MEDIA SOSIAL

Akun Facebook dan Instagram pengguna di bawah 13 tahun bakal ditutup paksa

Ikon Facebook dan Instagram di sebuah ponsel.
Ikon Facebook dan Instagram di sebuah ponsel. | Ivan /Beritagar.id

Facebook bersama anak perusahaannya, Instagram, akan lebih proaktif menindak dan mengunci akun pengguna yang masih berumur di bawah 13 tahun. Ini kebetulan aturan main Facebook sejak diluncurkan ke publik pada 2006 bahwa pengguna harus berusia minimal 13 tahun saat membuat akun.

Semula, kebijakan kedua media sosial ini hanya sebatas menyelidiki laporan yang menyebut ada pengguna di bawah umur dalam platform-nya. Namun, menurut laporan terbaru yang dilansir Daily Mail, Jumat (20/7/2018), Facebook mulai mengubah kebijakan peninjauan akun per pekan ini.

Moderator yang bekerja untuk platform daring kini memiliki kemampuan untuk proaktif mengunci akun yang mereka curigai dimiliki pengguna di bawah 13 tahun. Para pengguna yang merasa akunnya diblokir akan diminta membuktikan usia mereka dengan ID foto yang dikeluarkan resmi oleh pemerintah setempat.

Hingga saat ini, para moderator hanya akan menyelidiki akun jika ada laporan khusus dari pengguna Facebook dan Instagram lainnya.

Perubahan operasional ini dilakukan sebagai tanggapan terhadap laporan dokumenter rahasia oleh Channel 4 dan Firecrest di AS. Dalam konten dokumenter itu terlihat seorang jurnalis yang menjadi pengampu atau reviewer konten Facebook melalui perusahaan pihak ketiga yang disebut CPL Resources di Dublin, Irlandia.

Dalam wawancaranya, pengampu ini mengaku tak berbuat apa-apa saat menemui pengguna berusia di bawah 13 tahun. "Kami harus memiliki bukti bahwa pengguna tersebut di bawah umur, kalau tidak, kami berpura-pura buta dan tidak tahu bahwa pengguna tersebut di bawah 13 tahun," tuturnya kepada Tech Crunch.

Laporan itu juga menguraikan bagaimana beberapa kelompok politik sayap kanan tunduk pada ambang batas untuk penghapusan jika mereka mengunggah konten atau ujaran kebencian yang melanggar kebijakan Facebook.

"Kami menganggap kesalahan-kesalahan ini sangat serius dan berterima kasih kepada para wartawan yang mengungkap kasus ini. Kami telah menyelidiki apa yang terjadi sehingga kami dapat mencegah masalah ini terjadi lagi," kata juru bicara Facebook dalam FB Newsroom pekan lalu.

"Kami akan mengharuskan semua pengampu di Dublin untuk menjalani sesi pelatihan ulang dan bersiap untuk melakukan hal yang sama secara global. Kami juga akan meninjau pertanyaan kebijakan dan tindakan penegakan yang dilontarkan oleh reporter dan memperbaiki kesalahan yang kami temukan," lanjutnya.

Meskipun demikian, ini belum tentu semua akun di bawah umur akan dimatikan atau Facebook akan memperluas perburuan pengguna di bawah umur. Yang jelas, para pengampu tidak boleh lagi abai dan pura-pura buta saat menemukan adanya pengguna di bawah 13 tahun yang terjaring karena laporan dalam bentuk apapun.

Menurut Digital Trends, usia minimal 13 tahun merupakan aturan yang diharuskan oleh Undang-Undang Perlindungan Privasi Online di AS. Perusahaan digital harus memiliki izin orang tua sebelum mengumpulkan data tentang anak-anak.

Pada November 2017, sebuah laporan Ofcom menyebutkan setengah dari anak-anak berusia 12 tahun dan lebih dari seperempat anak-anak berusia 10 tahun memiliki profil media sosial masing-masing. Di AS, sebuah studi yang dilakukan oleh Consumer Reports menemukan bahwa sekitar 7,5 juta pengguna Facebook berusia di bawah 13 tahun.

Kebijakan terbaru ini berbanding terbalik dengan upaya Facebook yang sengaja berusaha menarik pengguna di bawah umur melalui aplikasi Messenger Kids. Lewat aplikasi ini anak-anak berusia 6-12 tahun dapat berbincang dengan orang-orang yang telah disetujui oleh orang tua masing-masing.

Sementara pada Januari 2018, sebuah pengawas memperingatkan Facebook, Twitter, dan Snapchat untuk memperketat kontrol usia pengguna dan menekan jumlah pengguna di bawah umur.

Kantor Komisi Informasi (ICO) pun bergerak setelah mengetahui bahwa platform media sosial membiarkan jutaan anak Inggris masuk ke sana sebelum berusia 13 tahun.

Pedoman ICO menyatakan bahwa raksasa media sosial harus memeriksa apakah mereka menempatkan anak-anak pada risiko ---dengan menampilkan iklan anak di bawah umur untuk alkohol atau perjudian, misalnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR