Sufi 'Gila' yang menasihati Khalifah Harun al-Rasyid

MITRA: Islami.co
Ilustrasi warga membawakan gerakan tari Rodat atau tari Sufi bergaya Jawa di Masjid Pathok Negara, Plosokuning, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (28/5). Tarian Sufi bergaya Jawa diiringi rebana dengan bacaan selawat tersebut merupakan warisan leluhur untuk menunggu waktu berbuka puasa serta memeriahkan bulan suci Ramadan.
Ilustrasi warga membawakan gerakan tari Rodat atau tari Sufi bergaya Jawa di Masjid Pathok Negara, Plosokuning, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (28/5). Tarian Sufi bergaya Jawa diiringi rebana dengan bacaan selawat tersebut merupakan warisan leluhur untuk menunggu waktu berbuka puasa serta memeriahkan bulan suci Ramadan. | Hendra Nurdiyansyah /Antara Foto

Buhlul al-Majnun bernama lengkap Abu Wahb Buhlul bin Amr as-Shairafi al-Kufi. Penisbatan terhadap al-Kufi menunjukkan bahwa ia dilahirkan di Kufah, Irak.

Ia adalah seorang sufi yang hidup pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Wafat pada tahun 197 H atau bertepatan pada tahun 810 M. Bulbul merupakan salah seorang sufi yang sekaligus penyair, ahli zuhud dan pendongeng.

Fuat Sezgin dalam magnum opusnya, Geschichte des arabischen Schrifttums (jilid 4 dalam 13 jilid dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Tarikh at-Turats al-Arabi) menyebutkan bahwa biografi Buhlul bisa dilacak di sejumlah sumber al-Bayan wa at-Tabyin karya al-Jahiz, al-Rijal karya At-Thusi, Lisan al-Mizan karya Ibnu Hajar, al-A'lam karya al-Zirkli, maupun dalam Geschichte der arabischen Litteratur yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Tarikh al-Adab al-Arabi karya Carl Brockelmann.

Sementara mengenai karya-karya berbentuk qashidah yang dinisbatkan kepadanya adalah al-Qashidah al-Buhluliyyah, Qashidah Ibn Arus, dan al-Qashidah al-Fiyasyiyyah." Sezgin sendiri menempatkan Buhlul sebagai sufi ketiga di era Abbasiyah yang di mana pada masa awal dinasti Abbasiyah naskah-naskah yang mengandung ungkapan dan perilaku zuhud jauh lebih banyak dibanding masa dinasti Umayyah.

Pada masa ini, menurut Sezgin, perhatian membukukan (attadwin) tema-tema sufisme menempati posisi yang paling penting. Di mana banyak para ahli hadis pada masa ini merupakan pelaku asketik (zahid).

Konon, sehari-hari ia hidup di area pemakaman umum. Anak-anak kecil di Baghdad kerap menjadikannya hiburan. Bahkan kadang kala ia dilempari batu oleh anak-anak yang memang tak mengenali hakikat Buhlul.

Kebanyakan orang awam pada masanya melecehkan nasihat dan petuahnya meskipun apa yang diceritakannya sebuah kebenaran. Ia bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang awam kebanyakan.

Suatu waktu ia keluar menuju kota (Baghdad), di tengah perjalanan ia bertemu dengan anak-anak nakal. Mereka melempari Buhlul dengan batu sembari meneriakkan "Buhlul al-Majnun" dan "Buhlul ya Majnun". Ia tak membalasnya kecuali dengan sebuah syair:

Cukuplah aku pasrah kepadamu, Tuhan

Dari segala apa yang dilakukan oleh mereka kepadaku

Tidak ada tempat pelarian yang abadi kecuali menuju kepada-Mu

Nasehat Untuk Sang Khalifah

Salah satu riwayat menceritakan sebuah kisah Buhlul dengan Khalifah Harun al-Rasyid. Buhlul yang dilecehkan oleh masyarakat Baghdad pada saat itu dengan julukan al-majnun alias orang gila.

Padahal sejatinya ia adalah seorang bijaksana dan paling berakal di zamannya. Para ulama pada masanya juga banyak yang mengambil hikmah dan istifadah serta mauidzoh dari sufi ini.

Wahai Buhlul, kapan kau sembuh dari gilamu? tanya Khalifah Harun al-Rasyid.

Ia balik bertanya,"Aku apa engkau yang gila, wahai Khalifah?

Khalifah menukas, "Kau yang setiap hari duduk di atas kuburan yang gila".

Bahlul menjawab, "Aku yang waras!"

"Kenapa begitu?"

Buhlul menjawab, "Ya, karena aku tahu bahwa istana dan kekuasaanmu -sembari menunjuk istana Harun- akan musnah. Dan di situ (menunjuk kuburan) kau akan abadi. Oleh karenanya aku mempersiapkan diri untuk tinggal kekal di sini. Sementara engkau justru menyibukkan diri dengan membangun istanamu yang kelak atas takdir-Nya ia akan punah! Kau terlihat begitu membenci kuburan sedangkan di situlah kelak tempat peristirahatan terakhirmu!"

Buhlul melanjutkan,"Jika demikian adanya, lalu siapa di antara kita yang gila! wahai khalifah?!"

Khalifah Harun diam sejenak tanpa mampu bicara. Lalu ia berkata kepada Buhlul sambil menangis terisak, "Demi Allah. Benar sekali apa yang kau katakan, wahai Buhlul."

Khalifah meminta nasihat dan petunjuk sang sufi ini. Ia berkata, "Nasihatilah aku, wahai Buhlul."

"Cukuplah kau pegang dan amalkan kitabullah."

Khalifah melanjutkan, "Baiklah, apakah kau mengingingkan sesuatu dariku?"

"Ya!" Jawab Buhlul. "Ada tiga permintaanku kepadamu yang jika kau sanggup melakukannya aku akan berterimakasih sekali kepadamu!"

Pertama, bisakah kau menambah atau memperpanjang usiaku? tanya Buhlul

Khalifah menjawab, "Tentu aku tidak mungkin mampu melakukannya"

Kedua, mampukah kau menjagaku dari malaikat maut?

"Tentu aku juga takkan mampu". Jawab Khalifah

"Ketiga, mampukah kau memasukkanku di Surga dan menjauhkan diriku dari api neraka?" Pinta Buhlul

"Juga tak mungkin mampu untuk aku lakukan."

Buhlul kemudian menukas, "kalau begitu, aku tidak membutuhkan bantuanmu!"

MITRA: Islami.co
BACA JUGA