RAMADAN 2019

Sejarah mercon saat Ramadan

MITRA: Historia
Dua bocah bermain mercon. Dulu, saat belum ada pengeras suara dan masih sedikit pemilik jam, mercon menjadi penanda buka puasa.
Dua bocah bermain mercon. Dulu, saat belum ada pengeras suara dan masih sedikit pemilik jam, mercon menjadi penanda buka puasa. | Syaiful Arif /Antara Foto

Jika kini anda sebal dengan ledakan mercon yang mengagetkan saat Ramadan, berbeda dengan orang zaman dulu. Mereka malah sangat menanti suara ledakan sebagai tanda berbuka puasa. Ledakan itu dari mercon besar di masjid-masjid. Maklum, bubuk mesiu itu berguna saat belum ada pengeras suara dan tak banyak orang yang memiliki jam.

R.D. Sadulah dalam roman Zuster Hayati menulis, mercon blangur yang diambil dari kebudayaan Tiongkok, diperbolehkan asal bermanfaat. "Mercon blanggur sangat berguna bagi orang yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sebagai tanda berbuka puasa. Tidak semua orang mempunyai jam atau alat pengukur waktu yang lain.”

Tampaknya ledakan mercon blanggur sebagai tanda berbuka puasa sudah sejak zaman kolonial Belanda. Mohammad Saleh Hadjeli yang hidup di zaman kolonial, menuturkan “Dua tempat di Jakarta yang sejak dulu menjadi pedoman masyarakat, yang pertama Masjid Kwitang, dan yang kedua Masjid Tanah Abang, Baitul Rahman. Pada setiap masuk waktu magrib di bulan Ramadan, termasuk juga pada waktu jaman Jepang, selalu diledakkan mercon besar untuk tanda berbuka puasa. Suara ledakan tersebut terdengar sampai ke daerah Senen, Kwitang, Kramat dan tempat-tempat lainnya. Kami selalu salat Jumat dan Tarawih di mesjid itu,” kata Hadjeli, dikutip dari Di Bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Orang yang Mengalaminya.

Di Solo, menjelang magrib, warganya pada masa lalu duduk-duduk di halaman rumah menunggu suara gelegar dari mercon raksasa, yang menandai saat berbuka puasa. “Karena suara mercon itu berbunyi ‘duuul!’ maka orang Solo menyebut ‘dul’ sebagai saat berbuka puasa,” tulis Panji Masyarakat, No. 45 Th II/24 Februari 1999.

Adalah Muhammad Isa Alwi, generasi terakhir yang bertugas mengadakan dan menyulut “dul” selama tiga tahun di akhir tahun 1970-an untuk Masjid Tegalsari, Surakarta. Menurutnya, di Kota Solo penyulutan “dul” dilakukan di dua lokasi, yaitu Masjid Tegalsari dan Masjid Agung. Penyulutan "dul" di Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta sempat terhenti pada 1965, saat meletusnya Gerakan 30 September. Di Masjid Tegalsari sendiri penyulutan “dul” sebagai tanda berbuka puasa diawali pada 1960-an.

“Waktu itu belum ada tanda untuk buka puasa yang bisa didengar masyarakat secara luas. Makanya digunakan bom udara. Kalau di Keraton Kasunanan Surakarta, saat itu memang dipakai semacam meriam, yang disulut pada upacara tertentu. Atas inisiatif masyarakat digunakanlah 'dul' sebagai tanda waktu berbuka. Kemudian Masjid Agung menggunakan bom udara itu untuk penanda buka puasa. Masjid Tegalsari juga melakukannya,” kata Isa Alwi kepada Panji Masyarakat.

Merconnya, kata Isa Alwi, dipesan dari daerah produsen mercon di pesisir pantai utara Jawa Timur, sekitar Tuban. Pesan langsung untuk 30 hari. Tapi tidak bisa langsung jadi, berangsur-angsur karena tidak mudah membuatnya.

Selain sebagai tanda berbuka puasa, menurut Sadulah, memasang mercon besar atau blanggur juga menjadi tanda dimulai dan berakhirnya bulan puasa. “Memberi suasana kemegahan Idulfitri dan Idulqurban,” tulis Sadulah. (MR)


Catatan: Artikel ini ditulis oleh Hendri F Isnaeni dan pertama kali terbit di Historia.id. Tulisan sudah kami sunting, tanpa mengubah makna asli tulisan.
MITRA: Historia
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR