RAMADAN 2019

Sikap Rasulullah terhadap penista azan

MITRA: ALIF.ID
Foto ilustrasi menunjukkan menara Masjid Al Mujahidin di Palu, Sulawesi Tengah, yang mengalami kemiringan akibat gempa dan tsunami pada 28 September 2018.
Foto ilustrasi menunjukkan menara Masjid Al Mujahidin di Palu, Sulawesi Tengah, yang mengalami kemiringan akibat gempa dan tsunami pada 28 September 2018. | Mohamad Hamzah /ANTARA FOTO

Ada seorang penggembala kambing bernama Abu Mahdzurah. Pada suatu siang, ia bersama tiga orang temannya berada di sebuah perbukitan, tidak jauh dari Rasulullah dan para sahabatnya dalam sebuah peperangan.

Ketika tiba waktu salat Zuhur, Rasulullah memerintahkan Bilal radliyallahu 'anhu untuk mengumandangkan azan. Kala azan berkumandang, Abu Mahdzurah menyahuti panggilan salat itu dengan nada mengolok-olok.

Rasulullah melihat Abu Mahdzurah dan ketiga temannya yang berada tidak jauh dari dirinya. Beliau lalu memerintahkan sahabat Ali dan Bilal radliyallahu 'anhu untuk memanggil kawanan itu.

Saat mereka datang, Rasulullah bertanya kepada orang pertama, "Siapa tadi yang azan (Rasulullah tidak berkata: "siapa tadi yang mengolok-olok") mengikuti azan Bilal?"

Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani menjawab pertanyaan Rasulullah karena rasa takut. Maklum Rasulullah disertai banyak sahabatnya (baca: pasukan perang).

Lalu, sejurus kemudian Rasulullah memerintahkan salah seorang di antara mereka untuk azan. Orang pertama pun azan, dan Rasulullah bergumam, "Ah bukan ini suara yang tadi aku dengar, ini tidak bagus suaranya."

Rasulullah lantas mengulangi perintahnya kepada orang kedua dan ketiga. Keduanya azan bergantian, dan Rasulullah kembali berkata, "Bukan ini, suara yang tadi aku dengar."

Tibalah giliran Abu Mahdzurah, orang keempat, mendapatkan perintah untuk azan. Abu Mahdzurah pun azan dengan suara yang indah sebagaimana yang Rasulullah dengar saat Bilal azan.

Rasulullah kemudian mendekat dan menghampirinya. Abu Mahdzurah ketakutan karena ia menduga Rasulullah akan mencelakainya.

Namun ia salah sangka, Rasulullah melepas tutup kepala Abu Mahdzurah dan memegang kepala dan dada Abu Mahdzurah seraya berkata:

"Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu untuknya." Dan Rasulullah juga mendoakan keberkahan untuknya tiga kali dan berkata, "Pergilah, Kau adalah muazin penduduk Mekkah."

Abu Mahdzurah kemudian masuk Islam dan sejak saat itu, Abu Mahdzurah dan keturunannya selama 300 tahun menjadi muazin di Masjidil Haram. Apa pelajaran yang wajib kita ambil?

Kepada yang jelas-jelas mengolok-olok azan, menista agama saja, Nabi Muhammad memaafkan dan mendoakannya. Masa kepada orang yang belum tentu, belum pasti menghina atau mengolok-olok agama, kita menghukumnya? (MF)

Catatan: artikel ini ditulis oleh Rifqi Muhammad Fatkhi, pertama kali diterbitkan di Alif.id.
MITRA: ALIF.ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR