INOVASI TEKNOLOGI

2 Tawaran LIPI untuk atasi pencemaran air

Kondisi kali Sunter yang dipenuhi busa di Kelapa Gading Barat, Jakarta, Rabu (21/3). Timbulnya busa tersebut dari pembuangan limbah rumah tangga dan industri.
Kondisi kali Sunter yang dipenuhi busa di Kelapa Gading Barat, Jakarta, Rabu (21/3). Timbulnya busa tersebut dari pembuangan limbah rumah tangga dan industri. | Aprilio AKbar /Antara Foto

Jakarta terancam krisis air bersih. Sementara, kondisi sungai dan danau di DKI Jakarta yang kotor dan penuh sampah, kian mengkhawatirkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebenarnya punya solusinya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Detik.com (26/3/2018) menyebut, kondisi air di Jakarta defisit.

"Orang masih saja mengira air tersedia di mana-mana dan supply-nya banyak. Padahal tidak. Di Jakarta misalnya, itu gawat sekali, sekarang kebutuhan 28 kubik tapi suplainya hanya 18, jadi defisit," kata Bambang.

Dampaknya penyedotan air tanah dilakukan sejumlah penduduk guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Air tanah dan sungai memiliki hubungan yang sangat erat. Mereka adalah satu kesatuan sistem tata air, mengabaikan salah satunya akan menimbulkan ketidakseimbangan.

Hal tersebut menginspirasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menawarkan solusi konsep terintegrasi pengelolaan serta rehabilitasi sungai, danau, dan waduk yang kotor.

Kepala Badan Pengembangan Instrumentasi (BPI) LIPI Anto Tri Sugiarto mengatakan, keadaan sungai dan danau di DKI Jakarta yang kotor dan penuh sampah sangat mengkhawatirkan.

Menurut Anto, sistem air kota Jakarta sebenarnya saling terintegrasi, antara air tanah, sungai, waduk, dan laut. Air tanah di Jakarta memiliki hubungan dengan 13 sungai yang ada, serta 55 danau serta waduk (DKI Jaya, 2014) yang terhubung dengan seluruh sistem sungai ini.

Nanobubble Generator menjadi teknologi di balik solusi dari LIPI. Prinsip kerja generator tersebut mirip seperti generator untuk akuarium ikan hias dengan mengeluarkan gelembung. Gelembung tersebut membawa oksigen untuk keberlangsungan hidup ikan namun oksigen yang terbawa akan pecah saat lepas di air.

Jika generator akuarium menghasilkan gelembung dalam ukuran makro, maka generator bernama Lutor (LIPI Ultrafine Bubble Generator) ini menghasilkan gelembung nano atau dalam ukuran yang lebih kecil. Gelembung-gelembung hasil dari Lutor dapat memasok oksigen di air dalam waktu yang lama karena tidak langsung pecah.

"Nantinya gelembung-gelembung halus ini untuk meningkatkan oksigen dalam air. Oksigen yang dibawa tidak akan terlepas selama dua bulan," jelas Anto.

Nanobubble akan memperbaiki estetika danau agar menjadi jernih, memperbaiki kualitas sedimen dalam danau, serta memperbaiki ekosistem biota air (tumbuhan air dan ikan-ikan) karena kadar oksigen di dalam air meningkat.

Dalam pengaplikasian pengolahan air limbah, teknologi gelembung dalam ukuran nanometer kombinasikan dengan penemuan LIPI lainnya, yaitu Ozone Generator. Gas ozon yang dihasilkan diinjeksikan ke dalam air dalam bentuk Nanobubble. "Ozon Nanobubble inilah yang mengurai senyawa polutan di air limbah," kata Anton, kepada Kompas.com (23/3).

Mesin Lutor termasuk dalam teknologi hijau karena dapat dioperasikan dengan panel surya. Satu mesin Lutor dapat digunakan untuk area seluas 15x15 meter dengan kedalaman air 2,5 meter.

Untuk pemasangan tidak mahal karena bentuknya yang seperti pompa air biasa dan kebutuhan daya listrik yang sama dengan pompa pada umumnya. Biaya pemasangan untuk kapasitas 5 meter kubik per jam berkisar dari Rp3 juta sampai Rp5 juta. Namun saat ini Lutor masih berbentuk purwarupa.

Teknologi Nanobubble sudah diterapkan di pantai Yokohama, Jepang, yang mampu menjernihkan air dalam waktu tiga tahun. Selain itu, Singapura juga pernah melakukan hal yang sama dan hanya membutuhkan waktu enam bulan. Hal ini tergantung pada seburuk apa kondisi danau atau waduk yang ingin dibersihkan.

Solusi kedua yang ditawarkan LIPI adalah mengombinasikan Nanobubble dengan integrated floating wetland. Berupa tanaman dalam wadah terapung dengan media seperti ijuk di pinggir sungai atau tengah danau.

Konsep ekoteknologi ini mampu mengembalikan bakteri pengurai untuk mengatasi pencemaran dengan menyaring sampah dan berbagai kotoran yang ada di sungai, dan membiarkan bakteri bekerja untuk membersihkan kotoran di dalam air.

Tanaman yang tumbuh di area tersebut mampu menyumbangkan oksigen yang bisa memunculkan kembali bakteri yang mampu menguraikan limbah yang ada di sungai atau perairan.

Anto meyakini bahwa kedua konsep penanggulangan pencemaran air di atas akan berhasil apabila didukung pemerintah dan masyarakat. "100 persen kami yakin, asalkan pemerintah sebagai regulator dan masyarakat mendukung penuh."

video nanobubble LIPI /gAAAdisTv
BACA JUGA