BUDAYA DIGITAL

Aktivitas selfie yang mematikan

Ilustrasi mengambil swafoto di atas tebing
Ilustrasi mengambil swafoto di atas tebing | lzf /Shutterstock

Mengabadikan momen dengan swafoto memang menyenangkan, tetapi hati-hati kebiasaan tersebut bisa berujung maut.

Ada kabar cukup mengkhawatirkan dengan kebiasaan berswafoto. Setidaknya ada ratusan orang di seluruh dunia telah meninggal dalam enam tahun terakhir akibat mengambil swafoto, seperti yang diujarkan sebuah studi baru dari India.

Para peneliti yang bekerja sama dengan All India Institute of Medical Sciences, sekelompok perguruan tinggi medis publik yang berbasis di New Delhi, menemukan bahwa ada 259 kasus kematian yang berhubungan dengan swafoto dari periode Oktober 2011 hingga November 2017 dengan rata-rata 43 orang tiap tahun meninggal akibat aktivitas tersebut.

Para peneliti menulis dalam makalah yang diterbitkan oleh Journal of Family Medicine dan Primary Care edisi Juli-Agustus bahwa tempat yang mematikan untuk mengambil swafoto adalah di air.

Menurut penelitian, telah ada setidaknya 70 kematian swafoto dalam 32 insiden karena tenggelam selama periode 6 tahun.

Insiden mematikan termasuk pelaku yang hanyut oleh ombak, mengabaikan peringatan keselamatan di pantai dan di kapal yang terbalik saat mendayung.

Penyebab lain atas kematian akibat swafoto adalah insiden yang melibatkan transportasi, seperti mengambil swafoto berkaitan dengan moda transportasi yang sedang melaju. Kemudian, tak sedikit korban jatuh dari ketinggian karena asik berswafoto.

Penelitian menyebutkan ada 51 kematian terkait dengan kendaraan. Mayoritas dari 51 orang yang kematiannya akibat moda transportasi, yaitu tewas dalam insiden berkaitan dengan kereta api yang sedang bergerak.

Jumlah kematian lebih tinggi dari insiden fatal melibatkan swafoto akibat tenggelam, meskipun jumlah keseluruhan korban tewas lebih rendah.

Sementara itu, akibat lainnya seperti delapan insiden melibatkan hewan, 16 sengatan listrik, dan 11 terkait senjata api.

Informasi lain dari penelitian mengungkapkan bahwa hampir tiga perempat dari kematian yang berhubungan dengan swafoto adalah laki-laki berumur 20 sampai 29 tahun. Meskipun penelitian telah menemukan bahwa perempuan lebih narsis daripada laki-laki, tetapi kaum adam cenderung berani mengambil risiko untuk mengambil foto yang sempurna.

“Kematian akibat swafoto telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar,” kata Agam Bansal, penulis utama studi tersebut, kepada The Washington Post (3/10). Lebih dari 85 persen korban berusia antara 10 dan 30 tahun katanya.

India ditemukan memiliki jumlah kematian terkait swafoto tertinggi. Hal ini kemungkinan karena negara tersebut memiliki populasi generasi muda yang melimpah. Kemudian, Rusia, Amerika Serikat, dan Pakistan berada pada posisi berikutnya.

"Jika Anda hanya berdiri, hanya mengambil swafoto dengan selebritas atau suatu objek, kegiatan itu tidak berbahaya," kata Bansel. "Tapi jika swafoto itu disertai dengan perilaku berisiko maka itulah yang membuat swafoto berbahaya."

"Yang paling mengkhawatirkan saya adalah swafoto sebenarnya penyebab kematian yang dapat dicegah," lanjutnya. “Mengambil banyak swafoto hanya karena Anda ingin hasil yang sempurna karena Anda ingin banyak yang menyukainya, membagikannya di Facebook, Twitter, atau media sosial lainnya, saya rasa kegiatan ini tidak sampai perlu mengorbankan kehidupan.”

Bansal mengatakan, salah satu cara untuk mencegah kematian adalah dengan memberlakukan "zona bebas swafoto" di dekat puncak gunung, gedung tinggi, dan air.

Dalam upaya untuk mengatasi masalah ini, sejumlah lokasi wisata di India telah mulai memberlakukan zona tanpa swafoto. Di kota Mumbai India. misalnya, dilansir dari The Guardian (25/2/2016), 16 tempat wisata telah melarang swafoto. Salah satunya adanya tanda-tanda larangan bermunculan di tebing dan pantai di negara bagian India, Goa, yang menarik jutaan wisatawan setiap tahun.

Sementara itu di Gunung Merapi , Indonesia, menurut unggahan di The Jakarta Post (18/6/2015), pejabat setempat sempat berujar mempersiapkan "tempat swafoto yang aman".

Langkah ini ditujukan bagi pengunjung dalam upaya untuk mengurangi kemungkinan orang mempertaruhkan hidupnya dengan mengambil foto diri di titik-titik rawan di gunung.

“Sangat mudah untuk mengabaikan semua perilaku berisiko semacam ini karena terkadang kita berpikir risiko kematian tidak mungkin terjadi, seperti 'Saya hanya akan mengambil gambar selama lima detik dan tidak apa-apa mengambil risiko tersebut,'” kata Mohit Jain, seorang ahli bedah ortopedi yang tidak terlibat dalam penelitian.

"Namun, ketika orang benar-benar membaca di surat kabar bahwa hampir lebih dari 150 atau 200 orang meninggal dalam beberapa tahun terakhir, maka mereka akan menyadari, 'Oke, saya tidak perlu mengambil risiko sebesar ini hanya untuk mengambil satu gambar.' ”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR