RAMADAN 2019

Ramadan, saatnya bersikap adil kepada kaum yang berbeda

MITRA: Islami.co
Ilustrasi patung Dewi Keadilan.
Ilustrasi patung Dewi Keadilan. | Sang Hyun Cho /Pixabay

Ramadan biasanya diselingi isu penutupan warung makan. Saat kita mengimbau agar Ramadan tak perlu menutup warung makan, biasanya akan mendapat sanggahan dengan membandingkan antara perayaan Nyepi di Pulau Bali dengan bulan Ramadan.

Mereka akan menyergah kita dengan pertanyaan, “Mengapa saat Perayaan Nyepi oleh kaum Hindu Bali semua orang yang tinggal di Bali tidak boleh beraktivitas (lampu mati, toko, warung, pom bensin, hingga perkantoran tutup), sementara umat Islam tidak boleh melakukan hal yang sama?”

Sanggahan ini setidaknya mengabaikan perbedaan mendasar antara ritual Nyepi dengan puasa. Perayaan Nyepi dilakukan sehari setelah kirap ogoh-ogoh yang menyimbolkan pengusiran nafsu jahat dari diri manusia.

Hari Nyepi adalah hari di saat umat Hindu menyepikan diri dan lingkungannya, termasuk tidak melakukan aktivitas rutin keseharian, untuk merenungi kembali jati dirinya. Jadi, kesunyian dan kesepian lingkungan menjadi bagian inheren dari ritual Nyepi itu sendiri.

Sementara, penutupan warung sama sekali bukan bagian dari ritual puasa. Bahkan sekalipun saat berpuasa kita duduk di samping penjual sate yang sedang memanggang daging kambing muda dengan aromanya sangat menggoda pun tidak akan membatalkan puasa kita.

Sekalipun demikian, biarlah umat Hindu yang menjelaskan tentang perayaan Nyepi dan praktiknya di Pulau Bali. Kita sebagai umat Islam hanya diperintah untuk saling menasihati.

Kalau toh praktik perayaan Nyepi di Bali dianggap wujud dari intoleransi, apakah hal itu bisa menjadi alasan untuk melakukan tindakan intoleran? Jika umat Islam menjadi kelompok minoritas di sebuah negara dan menjadi korban penindasan dan diskriminasi, apakah hal itu bisa membenarkan kita dalam melakukan penindasan dan diskriminasi terhdap kelompok minoritas lain?

Jika jawabannya 'ya', maka ada yang patut dipertanyakan, kenapa ada keinginan untuk terus berperang dan membangun permusuhan serta dendam.

Cara berpikir seperti ini bukan cara berpikir untuk menegakkan keadilan, tapi membangun dendam yang tanpa batas.

Semoga kita bisa berlaku adil sekalipun terhadap kelompok yang tidak kita sukai. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 8:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (MR)

Catatan: artikel ini ditulis oleh ustaz Ahmad Z El Hamdi dan pertama kali diterbitkan di Islami.co
MITRA: Islami.co
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR