RAMADAN 2019

Respons Nabi saat sahabat mengafirkan musuh

MITRA: NU Online
Seorang muslim membaca Al Quran melalui gawainya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (17/5/2019).
Seorang muslim membaca Al Quran melalui gawainya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (17/5/2019). | Indrianto Eko Suwarso /ANTARA FOTO

Pada suatu ketika, kala perang usai, seorang musuh menyelinap memasuki wilayah kekuasaan prajurit Muslim.

Usama ibn Zaid ibn Haritsah, Panglima Angkatan Perang Nabi yang usianya masih muda, memergoki dan mengejar musuh tersebut.

Si Musuh pun terjebak di sebuah tebing dan jurang, sehingga tiada lagi jalan keluar. Namun, tiba-tiba, Si Musuh meneriakkan dua kalimat syahadat di hadapan Usamah.

Sang Panglima Perang Nabi terperanjat. Meski begitu, dia dan pasukannya tak ingin terkecoh. Usamah tetap menghunus pedang dan membunuh orang itu.

Salah seorang sahabat yang menyaksikan peristiwa tersebut melapor kepada Nabi Muhammad. Demi mendengarnya, Nabi marah hingga terlihat urat di dahinya begitu jelas melintang.

Rasulullah memanggil Usamah dan menanyakan alasannya menghukum seseorang yang sudah bersyahadat?

Usamah menjawab bahwa tindakan musuh tersebut hanya taktik belaka. Lagi pula musuh membawa senjata yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan pasukan Muslim. Ringkasnya, musuh dieksekusi karena diduga syahadatnya palsu.

Mendengar alasan Usamah, Rasulullah pun bersabda:

"Nahnu nahkum bi al-dhawahir, wa Allah yatawalla al-sarair" (kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah SWT yang menghukum apa yang tersimpan di hati orang). (KH Nasaruddin Umar, Khutbah-khutbah Imam Besar, 2018)

Pada akhirnya, selepas mendengar nasihat Rasulullah, Usamah memohon maaf. Dia berjanji akan berhati-hati bila menemui peristiwa serupa.

Jawaban Rasulullah juga menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh memvonis keyakinan dan kepercayaan orang lain apalagi mengafirkannya.

Bila seseorang secara formal telah bersyahadat dengan terbuka, maka umat Islam tidak boleh mengusiknya apalagi mencelakainya. Pun, bila dia belum bersyahadat (masih tergolong non-muslim) umat Islam tak boleh mengganggu.

Saling mengafirkan menjadi fenomena umat Islam di zaman kini. Bahkan fenomena ini terjadi di antara sesama Muslim, hanya karena perbedaan pandangan, dan lain-lain.

Seorang muslim harus menghormati keyakinan serta kepercayaan orang lain, dengan terus berperilaku dan berdakwah sebaik-baiknya. Soal ada pelanggaran, biarkan hukum formal yang menyelesaikan. (MF)

Catatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh NU.or.id.

MITRA: NU Online
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR