REHABILITASI SATWA

Akhir ''petualangan'' Bonita dan tumor di tubuhnya

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno (kedua kanan) menjelaskan kronologis pencarian hingga proses evakuasi Harimau Sumatra bernama Bonita di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, di Pekanbaru, Riau, Sabtu (21/4).
Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno (kedua kanan) menjelaskan kronologis pencarian hingga proses evakuasi Harimau Sumatra bernama Bonita di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, di Pekanbaru, Riau, Sabtu (21/4). | Rony Muharrman /Antara Foto

Bonita, harimau sumatra betina yang berkeliaran setahun terakhir di sekitar kebun sawit PT Tabung Haji Indo Plantations (THIP), Riau, akhirnya berhasil ditangkap pada pekan lalu (20/4/2018). Dilansir Mongabay, Minggu (22/4), Bonita ditangkap dengan tembakan bius pada hari ke-108 operasi pencariannya.

Bonita langsung dibawa ke Pusat Rehabilitasi Satwa wilayah Sumatra di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. Tim medis mencurigai ada sesuatu yang tidak beres dengan perilaku harimau betina yang di luar kebiasaan itu dalam empat bulan terakhir.

Dari hasil pemeriksaan, seperti dijelaskan Liputan6.com (23/4), Bonita diketahui mengidap tumor di bagian sisi kanan perutnya. Tumor itu berdiameter empat sentimeter dan berhasil diangkat dari perut Bonita setelah menjalani operasi selama dua jam.

"Jadi waktu Bonita sampai di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra, tim medis melakukan observasi. Saat itu ditemukan benjolan di perut Bonita," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, kepada detikcom.

Ia menjelaskan tumor yang berada di balik kulit harimau betina tersebut semacam benjolan lemak. Secara umum tumor tersebut tidak terlalu berpengaruh pada kesehatan dan sifat Bonita, namun perlu diangkat lantaran Bonita terlihat tidak nyaman.

Namun begitu, menurut dokter hewan Andita Septiandini dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo yang membantu BBKSDA menangkap Bonita, tumor di tubuh sang harimau ternyata lebih dari satu.

Sementara, kondisi Bonita saat ini disebut dalam keadaan baik. Persoalannya, ujar Suharyono, Bonita juga mengidap obesitas alias kegemukan. Sebelum diketahui beratnya, dibutuhkan lima orang untuk mengangkat tubuhnya.

Berat badan Bonita yang berumur 5 tahun disebut-sebut tak normal. Seharusnya berbobot 50-60 kg, berat tubuh Bonita kini lebih dari 82 kg. "Hasil penilaian tim medis, kondisi tubuh Bonita termasuk bongsor alias obesitas," pungkasnya.

Bonita merupakan harimau betina yang sempat terlibat dalam konflik antara liar Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dengan manusia di Riau. Dalam konflik itu, dua orang meninggal, Jumiati dan Yusri Effendi.

Mengapa Bonita mengamuk

Hutan yang seharusnya menjadi tempat tinggal harimau Sumatra kini telah berubah menjadi perkebunan sawit atau hutan tanaman industri. Harimau tak lagi bebas mencari mangsa lantaran jalurnya terputus sehingga tidak heran mereka masuk ke permukiman ataupun perkebunan.

Menurut Direktur Jenderal Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, harimau tidak akan pernah mengganggu manusia.

Bila ada serangan oleh harimau, Wiratno menyebut ada dua hal. Pertama; karena habitatnya terganggu dan kedua; karena keluarga atau anaknya diusik manusia.

Bonita mengamuk selama empat bulan terakhir karena diduga anaknya yang masih menyusui hilang di areal hutan Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Naluri keibuan harimau berjuluk Datuk Belang ini masuk ke permukiman dan perkebunan sawit untuk mencari buah hatinya dan bisa jadi ia mencari orang yang telah "mencuri" anaknya.

Dugaan Bonita sebagai induk harimau dilihat dari bentuk fisik pada bagian perut yang sudah diperiksa tim medis di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra (PRHS) Dharmasraya, Sumatra Barat. "Kemungkinan dia sudah punya anak, iya," kata Suharyono.

Kemudian Andita memeriksa alat reproduksi Bonita dan bagian susunya. Didapati ciri-ciri bahwa Bonita pernah melahirkan dan menyusui. Untuk memastikan, Dita merasa perlu melakukan Ultrasonografi atau USG.

"Sepertinya belum lama memiliki anak, dilihat dari alat reproduksi dan putingnya. Kemungkinan baru ya, belum kesimpulan karena perlu USG," terang Suharyono.

Lebih lanjut Wiratno menyebutkan bahwa populasi harimau sumatra saat ini hanya tersisa sekitar 400 ekor. Mereka menyebar ke Taman Nasional Ulu Masen hingga ke Swaka Margasatwa Kerumutan, Rimbang Baling, Bukit Tiga Puluh, hingga Lampung.

Harimau Sumatra merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup, tetapi keberadaannya terus terancam akibat perubahan fungsi hutan di Sumatra. Hutan di Sumatra, khususnya Riau, banyak beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

"Harimau itu top predator, harus ada siklus makanannya. Indikasi pakan menentukan populasi harimau. Kita sekarang ada perubahan (fungsi hutan) besar-besaran di Sumatra," kata Wiratno.

Objek penelitian pertama di Indonesia

Ilustrasi harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)
Ilustrasi harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) | Fully Handoko /EPA

Selanjutnya, Bonita akan menjalani proses rehabilitasi dan observasi di lokasi Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra di bawah naungan Yayasan Arsari Djojohadikusumo di Dharmasraya Sumatra.

Catrini Praihari Kubontubuh selaku Direktur Eksekutif yayasan tersebut mengungkapkan rasa terima kasihnya atas amanah dan kepercayaan yang diberikan untuk merawat Bonita.

Dipaparkan perempuan yang akrab disapa Ari ini, Yayasan Arsari Djojohadikusumo memang fokus menangani Harimau Sumatra. Mereka juga menggarap persoalan hewan-hewan endemik Sumatra lain, seperti beruang dan rusa--terutama yang terlibat konflik dengan manusia.

Ari mengatakan, perubahan perilaku Bonita memang berbeda dengan harimau Sumatra pada umumnya. Ia seperti tidak takut pada manusia dan berani keluar pada siang hari.

Anehnya, Bonita jarang mengaum, terutama selama perjalanan dievakuasi atau saat transit di Rengat sebelum dibawa ke Dharmasraya.

"Dia hanya sekali mengaum, itu pun tidak keras. Beda sama harimau lainnya. Disenter atau diberi cahaya juga tidak ada reaksi. Dia malah asyik menjilat-jilat kakinya. Dia seperti merasa nyaman," lanjut Ari.

Terkait keanehan dan perubahan perilaku Bonita ini dinyatakan Ari, bisa menjadi sebuah kesempatan penelitian. Karena menurut dia, kasus perubahan perilaku harimau seperti ini baru ada dua di dunia; harimau Siberia di Rusia dan harimau Bengal di India.

Jadi, Bonita adalah kasus pertama di Indonesia atau ketiga di dunia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR