SATWA LANGKA

600 Spesies terancam belum masuk daftar punah

Nuri Kate berdada merah, ditemukan di Pulau Seram, Indonesia.
Nuri Kate berdada merah, ditemukan di Pulau Seram, Indonesia. | Charles Bergman /Shutterstock

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Conservation Biology menemukan, lebih dari 100 spesies yang saat ini diidentifikasi tidak terancam dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah, sebenarnya cenderung berisiko mengalami kepunahan.

Dipimpin oleh tim ilmuwan dari Radboud University di Belanda, temuan ini menekankan kebutuhan untuk penilaian ulang spesies-spesies hewan dalam Daftar Merah.

Menurut lembaga International Union for Conservation of Nature, ada lebih dari 26 ribu spesies kini berisiko punah. Tetapi penelitian baru dari Belanda itu menemukan bahwa jumlah tersebut mungkin sebenarnya bisa lebih tinggi. Ada 600 spesies yang sebelumnya tidak diperhitungkan memiliki populasi yang lebih rendah daripada yang disadari oleh banyak orang.

Studi menunjukkan, 20 persen dari 600 spesies sebelumnya yang tidak bisa dinilai statusnya oleh ilmuwan Daftar Merah, seperti burung rel band cokelat--endemik Filipina, dan tikus-rusa Williamson dari Thailand kemungkinan besar berada di ambang kepunahan.

Ada juga ratusan hewan yang sebelumnya dianggap aman, seperti nuri kate dada-merah dan tikus belang bergaris Ethiopia, sebenarnya cenderung terancam keberadannya.

"Ini menunjukkan penilaian kembali diperlukan atas status-status spesies hewan yang saat ini ada di dalam Daftar Merah," kata Luca Santini, seorang ahli ekologi di Radboud University yang memimpin penelitian.

Daftar Merah IUCN adalah daftar spesies hewan terancam di dunia yang diperbarui secara berkala. Spesies-spesies diklasifikasikan ke dalam lima kategori risiko kepunahan, mulai dari yang paling tidak memprihatinkan hingga yang terancam kepunahan. Klasifikasi ini didasarkan pada data seperti distribusi spesies, ukuran populasi, dan tren terkini.

Daftar ini adalah upaya kolaborasi di antara para peneliti sukarelawan yang mengamati dan menganalisis data-data tersebut. Setiap beberapa tahun sekali, para peneliti menilai status konservasi spesies hewan di dunia, yang kemudian dicatat dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN.

Daftar Merah IUCN berfungsi sebagai alat konservasi penting karena menunjukkan spesies mana yang paling berisiko dan menyoroti tren penurunan spesies.

"Meskipun proses ini sangat penting untuk konservasi, para ahli sering memiliki jumlah data yang terbatas untuk menerapkan kriteria pada lebih dari 90.000 spesies yang saat ini dicakup oleh Daftar Merah," kata Santini.

"Sering kali data ini berkualitas buruk karena sudah usang atau tidak akurat lagi sebab spesies tertentu yang hidup di daerah yang sangat terpencil belum diteliti dengan benar. Hal ini dapat menyebabkan spesies menjadi salah diklasifikasikan atau tidak dinilai sama sekali," tambahnya.

Oleh karena itu mereka mengusulkan metode yang efisien, sistematis dan komprehensif, yang menggunakan informasi dari peta tutupan lahan yang menunjukkan bagaimana distribusi spesies di dunia telah berubah dari waktu ke waktu.

Para peneliti dapat menggabungkan informasi ini dengan model statistik untuk memperkirakan sejumlah parameter tambahan. Parameternya seperti kemampuan spesies untuk bergerak melalui lanskap terfragmentasi, untuk mengklasifikasikan spesies ke dalam kategori risiko kepunahan Daftar Merah.

Metode dimaksudkan untuk menjadi pendamping metode penilaian lainnya Daftar Merah dan untuk menyediakan pembaruan secara real-time.

“Visi kami adalah bahwa metode baru ini akan segera diotomatisasi sehingga data diperbarui kembali setiap tahun dengan informasi tutupan lahan yang baru,” kata Santini.

“Dengan demikian, metode kami benar-benar dapat mempercepat proses dan menyediakan sistem peringatan dini dengan menunjuk secara spesifik pada spesies yang harus dinilai ulang dengan cepat.”

Harimau diprediksi punah 10 tahun lagi

Dalam pemberitaan terpisah, badan amal hewan bernama Born Free, meluncurkan petisi internasional untuk membantu menyelamatkan harimau. Mereka memprediksi spesies tersebut bisa punah dalam satu dekade mendatang.

Badan amal dari Inggris itu mengatakan kematian harimau telah sedemikian dramatis sehingga total 96 persen populasi harimau dunia telah menghilang dalam 100 tahun terakhir. Diyakini hanya tersisa setidaknya 4.000 ekor di dunia saat ini.

Alasan utama di balik penyusutan angka dianggap sebagai kombinasi perburuan liar dan perusakan habitat, yang mana keduanya merupakan ulah manusia. Menurut Born Free, 85 persen konflik antara manusia dan harimau terjadi ketika orang-orang mengganggu wilayah hewan buas itu dengan masuk ke dalam hutan.

Sekarang badan amal itu menyerukan kepada dunia untuk membantu menyelamatkan spesies itu, dengan bekerja bersama tujuh LSM India—sebagai rumah sebagian besar populasi harimau.

Tujuannya untuk mengatasi krisis perburuan liar sambil melindungi habitat harimau. Bersama-sama, mereka juga berharap untuk mempromosikan gagasan konservasi sehingga masyarakat dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara damai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR