkara yang bila ditinggalkan berpahala, kalau dikerjakan tidak mendapat dosa. Kebiasaan menerjang perbuatan yang makruh lama-lama membuat orang memiliki keberanian menerjang perbuatan haram. Sebagaimana menganggap sepele perkara sunah dapat mendorong orang berani mengabaikan perkara wajib.

Lagi pula, menurut Madzhab Hanafi dan Hambali tidak sah orang salat fardlu makmum kepada orang yang salat sunah. Padahal terdapat kaidah yang menyatakan: al-Khuruj min al-khilaf mustahabb, keluar dari khilaf hukumnya sunah.

Cara keluar dari khilaf, dalam kasus tersebut di atas adalah Seseorang yang salat fardlu tidak makmum kepada orang yang salat sunah.

K.H. M. A. Sahal Machfudz, Dialog Problematika Umat, hal 137, Khalista 2013, Surabaya
MITRA: Islami.co
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR