KEBAKARAN HUTAN

Aerosol tinggi penyebab warna merah langit Jambi

Petugas SAR Direktorat Sabhara Polda Jambi memadamkan kebakaran lahan gambut milik salah satu perusahaan di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Rabu (11/9/2019). Asap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di beberapa kota/kabupaten setempat terganggu.
Petugas SAR Direktorat Sabhara Polda Jambi memadamkan kebakaran lahan gambut milik salah satu perusahaan di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Rabu (11/9/2019). Asap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di beberapa kota/kabupaten setempat terganggu. | Wahdi Septiawan /Antara Foto

Ada fenomena tak biasa di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, sepanjang Sabtu (21/9/2019) siang sampai sore kemarin. Tak seperti di banyak daerah lain yang memiliki warna cerah pada waktu-waktu tersebut, di sekitar Mauro Jambi saat itu justru langit berkelir merah gelap.

Fenomena tersebut, menurut Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, merupakan peristiwa yang biasa disebut mie scattering atau hamburan cahaya.

Lantas, apa itu mie scattering? Mudahnya, mie scattering adalah hamburan sinar matahari yang lajunya terhalang oleh partikel mengapung di udara dengan ukuran kecil (aerosol).

"Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer (ukurannya) sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," ucap Siswanto kepada wartawan, Minggu (22/9), seperti yang dikutip dari detikcom.

Sedangkan partikel yang menghalangi itu, kuat dugaan, adalah abu dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah sekitar Jambi. Memang, akhir-akhir ini polusi akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah di Indonesia sudah parah.

Dan, jika melihat dari pemaparan Siswanto, polutan akibat kebakaran hutan di Jambi dan sekitarnya sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, ukuran polutan di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru sudah berada di bawah 10 mikrometer.

Untuk membuat langit menjadi sangat merah dibutuhkan ukuran partikel yang lebih kecil lagi. Sedangkan pada tanggal 21 kemarin, menurut Siswanto, ukuran partikel di daerah Jambi mayoritas mencapai 0,7 mikrometer dengan tingkat konsentrasi sangat tinggi.

"Langit yang berubah merah berarti debu polutan di daerah itu dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. Selain itu sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah," ucap Siswanto.

Lebih lanjut, dia mengatakan, berdasarkan pantauan satelit Himawari-8 tertanggal 21 September, di sekitar Muaro Jambi terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal. Asap tersebut juga dialami wilayah lain yang tampak berwarna cokelat.

"Asap dari karhutla ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran, wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat. Namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal," katanya.

Hal ini diamini oleh Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo Soetarno. Hingga Minggu (22/9) pagi, ada 430 hotspot di sekitar Jambi dengan validitas di atas 80 persen.

"Jadi di sana memang banyak titik api," ucap Agus kepada wartawan, seperti yang dilansir CNN Indonesia. "Ukuran partikel polutan asap yang menyebabkan sinar matahari memancarkan warna oranye-merah."

Warna-warni akibat aerosol

Anda mungkin akan senang dengan penampilan senja yang berwarna kemerahan di tengah kepungan gedung di kota-kota besar, macam Jakarta. Mungkin, Anda akan menilai bahwa itu adalah warna yang romantis; atau yang lainnya mengatakan menetramkan.

Namun, sebenarnya kondisi itu tidaklah baik. Pasalnya, warna merah yang terjadi pada senja di kota-kota besar membuktikan bahwa polusi di sana sangat tinggi. Mengapa demikian?

Untuk mengetahui hal itu, ada baiknya mengetahui proses warna-warni di langit. Pada saat siang hari, saat Matahari berada di atas kepala, maka perjalanan sinarnya akan lebih pendek sampai ke Anda.

Artinya, tidak banyak molekul udara yang menghalangi laju sinar. Itulah mengapa warna langit di siang hari akan nampak biru terang.

Namun, saat matahari bergerak menjauh menuju cakrawala, cahaya harus menempuh jalur yang semakin jauh. Hal ini membuat sinar matahari semakin tersebar dan terhalang oleh molekul udara yang lebih banyak.

Menurut Stephen Corfidi, seorang ahli meteorologi di National Oceanic & Atmospheric Administration (NOAA), sinar matahari telah dihamburkan oleh sejumlah partikel yang berada di udara.

"Yang tersisa adalah warna hangat kuning atau oranye," ucapnya, seperti yang dikutip dari Scientific American. Kuning atau oranye memang warna alami dari sinar matahari di sore hari. Itu dengan catatan, jumlah molekul di udara berada di ambang normal.

Jika molekul di udara semakin padat, maka warna langit akan menjadi merah. Oleh karena itulah, Craig Bohren, profesor emeritus meteorologi di Pennsylvania State University, Pennsylvania, AS, membuat pernyataan satir.

"Dalam suasana tanpa molekul yang padat, Anda tidak akan pernah mendapatkan Matahari terbenam yang akan membuat seseorang dengan penglihatan warna normal berkata, 'Wow itu merah!'" kata Bohren.

Untuk bisa mendapatkan warna merah, cahaya membutuhkan aerosol. Lalu, apa aerosol itu?

Aerosol adalah partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara yang berasal dari proses alami atau aktivitas manusia. Aerosol alami berasal dari kebakaran hutan, debu mineral yang ditimbulkan oleh badai pasir, semburan laut, dan letusan gunung berapi.

Namun, di kota besar, Anda jangan berharap bahwa ada aerosol alami. Yang ada adalah, molekul yang berasal dari asap kendaraan bermotor atau polusi akibat kerja produksi pabrik.

Maka, jika Anda melihat senja berwarna merah di kota besar, jangan senang dulu dengan kesyahduannya. Itu bisa jadi merupakan pertanda tidak baik, karena kota Anda penuh dengan polusi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR