9.600 Tanaman obat Indonesia belum dimanfaatkan dengan optimal

Ilustrasi tanaman obat
Ilustrasi tanaman obat | Sebastian Duda /Shutterstok

Lebih dari 90 ribu jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia, sebanyak 9.600 teridentifikasi sebagai tanaman obat potensial.

Sayangnya, sebagian besar tidak termanfaatkan dengan baik dan masih berupa tumbuhan liar di hutan maupun belum dibudidayakan akibat sejumlah kendala.

Hal tersebut terungkap lewat penelitian oleh Prof. Dr. Ir. Sandra Arifin Aziz, pakar ekofisiologi tanaman obat yang juga Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ekofisiologi adalah ilmu tentang respons fisiologis tanaman terhadap lingkungan.

Kendala mendasar potensi tanaman obat lokal tidak termanfaatkan, menurut dia, karena masyarakat maupun pemangku kebijakan di Indonesia masih kurang kesadaran dalam menghargai dan menjaga kekayaan hayati yang dimiliki Tanah Air.

Kendala lain, sambungnya, adalah ketersediaan bahan tanaman yang terbatas, serta teknologi pengolahan yang umumnya masih tradisional dan tidak higienis.

Lebih penting dari semuanya, saat ini belum tersedia Standard Operating Procedure (SOP) budidaya semisal teknik budidaya maupun penanganan pasca panen yang terstandar.

Terkait kendala SOP ini, Dr Sandra mengaku bahwa ia dan tim peneliti dari Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB telah terdorong meneliti ekofisiologi dan membuat SOP untuk beberapa tanaman obat terpenting di Indonesia yang belum banyak diketahui dan dikenal masyarakat.

Beberapa yang telah diteliti antara lain jambu biji, daun dewa, krokot belanda atau kolesom, pegagan, jintan atau bangun-bangun, cabe jawa, kemuning, dan buah kepel.

Lebih lanjut, Dr Sandra menekankan bahwa akibat dari serentetan kendala itu sama sekali tak main-main dan karenanya butuh perhatian lebih serius dari berbagai kalangan.

Pertama, kata dia, tanaman obat Indonesia yang tidak termanfaatkan bisa saja terancam diklaim oleh negara tetangga sebagai miliknya.

Kedua, ketiadaan SOP memunculkan kemungkinan terjadinya perubahan khasiat tanaman yang digunakan untuk pengobatan penyakit tertentu.

Dr Sandra menjelaskan, di samping jenis-jenis tumbuhan potensial Indonesia seperti bambu dan anggrek, sebanyak 50 persen spesies yang saat ini berada di hutan hujan tropis berpotensi dijadikan sumber tanaman dan bahan baku obat. Baik yang berasal dari tumbuhan di hutan alam atau tanaman budidaya.

"Berbagai formula terindikasi memiliki kegunaan untuk pengobatan atau sayuran fungsional," ujarnya dinukil CNN Indonesia.

Ia memaparkan bahwa tanaman obat sejatinya sangat berperan dalam menyediakan bahan baku terstandar yang bermutu dan berkelanjutan.

Pasalnya, setiap jenis tanaman obat memiliki keunikan, ciri khas dan khasiatnya masing-masing. Ada yang bisa dan tidak bisa mengatasi berbagai penyakit yang ditemukan semisal penyakit infeksius, non-ifeksius dan degeneratif. Sebab kekhasan itu, maka tindakan ekofisiologi yang dilakukan pun akan berbeda dan karenanya SOP budidaya pada berbagai tanaman obat bakal diperlukan.

SOP, terang Dr Sandra, sangat berpengaruh terhadap kadar bahan bioaktif yang terdapat di dalamnya.

“Ini sangat berguna bagi suatu perusahaan jamu atau obat-obatan alami, ketika kadar bahan bioaktifnya berbeda maka jumlah bobot tanaman yang dibutuhkan akan berbeda,” ujarnya.

Ia menerangkan bahwa antara bahan baku obat dan bahan pangan memiliki standardisasi berbeda. Pada pangan fungsional, tingkat kadar bahan bioaktif harus disesuaikan dengan rasa enak atau lezat yang bisa diterima oleh lidah manusia.

Biasanya, Bahan bioaktif berkadar tinggi terkait dengan rasa tidak enak. Sebaliknya, dalam bahan baku obat, kadar bioaktif tinggi justru sangat dibutuhkan untuk menangkal penyakit dan memperlihatkan efektivitasnya.

“Produksi bahan bioaktif dapat kita tingkatkan melalui peningkatan biomassa bagian tanaman yang dipanen dan kadar bahan bioaktif dengan memperhatikan ekofisiologi dari tanaman itu sendiri,” tulisnya dalam rilis resmi laman IPB.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR